Ahli Respons Prediksi Akhir Covid-19 RI ala BIN dkk Meleset

CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2020 08:28 WIB
Warga antre untuk mengikuti tes diagnostik cepat (Rapid Test) COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel, Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/6/2020). Badan Intelijen Negara (BIN) terus melakukan tes diagnostik cepat (Rapid Test) dan tes usap (Swab Test) COVID-19  terhadap warga Kota Surabaya sejak Jumat (29/5/2020) untuk memutus rantai penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj. Ilustrasi virus corona di Indonesia. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Epidemiologi merespons banyaknya hasil riset yang salah memprediksi akhir pandemi virus corona Covid-19. Berbagai riset yang meleset memprediksi akhir Covid 19 dilakukan oleh Badan Intelijen Negara (BIN), Universitas Indonesia hingga Institut Teknologi Bandung.

Ahli Epidemiologi FKM Universitas Indonesia (UI) Iwan Ariawan mengatakan prediksi tersebut meleset karena adanya intervensi yang tidak sesuai dengan skenario model dalam riset.

Intervensi tersebut berupa pelonggaran Pembatasan Sektor Berskala Besar (PSBB) yang terlalu cepat dan tidak diikuti dengan pelaksanaan protokol kesehatan.


"Karena intervensi yang dilakukan tidak sesuai skenario model, seperti pelonggaran PSBB yang terlalu cepat yang tidak disertai pelaksanaan protokol kesehatan dan usaha test lacak isolasi yang konsisten dan benar," ujar Iwan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (8/7).

Iwan menjelaskan model tertentu memang telah memprediksi intervensi yang dilakukan pemerintah, tapi terkadang asumsi intervensi tersebut lebih rendah daripada yang dilakukan oleh pemerintah.

Hal ini membuat terjadinya pergeseran prediksi puncak pandemi Covid-19 karena intervensi bisa semakin meningkatkan jumlah penularan.

"PSBB terlalu cepat dilonggarkan sebelum epidemi terkendali. Perilaku cuci tangan, pemakaian masker, jaga jarak tidak dilakukan secara konsisten dan benar oleh masyarakat. Kemudian rasio pelacakan kasus yang rendah," ujar Iwan.

Dihubungi terpisah, Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan intervensi memang menyebabkan pergeseran hasil riset yang lebih jauh.

Namun ia mengatakan adanya ketidakpahaman para lembaga apabila memprediksi pandemi Covid-19 bisa selesai dalam waktu dua minggu, satu bulan, hingga tiga bulan.

Dicky mengatakan dalam sejarah, pandemi tercepat terjadi selama satu tahun. Sementara yang paling lama terjadi selama tiga tahun.

"Sejarah membuktikan rata-rata suatu pandemi berlangsung paling cepat sekitar setahun. Paling lama di 3 tahun, tentu semua ini dipengaruhi dua hal yaitu tingkat keparahan dan kecepatan penularan.

Dicky mengklaim sejak awal meyakini pandemi Covid-19 di Indonesia akan berlangsung relatif lama, tergantung dari skenario yang digunakan. Dia berkata ada tiga skenario, yakni pendek, menengah, dan panjang.

Oleh karena itu prediksi yang ia sebut tak masuk akal ini membuat ia mengatakan para lembaga riset belum memiliki pengalaman untuk memprediksi akhir pandemi Covid-19.

"Umumnya juga karena tidak memahami kaidah yang berlaku dalam suatu kejadian pandemi. Memahami pandemi tidak cukup dengan melihat angka. Faktor pengalaman dalam mengelola epidemi pandemi juga mempengaruhi," tutur Dicky.

Dicky mengatakan pandemi ini setidaknya akan berlangsung hingga tahun depan, saat obat atau vaksin telah ditemukan.

Dicky memprediksi vaksin Covid-19 memerlukan waktu 1 hingga 2 tahun. Bahkan ia sebut target tersebut sangat optimis karena penemuan vaksin tercepat dalam sejarah membutuhkan waktu lima tahun. Vaksin tersebut adalah vaksin ebola.

Mengingat penemuan vaksin dan obat yang membutuhkan waktu cukup lama, pemerintah disarankan untuk melakukan tes pelacakan dan menerapkan protokol kesehatan.

"Penting sekali untuk fokus pada strategi utama pengendalian pandemi yaitu tes lacak dan isolasi yang disertai perubahan perilaku masyarakat agar melakukan mencuci tangan, memakai masker dan menjaga Jarak. Kesemuanya itu adalah 'obat dan vaksin' pertama yang kita miliki dan bisa kita andalkan saat ini," tutur Dicky.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]