Gandeng Oracle, TikTok Terhindar Jadi Aplikasi Haram di AS

CNN Indonesia | Sabtu, 19/09/2020 03:25 WIB
Kesepakatan agar TikTok tetap beroperasi di Amerika Serikat semakin memberi harapan positif usai sempat diancam Donald Trump. Ilustrasi TikTok. (AFP/Drew Angerer)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kesepakatan agar TikTok tetap beroperasi di Amerika Serikat (AS) semakin memberi harapan positif. Regulator AS dikabarkan secara tentatif telah menyetujui kesepakatan dengan perusahaan induk Tiktok, yakni ByteDance dan mitranya di AS, Oracle.

Jika pengaturan tersebut mendapat lampu hijau, ByteDance akan terus menjadi pemegang saham mayoritas di aplikasi video pendek tersebut. TikTok juga akan menjadi perusahaan global dengan kantor pusat di Amerika Serikat.

Sementara Oracle akan menghosting data pengguna TikTok dan meninjau kode TikTok untuk keamanan. Kesepakatan itu dimaksudkan untuk memenuhi kekhawatiran keamanan nasional pemerintah AS tentang aplikasi tersebut.


Melansir CNN, pemerintah AS juga bakal menentukan satu orang perwakilan sebagai anggota dewan direksi TikTok. Anggota itu akan menjadi ahli dalam keamanan data dan akan memegang izin keamanan rahasia.

Orang yang ditunjuk itu juga akan bertanggung jawab untuk memimpin komite keamanan yang anggotanya merupakan warga negara AS yang disetujui secara individual oleh pemerintah AS.

Perusahaan induk, TikTok Global berencana untuk mengajukan penawaran umum perdana di Amerika Serikat dalam waktu satu tahun, kata sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Walmart akan masuk dalam kesempatan itu sebagai investor minoritas dan mitra e-niaga. Jika menjadi investor minoritas, Walmart kemungkinan akan mendapatkan kursi di dewan direksi.

Melansir NBC News, Kesepakatan itu, yang masih membutuhkan persetujuan Presiden AS Donald Trump dan otoritas China. Namun, Oracle dan TikTok enggan mengomentari rumor atau spekulasi tersebut.

Namun, Departemen Keuangan AS diketahui mengirim revisi proprosal kepada ByteDance agar sesuai dengan masalah keamanan nasionalnya. ByteDance sebagian besar menyetujui revisi tersebut. Kesepakatan itu juga akan memberi Oracle saham minoritas di perusahaan.

TikTok menjadi salah satu platform media sosial paling populer di AS. Perusahaan tersebut mengatakan pada bulan Agustus 2020, bahwa mereka memiliki sekitar 100 juta pengguna bulanan di AS.

Keberhasilan itu menimbulkan kekhawatiran di antara beberapa pejabat pemerintah termasuk Trump yang mengatakan bahwa aplikasi tersebut dapat menyedot data pengguna AS ke China , di mana itu dapat digunakan sebagai bagian dari operasi spionase.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]