Napak Tilas Dua Tahun Tsunami Senyap Selat Sunda

CNN Indonesia | Selasa, 22/12/2020 06:36 WIB
Tsunami senyap Selat Sunda telah meluluhlantakkan pesisir Banten dan Lampung dua tahun lalu, tepatnya 22 Desember 2018 pukul 21.47 WIB. Ilustrasi penampakan usai tsunami di Selat Sunda. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tsunami senyap Selat Sunda telah meluluhlantakkan pesisir Banten dan Lampung dua tahun lalu, tepatnya 22 Desember 2020 pukul 21.47 WIB. Tsunami yang tanpa didahului gempa bumi tektonik berkekuatan besar sebagai tanda peringatan disebut ahli menjadi fenomena pertama di dunia.

Sehari sebelum terjadinya tsunami, sekira pukul 13.51 WIB, Gunung Anak Krakatau (GAK) meletus, ketinggian kolom abu berwarna hitam mencapai 400 meter di atas puncak, statusnya kala itu level II.

Kemudian, masih ditanggal yang sama, BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi antara 1,5 hingga 2,5 meter yang akan terjadi tanggal 22 sampai 25 Desember 2018.


Malam sekitar pukul 20.56 WIB terjadi erupsi GAK yang memicu longsornya lereng gunung tersebut. Estimasi luasan longsoran tersebut sekitar 64 hektar.

Tak lama setelah itu, jam 21.03 WIB, sensor seismograph BMKG di Cigeulis, Kabupaten Pandeglang (CGJI) dan beberapa sensor di wilayah Banten serta Lampung mencatat adanya getaran, namun sinyal yang tercatat tersebut bukan merupakan getaran gempa bumi tektonik.

Imbasnya sistem pendeteksi gempa BMKG tidak memproses secara otomatis. Sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) dibangun untuk mendeteksi gempa-gempa tektonik.

"Pukul 21.30 WIB, BMKG baru dapat laporan kepanikan masyarakat di wilayah Banten dan Lampung, karena air laut pasang yang tidak normal," kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Tangerang, Suwandi lewat keterangan tertulis.

Petugas kemudian langsung cek perangkat monitoring pasang surut air laut (tide gauge) yang dioperasionalkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG).

Data yang terkumpul saat itu, ketinggian air di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, mencapai 90 cm pukul 21.27 WIB. Ketinggian air di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon mencapai 35 cm pukul 21.33 WIB.

Di Kecamatan Kota Agung, Lampung, ketinggiannya 36 cm pukul 21.35 WIB dan di Kecamatan Panjang, Lampung, ketinggiannya 28cm.

Berdasarkan data yang terkumpul pada 23 Desember 2020, BMKG akhirnya menyatakan tsunami telah menerjang Banten dan Lampung, yang disebabkan bukan karena gempa tektonik.

Hasil survei empat hari setelah kejadian, tsunami di sepanjang pantai Sumatera dan Jawa, ketinggian gelombang datang atau run-up mencapai 13,5 meter dan menerjang daratan sejauh 330 m.

"Menurut laporan dan data citra satelit, tsunami hampir pasti disebabkan oleh runtuhnya sisi gunung berapi Anak Krakatau di Selat Sunda. Citra satelit dari otoritas informasi geospasial Jepang membandingkan Anak Krakatau sebelum tsunami, menunjukkan bahwa lereng Barat Daya jelas runtuh," terangnya.

Berdasarkan survei lapangan pada tsunami Selat Sunda tahun 2018 lalu, pada beberapa lokasi, terjangan airnya mencapai sejauh 330 meter masuk ke daratan.

Karenanya, seluruh lapisan masyarakat diminta mendirikan bangunan sejarak 500 meter dari bibir pantai, demi keamanan dan keselamatan bersama.

Kemudian hutan pantai di bagian selatan Banten, berkontribusi terhadap penurunan ketinggian tsunami hingga 88 persen saat terjadi tsunami Selat Sunda 2018.

Pemerintah daerah juga diminta untuk dapat bekerjasama dengan berbagai instansi hingga perguruan tinggi yang memahami kondisi cuaca dan kebencanaan, untuk melakukan mitigasi bencana di wilayahnya. Sehingga mampu menekan korban jiwa maupun kerusakan.

"Bencana terjadi tidak menunggu saat kita siap, maka persiapkan diri kita sekarang," jelasnya.

(yan/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK