Misi DART NASA, Tabrak Pesawat ke Asteroid Demi Amankan Bumi

CNN Indonesia | Jumat, 26/06/2020 15:41 WIB
meteorite from outer space, falling toward planet Earth, dramatic science fiction scene Ilustrasi asteroid ancam bumi. (iStockphoto/dottedhippo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Antariksa Amerika (NASA) memiliki misi khusus untuk mengamankan umat manusia di Bumi dari ancaman asteroid yang dinilai berbahaya. Misi khusus ini diberi nama DART (Double Asteroid Redirection Test).

Misi DART telah diuji coba pada Selasa (23/6) waktu setempat. Mereka sengaja menabrakkan pesawat ke dua asteroid yang berukuran besar dan kecil. Dua asteroid ini disebut 'Didymos'.

Setelah ditabrak, keduanya berubah menjadi batuan bulan yang lebih kecil dan diberi nama Dimorpohos. Misi DART bentukan NASA juga berkolaborasi dengan badan antariksa dari negara lain.


Misi DART adalah sebuah demonstrasi teknologi penabrak kinetik NASA untuk mempengaruhi asteroid yang disesuaikan dengan kecepatan dan jalurnya. Misi ini dijadwalkan akan dilakukan pada 22 Juli 2021.

Target DART adalah sistem asteroid biner Didymos yang artinya 'kembar' atau 'ganda' dalam bahasa Yunani. Didymos dinilai sebagai kandidat ideal untuk eksperimen pertahanan planet pertama manusia.

Kendati demikian, Didymos tidak berada di jalur untuk bertabrakan dengan Bumi, seperti dilansir laman resmi DART.

Sistem Didymos terdiri dari dua asteroid yaitu asteroid berukuran besar dengan ukuran diameter 780 meter yang disebut Didymos A dan Didymos B berukuran lebih kecil dengan diameter 160 meter.

Karena Didymos adalah asteroid biner, artinya Didymos B melewati Didymos A ketika mengorbit asteroid yang lebih besar. Akibatnya, teleskop dapat mengukur variasi reguler dalam kecerahan sistem Didymos gabungan untuk menentukan orbit Didymos B.

Setelah itu, para anggota misi DART bakal mempelajari lebih lanjut dampak perubahan orbit Didymos B sebelum dan setelah ditabrak pesawat.

Didymos sendiri masih berada sekitar 11 juta kilometer dari Bumi namun para mitra NASA telah mempersiapkan teleskop mereka untuk menentukan efek dari misi DART ini.

Para ilmuwan sejauh ini memprediksi bahwa impuls energi yang diberikan DART ke sistem asteroid biner Didymos rendah dan tidak mengganggu asteroid itu.

DART dikembangkan dan dipimpin oleh NASA's Planetary Defense Coordination (Kantor Koordinasi Pertahanan Planetis NASA) bersama Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory (Laboratorium Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins).

Ada lembaga antariksa negara lain yang ikut berpartisipasi dalam misi ini seperti Badan Antariksa Italia (Agenzia Spaziale Italiana/ASI).

Badan Antariksa Eropa Bertugas Selidiki Dampak Misi DART

Tiga tahun setelah misi DART diluncurkan, Badan Antariksa Eropa (Europe Space Agency/ESA) bakal meluncurkan misi Hera pada 2024. Misi ini merupakan program kegiatan keselamatan dan keamanan Bumi buatan ESA.

Setelah diluncurkan pada 2024, misi Hera akan bertemu dengan sistem Didymos pada 2026 yang sebelumnya telah ditabrak pesawat NASA untuk misi DART.

Selama misi berlangsung, pesawat ruang angkasa utama dan dua kubus akan berdampingan melakukan survei ke dua asteroid. Fokusnya adalah pada kawah yang ditinggalkan oleh tabrakan DART dan menyelidiki secara rinci Didymos B.

Hera secara substansial akan meningkatkan pengetahuan pertahanan planet yang diperoleh dari tes defleksi asteroid DART.

Baik anggota tim DART, Hera, dan ASI serta peneliti lain di seluruh dunia adalah bagian dari kolaborasi internasional yang dikenal sebagai AIDA (Asteroid Impact and Deflection Assessment).

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]