5G Hingga Isu Vaksin Covid-19, Sasaran Empuk Peretas di 2021

CNN Indonesia | Selasa, 05/01/2021 10:27 WIB
Isu 5G hingga vaksin Covid-19 akan jadi sasaran empuk peretas di 2021. Ilustrasi. Isu 5G dan vaksin Covid-19 jadi sasaran empuk peretas di 2021 (dok. screenshot Apple)
Jakarta, CNN Indonesia --

Isu seputar 5G hingga vaksin Covid-19 masih akan jadi sasaran empuk peretas di 2021.

Sejak tahun lalu, ketakutan orang-orang terhadap COVID-19 telah digunakan peretas untuk melancarkan serangan keamanan siber.

Apalagi saat ini sasaran mereka makin banyak. Sebab, sejak Covid-19 menjadi pandemi, banyak warga di berbagai negara yang mesti beradaptasi dengan penggunaan internet.


Sebanyak 40 juta pengguna Internet di Asia Tenggara untuk pertama kalinya beraktivitas online secara rutin tahun ini, banyak di antaranya berasal dari daerah non-kota di Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Dengan demikian terdapat total 400 juta pengguna internet, yang berarti 70 persen dari total penduduk di kawasan ini.

Pada tahun lalu, serangan dunia maya yang paling sering digunakan untuk warga di Asia Tenggara adalah dengan cryptomining, penipuan phishing, ransomware bertarget, dan DDoS (penolakan layanan terdistribusi).

Tidak ada modus baru dalam serangan siber tersebut. Namun teknik ini terbukti efektif karena pelaku hanya perlu memanfaatkan rantai terlemah dari manusia.

"Seperti biasa, rekayasa sosial tetap menjadi salah satu vektor serangan yang paling efektif, " ujar Peneliti Keamanan Kaspersky Asia Pasifik, Muhammad Umair, seperti dikutip dari keterangan resmi, Selasa (5/12).

Berikut sejumlah isu yang bakal jadi sasaran empuk peretas menyusup di 2021.

Vaksin Covid-19

Para ahli memproyeksikan peningkatan serangan terhadap peralatan medis di negara-negara di mana transformasi digital dalam sektor kesehatan sedang berkembang.

Pada tahun 2020, minat peretas untuk memalsukan isu terkait penelitian medis juga naik akibat meningkatnya pencarian orang soal kabar pandemi Covid-19.

Tren ini akan berlanjut hingga 2021 dan diprediksi akan terdapat banyak upaya serangan, terutama terkait dengan ketersediaan vaksin.

"Kita mungkin melihat umpan serupa yang menggabungkan tema vaksinasi," tulis Kaspersky.

Pemilu

Pemilu jadi salah satu peristiwa yang kerap menjadi sasaran serangan siber. Sebagai contoh, pembobolan data pemilih Pemilu 2019 lalu yang ramai diberitakan tahun lalu.

Sama seperti beberapa dari negara lain yang bersiap mengumpulkan informasi terbaru tentang para pemilih selama pemilu yang akan datang, bukan hal mengejutkan bahwa upaya intrusi serupa mungkin terjadi di sini juga.

Keamanan Cloud

Semakin banyak perusahaan yang menggabungkan cloud dalam model bisnis mereka karena kenyamanan dan skalabilitas yang ditawarkan. Namun, ini menjadi permukaan serangan yang relatif baru dan meningkat seiring semakin banyaknya bisnis yang bergabung.

Transformasi 5G

Ahli menilai, adopsi teknologi 5G yang meluas di perangkat seluler dengan vendor perangkat keras. Diperkirakan teknologi ini dianggap rentan peretasan karena fungsi operasional 5G banyak yang dialihkan ke perangkat lunak.

Padahal peretasan lebih cenderung terjadi lewat perangkat lunak. Dengan demikian, 5G dianggap punya lebih banyak titik kerentanan untuk disusupi peretas.

Digitalisasi

Penggunaan layanan dan transaksi online meningkat drastis di 2020. Hal ini berpotensi meningkatnya korban kejahatan dunia maya.

Peningkatan jumlah serangan phishing di paruh pertama tahun 2020 dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2021.

Makin populernya kerja jarak jauh dan ketergantungan pada VPN membuka potensi serangan lewat jalur ini. Kredensial VPN bisa jadi incaran. Kemungkinan lainnya adalah kejahatan siber yang dapat menjadi aksi spionasetanpa menyebarkan malware.

(can/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK