Ines Atmosukarto
Menyelesaikan B.Sc dan PhD di bidang biologi molekuler di Australia. Menjadi perempuan Indonesia pertama yang memenangkan Fellowship dari UNESCO-L’Oreal For Women In Science pada 2004. Kini menjabat CEO di biotech start-up bidang pengembangan vaksin dan sistem penghantaran obat lipotek.

KOLOM

Angka di Balik Ucap Syukur Jokowi

Ines Atmosukarto, CNN Indonesia | Selasa, 09/02/2021 10:34 WIB
Pemerintah yang hanya bertumpu pada vaksin semata untuk mengatasi Covid-19 dinilai bakal sulit keluar dari krisis pandemi. Presiden Jokowi memulai vaksinasi pada pertengahan Januari lalu. (Laily Rachev - Biro Setpres)
Jakarta, CNN Indonesia --

Minggu terakhir bulan Januari 2021 adalah minggu yang memprihatinkan. Di saat masyarakat Indonesia diajak oleh Presiden Joko Widodo untuk bersyukur, angka kasus terkonfirmasi positif melewati satu juta orang dan lebih dari dua puluh delapan ribu saudara kita tercatat tumbang karena Covid-19.

"Kita bersyukur, Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik," kata Jokowi saat memberi sambutan secara virtual pada Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI), Senin (25/1).

Kendati demikian, Jokowi mengakui bahwa persoalan pandemi belum sepenuhnya berakhir. Ia meminta masyarakat tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.


Setelah merenungkan berita tersebut, saya sadar mungkin ada sedikit kebenaran dalam ajakan itu, walau konteksnya memang tidak tepat.

Dengan populasi Indonesia yang kurang lebih 270 juta, tingkat kematian (resmi) per 1 juta penduduk Indonesia lebih kecil daripada yang dilaporkan 16 negara lain termasuk negara dengan tingkat perekonomian (dan infrastruktur) yang lebih hebat.

Namun, keakuratan angka-angka resmi tersebut banyak diperdebatkan, salah satunya karena keterbatasan testing di Indonesia yang tercermin dari positivity rate yang umumnya di atas 20 persen bahkan tak jarang di atas 30 persen dalam dua pekan terakhir ini.

Demikian juga angka kematian yang bisa dipastikan di atas angka resmi tersebut berdasarkan penelitian ekses kematian dari tim Eijkman-Oxford Clinical Research Unit, Jakarta.

Tidak bisa dipungkiri total kematian di Indonesia ada di bawah angka yang dilaporkan negara yang jauh lebih kaya seperti AS (sekalipun angka RI ini dikoreksi 2-3 kali lipat).

Tetapi sebaiknya, kita menahan diri untuk bersyukur karena penting untuk disadari bahwa ini bukan 'by design', melainkan suatu berkah sebagai negara dengan komposisi kependudukan yang cenderung muda. Ini poin yang mungkin bisa disyukuri: bahwa Indonesia adalah negara yang muda dengan 86,5 persen penduduk berumur 55 tahun atau kurang.

Adakah hal lain yang bisa disyukuri?

Ternyata ada, misalnya beberapa hal ini:

Pertama, kita patut mensyukuri bahwa dalam waktu kurang dari satu tahun, berkat investasi dari beberapa pihak termasuk BMGF (Bill & Melinda Gates Foundation) dan CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) yang mendukung penelitian jangka panjang di bidang pengembangan vaksin. Hasilnya, telah tercipta bukan satu, dua atau sepuluh calon vaksin tetapi ratusan calon vaksin Covid-19 yang saat ini sedang dievaluasi.

Patut pula disyukuri bahwa dari kandidat vaksin tersebut sudah lebih dari 25 memasuki dan setidaknya lima sudah melewati uji klinis tahap 3 (pembuktian efikasi) yang relatif transparan. Hinggga, memungkinkan diterbitkannya EUA (Emergency Use Authorization) agar bisa digunakan dalam keadaan pandemi.

