LIPI Respons Rapid Tes Antigen Punya Akurasi Tinggi

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 20:46 WIB
LIPI membenarkan akurasi rapid tes antigen bisa mendekati reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) dalam mendeteksi virus corona. Ilustrasi rapid tes antigen bisa mendekati reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) dalam mendeteksi virus corona. (Foto: AP/Manish Swarup)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI, Wien Kusharyoto membenarkan akurasi rapid tes antigen bisa mendekati reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) dalam mendeteksi virus corona. Dia mengatakan hal itu dilakukan dengan cara dioptimasi.

"Akurasi rapid tes antigen lebih rendah daripada RT-PCR. Namun apabila dioptimasi, akurasinya atau sensitivitasnya bisa mendekati RT-PCR," ujar Wien kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/8).

Menurut Wien, jumlah target uji rapid tes antigen, yakni protein virus hanyalah apa yang terdapat dalam sampel. Sedangkan RT-PCR ada tahap amplifikasi, perbanyakan jumlah target yang diuji dalam hal ini cDNA melalui tahap PCR.


Dijelaskan Wien, rapid tes antigen dapat mengidentifikasi ada tidaknya komponen virus, protein virus. Misalnya, protein spike dengan menggunakan minimal dua antibodi yang masing-masing mampu secara spesifik mengikat protein target tersebut pada bagian epitop yang berbeda.

"Salah satu antibodi dapat diletakkan di garis deteksi, antibodi yang lain diberi penanda, misalnya nanopartikel emas," ujarnya.

Lebih lanjut, Wien menyampaikan rapid tes antigen bekerja dengan menggunakan metode swab untuk mengambil protein target dari virus. Oleh karena itu, protein tersebut akan diikat oleh antibodi di garis deteksi dan pada saat yang sama akan berikatan dengan antibodi yang membawa penanda.

"Prinsip kerjanya sama dengan tes deteksi kehamilan yang mendeteksi protein hormon human chorionic gonadotropin (hCG)," ujar Wien.

Wien mengingatkan rapid tes antigen hanya dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi SARS-CoV-2 yang sedang berlangsung, sama seperti RT-PCR. Rapid tes antigen mendeteksi protein virus dan RT-PCR mendeteksi RNA virus.

Sedangkan rapid tes antibodi digunakan untuk mendeteksi infeksi yang sudah pernah berlangsung.

"Rapid tes antigen, apabila sensitivitasnya tinggi lebih sesuai digunakan sebagai alternatif dari RT-PCR, terutama ketika diperlukan hasil yang cepat kurang lebih 30 menit," ujarnya.

Lebih dari itu, dia mengaku tidak mempermasalahkan jika pemerintah hendak menggunakan rapid tes antigen untuk mendeteksi Covid-19 di Indonesia. Dia menyarankan rapid tes antigen digunakan dalam situasi yang memerlukan proses deteksi yang lebih cepat terhadap agar tidak terjadi penularan lebih lanjut.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]


BACA JUGA