Xpander Hybrid 'Ngegas' 2023, Toyota Belum Bisa Komentar

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 13:52 WIB
Persaingan antara Avanza dan Xpander kembali memanas setelah model Xpander hybrid diumumkan lahir pada 2023. Ilustrasi Xpander hybrid. (Foto: Xpander Rally Team (XRT))
Jakarta, CNN Indonesia --

Persaingan antara Toyota Avanza dan Mitsubishi Xpander kembali memanas setelah Mitsubishi Xpander hybrid diumumkan lahir pada 2023. Xpander hibrida merupakan rencana jangka menengah perusahaan asal Jepang, Mitsubishi.

Direktur Marketing Toyota-Astra Motor (TAM) Anton Jimmi menanggapi kehadiran Xpander HEV atau hybrid electric vehicle (HEV) yang direncanakan pada 2023 merupakan hal lumrah dan strategi masing-masing produsen otomotif untuk menarik minat beli konsumen.

Anton juga menilai strategi Mitsubishi harus disambut baik, sebab dapat menambah pilihan terhadap komsumen terlebih produk yang bakal ditawarkan suatu produk kendaraan berbeda di kelas low MPV dalam negeri.


"Masing-masing brand punya strategy. Dan baik kalau memang market akan diisi dengan produk baru termasuk elektrifikasi," kata Anton melalui pesan singkat, Selasa (28/7).

Strategi Toyota Avanza hybrid

Toyota dijelaskan Anton belum bisa menjabarkan strategi di kelas low MPV ke depan terkait kemungkinan menyiapkan produk sekelas dengan teknologi hybrid, misal Avanza hybrid.

Toyota Avanza mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia pada akhir 2003, namun hingga kini belum terdengar rencana Toyota menghadirkan Avanza versi hybrid. Berbeda dengan Xpander yang pada tahun ketiga sudah ada pengumuman arah teknologi barunya.

"Saya belum bisa komen untuk future product," ucap Anton.

Hanya, Anton memastikan perusahaan sejak 2019 telah membuat komitmen dengan pemerintah terkait kendaraan listrik. Kata Anton komitmen kendaraan listrik terlihat melalui investasi senilai Rp28 triliun.

"Yang sudah pernah diinformasikan sebelumnya di 2019, Toyota sudaj menyampaikan komitmen kepada pemerintah untuk melakukan investment lima tahun ke depannya lebih dari Rp28 triliun dimana di dalamnya termasuk investasi untuk produk elektrifikasi," tutup Anton.

(ryh/mik)

[Gambas:Video CNN]