TN Bali Barat Jadi Pilot Pengawasan Hutan Berteknologi AI

CNN Indonesia | Senin, 26/10/2020 04:38 WIB
KLHK akan menjadikan Taman Nasional Bali Barat sebagia pilot project pengawasan hutan dengan menggunakan teknologi keceradasan buatan (AI). Jalak Bali adalah hewan endemik yang bisa didapati di Taman Nasional Bali Barat. (istock/Herianus)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menjadikan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sebagai titik awal (pilot project) pengawasan hutan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Proyek itu kemudian dinamakan program Smart Forest Guardian.

"Objek pertama yang dijajaki adalah TNBB. Dalam rangka kerja sama itulah TNBB dijajaki untuk mengetahui lokasi dan kondisi di TNBB," kata Kepala TNBB Agus Ngurah Kresna Kepakisan di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Minggu (25/10) seperti dikutip dari Antara.


Ia mengatakan TNBB sudah dikunjungi tim lintas kementerian yang terdiri atas perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Badan Syber dan Sandi Negara (BSSN), Badan Intelijen Negara (BIN), KLHK, dan tim teknis dari Huawei sebagai pihak swasta yang diajak bekerja sama mengembangkan pengawasan hutan berbasis AI.

Agus Ngurah menjelaskan penjajakan tim lintas kementerian ke TNBB ini merupakan tidak lanjut rapat koordinasi yang dilakukan secara virtual pada 6 Oktober lalu.

Ia sendiri berharap program Smart Forest Guardian tersebut bakal sangat membantu dalam pengawasan hutan.

"Apalagi TNBB memiliki dengan satwa endemik Jalak Bali yang juga merupakan satwa dilindungi karena tergolong langka," kata Agus Ngurah.

Teknologi pengawasan dengan kecerdasan buatan itu, kata dia, adalah alat untuk mendeteksi suara di kawasan hutan. Teknologi itu mampu membedakan suara satwa, burung, dan satwa lainnya. Pun, kata Agus Ngurah, mampu mendeteksi suara gergaji atau suara-suara lain yang mencurigakan.

"Jadi, selain untuk mengawasi hutan dari tindak kriminal illegal loging juga sekaligus sebagai alat untuk memonitor keberadaan satwa di kawasan hutan," katanya.

Dalam Rapat Koordinasi Peningkatan Pengawasan Kawasan Hutan secara virtual itu, Menko Marves Luhut B Pandjaitan yang memimpin rakor mengatakan peningkatan kawasan hutan menjadi hal yang utama.

"Dengan adanya pemanfaatan teknologi kita dapat langsung memantau perekaman data secara gambar maupun suara, untuk dapat membuat data yang lengkap mengenai aktivitas hutan kita di Indonesia. Kita dapat memantau aktivitas illegal yang terjadi di hutan kita," kata Luhut.

Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno dalam peninjauan di TNBB menjelaskan bahwa saat ini KLHK juga telah memanfaatkan teknologi untuk pengawasan hutan.

"Saat ini sudah pakai Camera Trap dan GPS Collar, untuk memantau Gajah Sumatra. Dengan kerja bersama, teknologi AI dimanfaatkan untuk mendeteksi suara yang berada di hutan. Deteksi suara ini juga dapat memperlihatkan kekayaan satwa endemik Indonesia," ujar Wiratno

Saat ini Indonesia memiliki 54 taman nasional yang mana sebagian diantaranya merupakan situs warisan dunia (World Heritage Unesco). Melalui teknologi kecerdasan buatan dalam pengawasan hutan diharapkan akan terkumpul data yang akurat dan rinci mengenai kondisi hutan di Indonesia.

"Hal yang harus diperhatikan adalah keamanan data yang akan didapatkan melalui teknologi ini. Data ini dapat menjadi acuan pemerintah untuk melakukan deteksi dini mengenai aktivitas illegal pada kawasan hutan," ujar Wiratno.

(Antara/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK