TikTok dan Aplikasi Ponsel Pemicu Konflik Dunia Tekan China

CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 11:24 WIB
Aplikasi Tik Tok Ilustrasi TikTok. (Diolah dari Istockphoto/Elena Feodrina)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aplikasi ponsel pintar di era digital tak hanya sekadar digunakan untuk kebutuhan manusia, namun juga dijadikan sebuah senjata dalam konflik antar negara. Khususnya dalam kasus ini adalah menekan posisi China di dunia Internasional.

Negara yang berkonflik saling memblokir aplikasi satu sama lain dengan alasan keamanan data dan privasi. Contoh terbaru adalah India memblokir 59 aplikasi buatan China sebagai buntut konflik di perbatasan Himalaya antara dua negara.

Aplikasi China yang dilarang India termasuk aplikasi populer seperti TikTok, Bigo, Hago, hingga Mobile Legends. TikTok yang dimiliki oleh ByteDance dilaporkan telah diunduh sebanyak 600 juta kali di India.


Dengan melarang aplikasi, India menambah dorongan global sektor teknologi China dengan cara memanfaatkan pengguna aplikasi agar terlibat ke dalam konflik.

Kejadian pemblokiran aplikasi China bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, Amerika Serikat juga memberlakukan pembatasan perdagangan pada perusahaan teknologi dan investasi China sebagai buntut perang dagang. Salah satunya termasuk pelarangan pengadaan alat 5G dari China.

Imbasnya, perusahaan teknologi asal AS dilarang menjual teknologi dan software mereka pada perusahaan China itu. Akibatnya, Huawei tak bisa membeli perangkat keras dari pemasok seperti Intel, Micron, atau Qualcomm.

Tak hanya perangkat keras, dari sisi software Amerika juga mencabut lisensi aplikasi dan layanan Google untuk Huawei. Perusahaan tak akan lagi bisa menggunakan sistem operasi Android akibat pencabutan ini.

Dari sisi perangkat lunak, Huawei telah meluncurkan sistem operasi Hongmeng atau HarmonyOS yang disebut-sebut akan menggantikan peran Android milik Google.

Dilansir dari Wired, Kamis (2/7), pemblokiran juga membuat negara sekutu Amerika seperti Australia dan Jepang memblokir Huawei untuk menyediakan peralatan jaringan 5G.

Anggota parlemen AS menuduh TikTok terlalu dekat dengan pemerintah Cina. Tak hanya itu, regulator juga menyelidiki akuisisi TikTok atas aplikasi sosial AS Musical.ly.

Di luar China, Rusia telah menekan aplikasi termasuk LinkedIn, sementara pihak berwenang Brasil telah memblokir sementara WhatsApp untuk sementara waktu.

Meskipun perusahaan internet China memiliki daya tarik yang relatif kecil di AS atau Eropa, mereka telah sangat sukses di pasar internet besar di India. Sebagai informasi, India  mewakili lebih dari sepertiga populasi online global.

Data Sensor Tower menunjukkan bahwa India adalah pasar TikTok terbesar dari sisi jumlah unduhan. Jumlah unduhan TikTok di India bahkan lebih besar dari China dan AS.

Statcounter melaporkan bahwa UC Browser, aplikasi peramban seluler kedua yang paling banyak digunakan di India setelah Google Chrome, dengan hampir 20 persen pangsa pasar.

Google dan Apple akan diminta untuk mencegah pengguna di India mengunduh atau memperbarui aplikasi yang dilarang. Pemerintah juga diharapkan untuk meminta penyedia layanan internet untuk memblokir akses ke layanan yang dilarang, memotong aplikasi yang telah diunduh.

Strategi India ini sesungguhnya mencerminkan sistem kontrol internet China yang mencakup kontrol pemerintah di toko aplikasi dan 'Great Firewall' yang menyaring lalu lintas internet.

Ketakutan Terhadap Aplikasi China

Keunggulan dan pengaruh perusahaan internet Cina telah membuat khawatir para pejabat India sebelumnya. Pada tahun 2017, Kementerian Teknologi Informasi India meluncurkan penyelidikan UC Browser setelah Citizen Lab dari University of Toronto menemukan pelanggaran privasi.

Google dan Apple sempat menghapus TikTok dari Playstore dan App Store di India selama dua minggu pada tahun lalu. Penghapusan dilakukan setelah pengadilan di negara bagian Tamil Nadu menyimpulkan bahwa layanan tersebut membuat anak-anak terpapar konten yang tidak pantas dan kemungkinan penyalahgunaan.

"Krisis batas ini mungkin telah berfungsi sebagai titik kritis pada keputusan yang dipertimbangkan untuk alasan privasi dan keamanan nasional," ujar ahli dari Brooking Institution dan penulis buku tentang peran China dalam hubungan AS-India, Tanvi Madan.

Madan mengatakan saat ini dirinya sedang menunggu untuk melihat respons dari China terkait pemblokiran aplikasi China di India. Madan memprediksi China juga akan melarang aplikasi India.

Apa pun reaksinya, banyak orang India sekarang mungkin mendapati bahwa strategi geopolitik pemerintah mereka telah memutus cara komunikasi atau ekspresi diri.

Jutaan pengguna TikTok harus beralih ke layanan lain. Orang-orang yang menggunakan WeChat untuk tetap berhubungan dengan teman, keluarga, atau kontak bisnis di China juga harus mencari saluran komunikasi atau solusi lain.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]