Beda Setrum Donald Trump dan Joe Biden Soal Kendaraan Listrik

CNN Indonesia | Selasa, 03/11/2020 18:30 WIB
Pilpres Amerika Serikat yang digelar 3 November akan menentukan kecepatan pengembangan kendaraan listrik dunia. Kandidat Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Donald Trump. (JIM WATSON and MANDEL NGAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang digelar Selasa (3/11) antara petahana Donald Trump dan calon dari Partai Demokrat, Joe Biden, bakal menentukan banyak hal termasuk soal pengembangan kendaraan listrik. Sama seperti banyak hal di antara dua kandidat, pandangan tentang hal ini juga bertentangan.

Trump dan Biden punya penilaian berbeda serta rencana masa depan masing-masing, meski begitu keduanya positif mendukung kendaraan listrik.

Rencana Biden untuk industri ini terlihat lebih agresif, di antaranya ingin membangun lebih dari setengah juta stasiun pengisian daya kendaraan listrik pada 2030, memulihkan kredit pajak kendaraan listrik secara penuh, dan menerapkan peraturan lebih ketat untuk mendorong penggunaan mobil bertenaga listrik.


"Kemenangan Biden, ditambah dengan Demokrat mengambil kendali Senat, berpotensi mengubah lintasan adopsi kendaraan listrik selama bertahun-tahun sambil membalikkan beberapa kerusakan yang ditimbulkan oleh pemerintahan saat ini," menurut tim analis Bloomberg New Energy Finance Aleksandra O'Donovan, mengutip JWN Energy, Selasa (3/10).

Berdasarkan usulan Biden ada aturan lebih ketat sehingga pangsa pasar mobil listrik jadi lebih gemuk. Targetnya penjualan mobil listrik mencapai 4 juta unit atau 25 persen dari penjualan pada 2026.

"Mungkin kendaraan listrik adalah masa depan, tetapi kecepatan terjadinya itu bisa banyak berubah," kata analis JMP Securities Joseph Osha dalam sebuah wawancara.

Sementara itu Trump melonggarkan standar emisi bahan bakar dan berencana membangun fasilitas pengisian kendaraan listrik dalam jumlah yang lebih sedikit. Selain itu Trump juga hanya menargetkan 5 persen penjualan mobil AS setiap tahun merupakan kendaraan listrik dari 2022 hingga 2026.

Mengutip NBC News, selama pencalonan sebelumnya Trump menekankan pada bahan bakar fosil tradisional, termasuk batu bara, minyak dan gas alam. Saat batu bara terus menurun, produksi minyak dan gas telah mencapai rekor tertinggi.

Lalu sejak menjabat presiden, Trump telah memerintahkan pencabutan mandat Ekonomi Bahan Bakar Rata-Rata Perusahaan yang diberlakukan selama pemerintahan Obama.

Tidak hanya itu aturan yang memungkinkan California menetapkan standar emisi lebih ketat daripada yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan dihilangkan. Kedua langkah ini kemudian menghadapi tantangan pengadilan dan dapat dibatalkan jika Biden terpilih.

Sejak 2016 industri otomotif telah memulai pergeseran dari mesin pembakaran dalam ke penggerak baterai-listrik. Menurut IHS Markit dan analis lainnya, jika dibiarkan tentu akan mengurangi permintaan kendaraan berenergi bersih.

Pemerintahan Trump juga telah menunjukkan sedikit dukungan untuk insentif kendaraan listrik hingga US$7.500 per kendaraan, lalu kredit pajak telah dihapuskan untuk beberapa produsen, termasuk Tesla dan GM.

Biden diketahui secara pribadi telah mengatakan kepada para penambang AS terkait mendukung peningkatan produksi domestik logam yang digunakan untuk membuat kendaraan listrik dan panel surya.

Dari sejumlah paparan tersebut tentu hasil pemilihan nanti dapat menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan mencapai era mobil listrik.

(ryh/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK