Mengenal Cara Kerja Teknologi AI Awasi Hutan TN Bali Barat

CNN Indonesia | Senin, 02/11/2020 12:48 WIB
Taman Nasional Bali Barat akan dijadikan pilot project pengawasan hutan dengan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Ilustrasi Taman Nasional Bali Barat. (Dok. Plataran Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dilaporkan menjadikan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sebagai titik awal (pilot project) pengawasan hutan menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

KLHK menggandeng Huawei untuk mengembangkan pengawasan hutan berbasis AI. Proyek itu dinamakan Smart Forest Guardian.

Teknologi pengawasan dengan AI diklaim mampu mendeteksi suara di kawasan hutan. Selain itu, teknologi tersebut mampu membedakan suara satwa, burung, dan satwa lainnya.


Bahkan, teknologi itu mampu mendeteksi suara gergaji atau suara-suara lain yang mencurigakan.

Melansir laman resmi, Smart Forest Guardian merupakan hasil kolaborasi antara Huawei dengan lembaga nirlaba (NGO) Rainforest Connection. Di Kosta Rika, pengawasan hutan berbasis AI memanfaatkan ponsel bekas Huawei yang telah didaur ulang.

Ponsel itu diklaim mampu bekerja selama 24 jam hingga dua tahun dengan dukungan tenaga surya.

Layaknya telinga, ponsel bekas itu berperan untuk menangkap suara yang ada di hutan. Setiap ponsel terkoneksi dengan cloud setiap detik, siang dan malam, saat hujan deras, terik matahari, dan kelembapan yang tinggi.

Cloud dengan dukungan AI akan menganalisa semua suara yang dikirimkan oleh ponsel. Untuk mengawasi hutan, ponsel yang telah dimodifikasi itu ditaruh di dalam kotak khusus. Kemudian, ponsel itu diikatkan ke batang bagian atas pohon.

Satu buah ponsel bekas Huawei yang dipasang di pohon diklaim  melindungi lebih dari 2.500 kilometer persegi lahan atau sekitar 200.000 stadion sepak bola.

Lebih lanjut, Cloud dengan dukungan AI  juga diklaim bukan sekedar mendeteksi gergaji mesin dan lainnya. Cloud AI mampu memahami struktur ekologi alam hutan hanya melalui suara.

Suara hutan hujan seringkali terlalu rumit untuk diinterpretasikan oleh manusia, tetapi teknologi itu dapat mendengar banyak detil kompleks dari suara tersebut. Selain itu, teknologi AI itu bisa memberi tahu penjaga hutan secara real time jika terjadi tindakan yang melanggar hukum.

Cara kerja AI Huawei

Sebelum benar-benar bermanfaat, pengguna harus input berbagai suara ke dalam cloud. Kemudian, Huawei akan memilih beberapa algoritma pendeteksian suara yang sesuai untuk membangun model deteksi AI berdasarkan karakteristik dari data tersebut.

Setelah model dibuat, Huawei akan merilisnya secara online. Pengguna kemudian akan menggunakan model online itu untuk melakukan deteksi suara secara real time di hutan hujan.

Ada berbagai tantangan untuk mengenali suara hewan, misalnya hewan itu jarang bersuara dan kebanyakan orang belum pernah mendengarnya sebelumnya. Selain itu suara yang diberikan hanya berdurasi beberapa menit.

Untuk mengatasi itu Huawei mengurangi jendela deteksi dari satu detik menjadi 500 milidetik dari level domain waktu. Dalam hal frekuensi, mereka meningkatkan dari 40 menjadi 96.

Lebih dari itu, AI itu diklaim dapat membantu memahami hewan dengan lebih baik, termasuk bahasa dan keadaan emosionalnya. Sehingga konservasionis dapat melindungi hewan yang terancam punah dengan lebih efektif.

(jps/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK