PT DI Respons Pesawat AS yang Mau Dibeli RI Pernah Kecelakaan

CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 16:37 WIB
Pesawat MV-22 Block C Osprey Ilustrasi MV-22 Osprey AS yang mau dibeli Indonesia. (boeing.com)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Indonesia dikabarkan berencana membeli delapan unit pesawat militer jenis MV-22 Block C Osprey dari Amerika Serikat (AS).

Badan Kerja Sama Pertahanan Keamanan AS (Defense Security Cooperation Agency/DSCA) menyebut total belanja RI untuk pesawat dan sejumlah alat militer lainnya ditaksir mencapai US$2 miliar atau setara Rp28,8 triliun.

MV-22 Block C Osprey diketahui baru dioperasikan oleh dua negara. Selain AS selaku produsen, Jepang dikabarkan juga menggunakan pesawat tersebut. Dari lima pesawat yang dipesan pada 2015, dua pesawat sudah tiba di Jepang pada Mei 2020.


Melansir Vertical, Rabu (8/7), Jepang merogoh kocek sebesar US$332 juta untuk membeli lima pesawat yang diproduksi oleh Bell dan Boeing.

Berdasarkan data Aviation Safety, ada sejumlah varian dari Bell Boeing V-22 Osprey, yakni V, C, M, H, dan S. Dari seluruh varian itu diketahui pernah mengalami insiden atau kecelakaan.

Varian V-22 misalnya pada tahun 199 terjatuh dari ketinggian 15 kaki. Sedangkan tahun 1992 jatuh ke sungai Potomac, AS, setelah mesin mengalami gangguan. Tujuh orang tewas dalam kejadian itu.

Untuk varian MV-22, diketahui sempat terjatuh dan meledak pada tahun 2000. 19 orang tewas dalam kejadian itu. Di tahun yang sama MV-22 juga mengalami kebocoran hidraulik dan terjatuh dari ketinggian 1.600 kaki. Pada kejadian itu, empat orang meninggal dunia.

Pada tahun 2012, MV-22 juga terjatuh saat sedang melakukan latihan militer dan menyebabkan dua orang tewas. Dua tahun berselang, satu orang tewas ketika MV-22 kehilangan tenaga dan terjatuh setelah lepas landas dari kapal perang amfibi.

Sedangkan tahun 2015, MV-22 terjatuh saat hendak melakukan pendaratan vertikal di bandara Waimanalo, AS. Dua orang tewas dalam kejadian tersebut.

Adapun varian CV-22, mengalami kerusakan mesin dan terjatuh beberapa mil dari zona pendaratan. Dalam kejadian itu, empat orang menjadi korban.

Kepala Divisi Pusat Teknologi dan Rancang Bangun PT Dirgantara Indonesia, Junitu Tikupasang menilai kecelakaan bukan hanya disebabkan oleh kondisi pesawat. Dia berkata ada berbagai penyebab yang mungkin menyebabkan sebuah kecelakaan.

Dia mengatakan setiap pesawat yang sudah dijual biasanya sudah melalui proses sertifikasi dan regulasi yang ada. Misalnya, sebuah pesawat pasti sudah menjalani uji kondisi dan evaluasi sebelum benar-benar dioperasikan oleh operator.

"Kalau masalah kecelakaan kita harus lihat dulu bagaimana. Yang jelas untuk pesawat terbang sebelum diterbangkan harus disertifikasikan dulu," ujar Junitu kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/7).

Junitu berkata teknologi tilrotor merupakan teknologi yang jarang digunakan pada pesawat. Meski belum secara spesifik memahami, dia berkata teknologi tilrotor mengkombinasikan sejumlah gaya.

"Memang agak rumit kalau saya lihat," ujar Junitu.

Junitu menilai pesawat MV-22 Block C Osprey memiliki peran yang berbeda dengan pesawat lain. Dia berkata pesawat itu bisa berperan layaknya helikopter dan pesawat fix wing.

"Pada dasarnya pesawat dirancang ada unsur kebutuhannya. Kalau helikopter butuh landasan yang sempit untuk terbang. Kalau fix wing butuh landasan panjang," ujar

"Kalau fix wing jangkauannya jauh dan helikopter terbatas. Kalau dikombinasikan, dia (MV-22 Block C Osprey) bisa berangkat dari landasan yang tidak panjang, tapi jangkauanya sama seperti pesawat fix wing," ujarnya.

Di sisi lain, Junitu berharap pembelian MV-22 Block C Osprey bisa mendorong kemampuan dalam negeri dalam menciptakan teknologi tilrotor, meski secara umum seluruh teknologi wajib dikembangkan.

Salah satu pentingnya pengembangan teknologi tilrotor, kata dia untuk mendukung penerbangan di sejumlah daerah yang belum memiliki landasan panjang.

"Masalah bagaimana mengaplikasikannya agar lebih aman adalah dengan melakukan evaluasi rutin. Selain itu, harus mengikuti regulasi perawatan pesawat yang ada," ujar Junitu.

Juru bicara PT DI, Adi Prastowo menuturkan pihaknya belum mengembangkan teknologi tilrotor yang digunakan oleh MV-22 Block C Osprey. Namun, dia menegaskan pihaknya berharap mendapat peluang dari pembelian itu.

"Intinya sih PTDI belum mengembangkan teknologi tilrotor dimaksud, harapannya PTDI punya peluang atas pembelian itu, karena ada mekanisme imbal dagang dalam pengadaan alat peralatan pertahanan dan keamanan dari luar negeri sesuai PP Nomor 76 Tahun 2014," ujar Adi kepada CNNIndonesia.com.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]