Peneliti Temukan Sperma Hewan Tertua di Myanmar

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 10:08 WIB
Tim paleontologi menemukan sel sperma hewan yang diduga menjadi sperma tertua terbungkus di getah pohon di Myanmar. Ilustrasi sperma. (Foto: Istock/iLexx)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tim paleontologi menemukan sel sperma hewan yang diduga menjadi sperma tertua di dunia. Para ahli menemukannya di Myanmar.

Sperma tertua yang diperkirakan berusia 100 juta tahun lalu ini ditemukan membeku dalam hewan krustasea kecil yang terjebak di getah pohon di Myanmar. Tak hanya tertua, sel sperma ini juga berukuran besar.

Tim yang dipimpin oleh Wang He dari Chinese Academy of Science di Nanjing mengatakan sampel sperma tertua sebelum penemuan ini berusia 17 juta tahun lalu.


Untuk diketahui Sperma ditemukan dalam ostracod, sejenis krustasea yang telah ada selama 500 juta tahun dan dapat ditemukan di banyak samudera saat ini. Peneliti mengungkap ini dalam sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal Royal Society's Proceedings.

Sperma ini ditemukan di tubuh ostracod betina. Artinya betina ini dibuahi oleh pejantan sebelum membeku menjadi amber (damar). Ostracod juga merupakan spesies baru yang diberi nama Myanmarcypris hui.

Sperma berukuran raksasa

Penemuan menarik lainnya adalah peneliti mengatakan sel sperma ini berukuran raksasa. Berukuran 4,6 kali lebih besar dibandingkan ostracod jantan.

Penemuan fosil cangkang ostracod sudah banyak dilakukan, tetapi menemukan spesimen dengan sperma di dalamnya merupakan hal yang langka.

Selama periode Cretaceous (sekitar 145 hingga 66 juta tahun yang lalu), ostracod yang dimaksud kemungkinan hidup di perairan pesisir Myanmar, mereka terjebak dalam gumpalan getah pohon.

Kebanyakan pria di dunia hewan (termasuk manusia) umumnya menghasilkan puluhan juta sel sperma kecil. Akan tetapi bagi ostracod, kualitas melebihi kuantitas.

Dilansir dari AFP, ada beberapa teori yang saling bertentangan tentang nilai evolusi sperma raksasa.

"Misalnya, percobaan menunjukkan bahwa dalam satu kelompok, tingkat persaingan yang tinggi antar laki-laki dapat menyebabkan kehidupan sperma lebih lama, sementara di kelompok lain, tingkat persaingan yang rendah juga menyebabkan kehidupan sperma yang lebih lama," kata Matzke-Karasz.

Penemuan ini menunjukkan bahwa reproduksi dengan sperma raksasa bukanlah pemborosan evolusioner di ambang kepunahan, tetapi keuntungan jangka panjang yang serius bagi kelangsungan hidup suatu spesies.

(jnp/mik)

[Gambas:Video CNN]


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA