TIPS OTOMOTIF

Ketahui Standar Tekanan Angin Ban Mobil

CNN Indonesia | Sabtu, 01/08/2020 07:32 WIB
Ban adalah komponen mobil yang selalu bekerja keras, sebab itu harus selalu diperhatikan. Ilustrasi ban mobil. (Istockphoto/Zentilia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Standar tekanan udara atau lebih dikenal dengan istilah tekanan angin pada ban mobil berbeda-beda tergantung merek, luas penampang pelek yang digunakan, jenis ban luar yang digunakan, serta kapasitas angkut. Penting menjaga tekanan angin mobil selalu sesuai rekomendasi sebab kurang atau lebih punya risiko masing-masing.

Jika tekanan angin terlalu tinggi berpotensi terjadi aquaplaning, yakni momen saat ban tidak mendapat traksi pada permukaan jalan karena terhalang lapisan air. Risiko lebih parah lagi yaitu ban bisa selip dan hilang mobil kestabilan sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan.

Biasanya tiap pabrikan mobil sudah memberikan rekomendasi tekanan angin pada ban mobil. Rekomendasi itu dapat dilihat pada stiker yang tertempel di bingkai pintu pada pilar B alias dekat posisi jok pengemudi.


Tekanan angin pada setiap ban mobil umumnya dianjurkan sama. Jika satu ban direkomendasikan 30 psi maka ban yang lain harus mengikutinya agar stabil saat dibawa berkendara.

Ban merupakan komponen penting pada mobil yang kerjanya berat sebab menahan beban sekaligus penentu kestabilan berkendara. Sebab itu pemilik mobil dianjurkan memahami risiko jika salah tekanan angin, berikut ulasannya:

Tekanan angin rendah

Berikut adalah beberapa bahaya jika tekanan angin kurang:

- Membuat boros bensin

Tekanan angin ban yang terlalu rendah membuat kinerja mesin bekerja lebih berat karena ban seolah tertahan saat berputar.

Analoginya seperti ban sepeda kempis, maka kaki butuh tenaga ekstra untuk mengayuh pedal. Tenaga lebih besar otomatis membutuhkan bahan bakar lebih besar pula.

- Mempersulit kestabilan

Saat tekanan angin rendah atau kempis, dinding ban bisa terlipat kemudian terjepit antara pelek dan permukaan jalan. Pada kondisi itu ban kurang stabil dan mobil akan lebih sulit ketika menikung atau mengerem.

Hal ini memicu respons kemudi lebih lambat dan jarak pengereman menjadi lebih jauh.
Kondisi ini bisa sangat berbahaya ketika dalam kondisi darurat, misalnya jadi sulit menghindari potensi kecelakaan di depan sebab respons mobil tidak sesuai keinginan.

- Biaya bertambah

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa ban dengan tekanan angin rendah bikin boros bensin, hal ini tentu membuat kebutuhan membeli bensin bertambah. Selain bensin, kondisi seperti ini juga membuat umur pakai ban terpangkas dan komponen rem cepat aus.

Hal ini jelas membuat anda harus keluar uang lagi, terlebih harga ban bisa dibilang cukup mahal.

Tekanan angin tinggi

Berikut beberapa bahaya jika tekanan angin lebih:

- Ban botak sebelum waktunya

Tekanan angin ban yang lebih bisa membuat bagian tapak cembung di bagian tengah. Saat digunakan dalam jangka waktu lama area cembung itu bakal aus lebih dulu sebab paling sering bergesekan dengan jalan ketimbang area lain.

Hal ini membuat usia pakai ban bisa lebih cepat dari seharusnya.

- Kehilangan traksi

Saat ban cembung karena kelebihan tekanan angin, itu berarti traksi ban tidak sempurna dengan jalan. Tanpa traksi penuh mobil bisa jadi sulit dikendalikan bahkan saat beraktivitas mengemudi biasa.

- Merasa miring saat berkendara

Ban dengan tekanan angin lebih juga dapat memberikan kesan berkendara bergelombang sebab tekanan yang berbeda. Artinya pengemudi bisa merasakan seperti membawa mobil dalam kondisi miring di jalanan.

Contoh rekomendasi tekanan angin

Setelah mengetahui bahaya dari ban yang dipompa dengan tekanan angin kurang atau lebih, selanjutnya ketahui standar tekanan sesuai rekomendasi produsen. Berikut beberapa contoh standar pada beberapa jenis mobil beredar di Indonesia:

- Honda Mobilio: 30 Psi
- Honda Civic: 35 Psi
- Honda Brio: 26-29 Psi
- Toyota Avanza: 30-32 Psi
- Daihatsu Xenia: 30-32 Psi
- Suzuki Ertiga: 29-35 Psi
- Toyota Fortuner: 30-33 Psi
- Toyota Innova: 33 Psi

(ndn/fea)

[Gambas:Video CNN]


BACA JUGA