Produsen Ramai-ramai Recall Mobil Listrik

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Rabu, 11/11/2020 17:54 WIB
Kasus baterai mobil listrik terbakar kerap ditemui di sejumlah negara. Ini menjadi pekerjaan rumah setiap produsen mobil untuk menciptakan baterai yang aman. Ilustrasi baterai mobil listrik rentan terbakar. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perkembangan mobil listrik secara global menemui hambatan. Bukan karena kurangnya dukungan pemerintah atau minimnya pasokan material pembuatan komponen, tapi karena muncul sejumlah kasus mengenai kebakaran mobil tanpa emisi tersebut.

Sejumlah kasus menyebutkan baterai mobil listrik terbakar dan ujungnya produsen harus mengambil langkah recall atau penarikan massal dari tangan konsumen untuk diperbaiki.

Contohnya pada akhir September 2020 BMW menarik 10 model hybrid plug-in BMW dan Mini di Amerika Serikat. Sebabnya ada risiko kebakaran yang disebabkan puing-puing yang mungkin masuk ke sel baterai selama proses produksi.


Kemudian pada awal Oktober, Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional membuka penyelidikan atas laporan terhadap baterai Chevrolet Bolt EVs. GM mengatakan sedang bekerja sama untuk investigasi.

Beberapa hari kemudian giliran Hyundai yang mengumumkan penarikan 75 ribu unit Kona Electric di dunia dan 6.700 unit di antaranya di Amerika Serikat. Recall diputuskan setelah banyak laporan tentang kendaraan yang terbakar saat parkir.

Catatan di sini kebakaran mobil listrik memang belum sebanyak insiden pada mobil konvensional. Namun ini perlu mendapat perhatian sebab mobil listrik merupakan teknologi yang masih awal bagi masyarakat dan mungkin penggunanya.

Kasus demi kasus mobil listrik tersebut yang diprediksi menjauhkan calon pembeli di kemudian hari menurut Michelle Krebs, direktur hubungan otomotif di AutoTrader.

Menurut Krebs pihaknya memang secara rutin selalu melakukan survei kepada pembeli mobil. Hasil survei menyebutkan prioritas calon konsumen pada mobilnya adalah keamanan.

Selain merek mobil yang disebutkan sebelumnya, produsen mobil listrik Tesla juga pernah menghadapi tuntutan terkait masalah kebakaran mobil. Tesla kemudian memperbarui perangkat lunak kendaraan dan menambah pelat di bawah mobil dengan kualitas lebih baik.

Penyebab baterai terbakar

Mobil listrik dilengkapi baterai lithium ion untuk memuat daya listrik sebagai sumber tenaga. Baterai itu dapat terbakar jika diproduksi secara tidak benar, rusak, atau jika perangkat lunak yang melindungi baterai dari pengisian listrik gagal berfungsi.

Hal tersebut dikatakan Ken Boyce, direktur insinyur utama Teknologi Energi dan Daya di Underwriters Laboratories, sebagai grup pengujian dan keamanan produk.

Penjelasan Boyce baterai memiliki sel yang disatukan dalam satu paket baterai. Sebuah mobil listrik dapat memiliki ratusan atau bahkan ribuan sel baterai di dalam satu atau lebih kemasan baterai.

Sedangkan saat ini permintaan konsumen akan kendaraan listrik agar dapat melaju lebih jauh dalam satu kali pengisian baterai. Hal ini tentu membuat produsen memikirkan bagaimana membuat baterai dengan kapasitas besar, namun tidak membuat kemasannya besar dan menjadi lebih berat.

Kata Boyce itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, tetapi harus dilakukan dengan tetap mematuhi standar keselamatan industri agar tidak berisiko terbakar. Menurut dia lebih banyak energi dalam baterai berarti lebih banyak energi yang berpotensi tumpah di luar kendali jika terjadi kesalahan.

"Bukannya kepadatan energi yang meningkat membuatnya lebih berbahaya. Ini hanya berarti bahwa jauh lebih penting untuk memastikan bahwa keselamatan (baterai) benar-benar dikelola secara benar agar efektif," kata Boyce, mengutip CNN, Rabu (11/11).

(ryh/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK