Facebook Hadapi Tudingan Sarang Hoaks hingga Iklan Diboikot

CNN Indonesia | Senin, 29/06/2020 09:16 WIB
Logo baru facebook Logo Facebook. (Foto: Facebook)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah perusahaan saat ini ramai-ramai memutuskan untuk tidak memasang iklan di Facebook karena dinilai perusahaan media sosial raksasa dunia itu gagal mengatasi konten bernada ujaran kebencian dan berisi berita palsu hoaks.

Menurut data internal Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) tahun 2018, platfrom media sosial populer itu paling sering digunakan untuk menyebar hoaks.

Pernyataan itu dilontarkan oleh Penasihat Mafindo, Anita Wahid dalam diskusi PPMI terkait hoaks pada 30 September 2018.


"(Terkait) cara menyalurkan hoaks, tiga paling banyak melalui Facebook 110 hoaks, Twitter 28 hoaks, dan WhatsApp 27 hoaks. Sedangkan yang menggunakan media online tercatat hanya empat hoaks dan tidak satu pun memakai media cetak," kata Anita.

Kala itu Mafindo mengamati peredaran hoaks khususnya di Indonesia sejak Juli hingga September 2018. Berita-berita palsu tersebut mengangkat isu politik, agama, penipuan, kesehatan, bencana alam, lalu lintas, peristiwa ajaib, bisnis, etnis, dan lainnya.

Pada 2016 silam pun Facebook sempat dituding ikut bertanggung jawab atas terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

Saat Pemilu Presiden AS tahun 2016, memang banyak laporan-laporan palsu terkait Donald Trump dan Hillary Clinton yang sering viral di berbagai media sosial, terutama Facebook.

Namun pendiri Facebook Mark Zuckerberg buru-buru membantah klaim tersebut.

"Secara pribadi, saya rasa teori bahwa berita palsu di Facebook -yang jumlahnya sedikit- mempengaruhi pemilihan adalah ide yang cukup gila," kata dia.

Belum ada ujung dari kabar tersebut kini Facebook menghadapi prahara boikot iklan di media jejarinya oleh sejumlah perusahaan ternama di dunia.

Setidaknya ada 12 perusahaan besar yang melakukan aksi boikot Facebook, beberapa di antaranya adalah Unilever, rumah produksi Pictures, Coca Cola, produsen perlengkapan outdoor The North Face, dan yang paling baru adalah Honda.

Lalu ada Arc'teryx, Ben & Jerry's, Dashlane, Eddie Bauer, Eileen Fisher, Patagonia, REI, Upwork dan Verizon.

Unilever menyatakan akan menarik iklan dan akan memboikot iklan mereka dari Facebook sampai akhir 2020.

Sementara itu The North Face menyatakan ikut memboikot Facebook melalui akun Twitter resmi mereka.

"Kami bergabung. Kami keluar dari @Facebook #StopHateForProfit," cuit The North Face dikutip dari CNN.

Sedangkan Coca Cola memutuskan untuk menangguhkan iklan di media sosial termasuk Facebook selama 30 hari.

"Tidak ada tempat untuk rasisme di dunia dan tidak ada tempat untuk rasisme di media sosial," papar James Quincey, CEO The Coca-Cola Company.

Tak ketinggalan perusahaan otomotif Honda juga turut memboikot Facebook dengan alasan yang sama yaitu Facebook dinilai gagal mengatasi ujaran kebencian.

"Pada Juli, American Honda akan menarik iklannya di Facebook dan Instagram, memilih untuk berdiri dengan orang-orang yang bersatu melawan kebencian dan rasisme. Ini sejalan dengan nilai-nilai perusahaan kami, yang didasarkan pada rasa hormat manusia," tulis pernyataan resmi Honda.

Akibat aksi boikot ramai-ramai tersebut, kekayaan pendiri Facebook yakni Mark Zuckerberg merosot tajam sampai US$7,2 miliar atau setara dengan Rp102,7 triliun.

Facebook vs Karyawan

Salah satu kasus ujaran kebencian yang baru-baru ini terjadi adalah saat Mark Zuckerberg membiarkan postingan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai sebagian karyawannya melanggar kebijakan 'glorification of violence' awal Juni 2020 lalu.

Bahkan sejumlah karyawan Facebook yang sebagian besar masih bekerja dari rumah memutuskan untuk mengambil cuti dan menyampaikan hendak keluar melakukan aksi mogok kerja.

Belakangan dilaporkan bahwa Zuckerberg telah berbicara dengan Trump di telepon sebelum mengumumkan keputusan tersebut.

Dua hari kemudian, Zuckerberg mengumumkan bahwa Facebook akan memberikan donasi US$10 juta kepada kelompok yang bekerja pada keadilan rasial. Namun langkah itu tampaknya tidak mempengaruhi keputusan karyawan untuk melakukan aksi.

"Kami menyadari rasa sakit yang dirasakan banyak orang saat ini, terutama komunitas kulit hitam. Kami mendorong karyawan untuk berbicara secara terbuka ketika mereka tidak setuju dengan kepemimpinan. Saat kami menghadapi keputusan sulit tambahan seputar konten di depan, kami akan terus mencari masukan jujur mereka," kata juru bicara Facebook dalam sebuah pernyataan.

Konflik antara karyawan Facebook dengan Zuckerberg bukan pertama kali terjadi. Pada musim gugur lalu, karyawan Facebook secara terbuka mengkritik keputusannya untuk mengizinkan politisi berbohong dalam iklan.

(din/mik)

[Gambas:Video CNN]