Alasan LAPAN Pilih Kupang Jadi Pusat Observatorium Terbesar

CNN Indonesia | Rabu, 12/08/2020 10:52 WIB
LAPAN beberkan alasan pilih Kupang, NTT, menjadi pusat Observatorium Terbesar di Asia Tenggara ketimbang wilayah lain di Indonesia. Ilustrasi observatorium (Istockphoto/kuddl-24)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memaparkan alasan Gunung Timau di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi tempat observatorium terbesar di Asia Tenggara.

Menurut Kepala Balai Observatorium Nasional Kupang Bambang Suhandi, pertimbangan membangun observatorium nasional di NTT berdasarkan hasil studi.

Sebelumnya, telah dilakukan studi selama 5 tahun fraksi malam terhadap langit di Indonesia. Hasilnya, wilayah Kupang memiliki waktu langit cerah paling banyak dalam setahun dibanding tempat-tempat lain di Indonesia.


"Sekitar 70 persen dalam 1 tahun. Selain itu, kawasan Gunung Timau masih minim polusi cahaya, sehingga langitnya baik untuk pengamatan astronomi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (12/8)

Lebih lanjut, Bambang mengklaim Obnas bakal menggunakan teleskop besar, yakni teleskop dengan cermin majemuk berukuran 3,8 meter. Teleskop itu, kata dia merupakan kembaran dari Teleskop Seimei milik Universitas Kyoto, Jepang. 

"Saat ini teleskopnya dibuat dan masih diuji di Jepang," ujar Bambang.

Dengan keberadaan Obnas dan teleskop itu, Bambang menyebut peneliti di Indonesia dapat melakukan lebih banyak hal, mulai pencarian planet hingga menguak misteri materi dan energi gelap.

Menurut Bambang, Observatorium Nasional Kupang di Gunung Timau, Nusa Tenggara Timur, bakal beroperasi tahun 2021. Saat ini, Obnas masih dalam proses pembangunan.

"Pembukaan Observatorium Nasional Kupang diharapkan terlaksana pada pertengahan Tahun 2021 dan dioperasikan secara penuh pada akhir tahun 2021," tuturnya.

Ia menjelaskan menyebut pembangunan obnas dan pengadaan teleskop menghabiskan anggaran hingga Rp340 miliar.

Uang sebesar itu, menurut Bambang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 

"Biaya untuk teleskop 3,8 m dan gedungnya saja diperoleh dari APBN melalui multi year program (2017-2021), besar biaya sekitar Rp340 miliar," ujar Bambang.

Tak hanya itu, dia menyampaikan masyarakat juga boleh berkunjung ke Obnas jika transportasi umum dan akomodasi sudah tersedia.

"Sudah dibangun jalan menuju lokasi namun belum mulus jalan semuanya, masih rusak sekitar 17 kilometer lagi. Ke depannya harapannya bisa tersedia dan disiapkan untuk mendudukung wisata langit gelap," ujarnya.

Komplek observatorium dibangun seluas 40 hektare di Kawasan Hutan Lindung Gunung Timau pada ketinggian 1.300 mdpl.

Lokasinya jauh dari pemukiman penduduk yang biasanya menyebabkan polusi cahaya dan polusi udara sebagai gangguan pengamatan astronomi.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]