Radiasi di Bulan 200 Kali Lebih Tinggi dari Bumi

CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 09:29 WIB
Informasi tentang radiasi di bulan baru saja diungkap setelah misi ruang angkasa China mendarat di sisi jauh pada Januari 2019. Ilustrasi bulan. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Studi terbaru menyampaikan tingkat radiasi di Bulan 200 kali lebih tinggi daripada di Bumi. Hal itu dinilai berdampak negatif bagi kesehatan manusia yang akan kembali dikirim ke bulan beberapa tahun mendatang.

Manusia terakhir kali menginjakkan kaki di bulan pada 1972. Kala itu NASA mengirim manusia ke bulan dengan Apollo. NASA berencana mengirim manusia lagi ke bulan pada 2024 dengan pesawat ruang angkasa Orion.

Pengukuran radiasi Bulan didokumentasikan secara sistematis ketika misi pesawat ruang angkasa robot Chang'e 4 China mendarat di sisi jauh Bulan pada Januari 2019.


Melansir CNN, astronaut dalam misi di Bulan akan mengalami dosis radiasi harian rata-rata yang setara 1.369 mikrosievert per hari, sekitar 2,6 kali lebih tinggi dari dosis harian awak Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Radiasi adalah energi yang dipancarkan dalam gelombang atau partikel elektromagnetik. Di Bumi, radiasi bisa berasal dari cahaya atau panas dari radiasi infra merah yang dapat dirasakan dan sinar-X atau gelombang radio yang tidak dapat kita rasakan.

Sedangkan di Bulan, radiasi akan berasal dari sinar kosmik galaksi, peristiwa partikel matahari sporadis (ketika partikel yang dipancarkan matahari menjadi lebih cepat) dan neutron, serta sinar gamma dari interaksi antarradiasi ruang angkasa dan tanah bulan.

"Tingkat radiasi yang kami ukur di Bulan sekitar 200 kali lebih tinggi daripada di permukaan Bumi dan 5 hingga 10 kali lebih tinggi daripada dalam penerbangan dari New York ke Frankfurt," kata Robert Wimmer-Schweingruber, penulis studi dari Universitas Kiel, Jerman.

Paparan kronis sinar kosmik galaksi (GCR) disebut dapat menyebabkan katarak, kanker, atau penyakit degeneratif pada sistem saraf pusat atau sistem organ lainnya. Selain itu, paparan peristiwa partikel matahari besar (SPE) dalam situasi dengan perlindungan yang tidak memadai dapat menyebabkan efek akut yang parah.

Para ilmuwan di NASA menggambarkan radiasi itu sebagai salah satu dari lima bahaya penerbangan luar angkasa manusia dan paling mengancam.

Melansir Science Advances, paparan GCR tidak dapat dihindari. Tapi, GCR memiliki dosis yang rendah dibanding SPE yang sporadis dan tidak dapat diprediksi. SPE terkadang sangat intens akibat semburan api matahari dan pelepasan massa koronal.

Selama misi Apollo, astronot membawa dosimeter bersama ke Bulan. Tapi, data radiasi yang diselesaikan berdasarkan waktu dari permukaan Bulan tidak pernah dilaporkan.

(jnp/fea)

[Gambas:Video CNN]