Pengembangan vaksin Covid-19 ini memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang vaksin campak (yang proses pengembangannya memakan waktu 4,5 tahun). Tentunya ini berkat investasi yang luar biasa dari sektor not-for-profit, pemerintah maupun industri.

Kedua, harus disyukuri adanya puluhan, bahkan ratusan ribu orang di berbagai belahan dunia, yang menjadi relawan untuk berpartisipasi dalam uji klinis, mulai dari tahap 1 sampai dengan tahap 3.

Sejumlah tenaga kesehatan mendapatkan vaksinasi dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021. CNN Indonesia/Adhi WicaksonoVaksinasi massal dosis pertama vaksin Sinovac untuk tenaga kesehatan di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Tanpa kerelaan mereka untuk membantu sesama, maka pengetahuan kita akan pengobatan dan vaksin yang tepat untuk melawan SARS-CoV-2 tidak akan berkembang cepat dan tingkat kematian global akan lebih tinggi.

Ketiga, mesti pula disyukuri bahwa Indonesia adalah satu dari sejumlah kecil negara yang telah memulai program vaksinasi nasional, walau kecepatannya cukup lamban--dalam periode 13-31 Januari baru sekitar 493 ribu orang saja yang mendapat suntikan pertama vaksin Sinovac dan hanya 22 ribuan sudah lengkap dua kali penyuntikan.

Hal ini jelas di bawah target 800 ribu penyuntikan per hari yang diperlukan untuk mencapai target vaksinasi 70 persen penduduk dalam waktu 15 bulan.

Pemerintah dilaporkan giat mengejar diversifikasi portofolio vaksin Covid-19 tetapi hal ini tidak menjamin supply.

Perebutan vaksin bahkan di antara negara sekutu (Inggris dan Uni Eropa) sudah terlihat minggu terakhir Januari 2021 karena keterbatasan supply dari AstraZeneca.

Lebih parah lagi, sudah terlihat jurang yang signifikan antara negara kaya (baca Barat) dengan negara Asia, Afrika dan Amerika Selatan, seperti disoroti oleh Adam Kucharski, penulis buku The Rules of Contagion dari The London School of Hygiene and Tropical Medicine belum lama ini lewat Twitter.

Terakhir, kita patut bersyukur adanya perubahan kepemimpinan di Kementerian Kesehatan RI yang diharapkan akan berlanjut dengan munculnya kebijakan yang berbasis sains.

Meski begitu, sangat penting untuk disadari bahwa program vaksinasi 70 persen penduduk Indonesia yang ditargetkan pemerintah sangat ambisius.

Apalagi, program ini berjalan saat sektor kesehatan sudah kesulitan, terlihat dari tingginya okupansi tempat tidur rumah sakit, penuhnya ICU dan keterbatasan oksigen yang dilaporkan berbagai media masa.

Karena itu, walau berita lolosnya vaksin dari uji klinis dan terbitnya EUA di Indonesia patut disambut dengan baik, sangatlah penting untuk disadari bahwa vaksinasi hanyalah satu dari sekian banyak lapisan penanggulangan, seperti yang digambarkan pertama kali oleh D. Orlandella and J.T. Reason dari the University of Manchester dan dengan lantang dipromosikan di Indonesia oleh Pandu Riono dari Universitas Indonesia.

Banyak keprihatinan yang sebaiknya tidak tertelan oleh euforia vaksin.

Di antaranya, tingkat kematian pada anak-anak yang sangat tinggi, meninggalnya tenaga kesehatan (yang dilaporkan oleh Kawal Covid-19 setidaknya ada 684, di antaranya 258 dokter)--padahal sebelum pandemi saja, tercatat di Indonesia hanya ada 4 orang dokter rata-rata untuk melayani 10 ribu penduduk. Ini artinya, sekitar 645 ribuorang terancam kehilangan pelayanan kesehatan oleh dokter karena gugurnya dokter.

Lebih memprihatinkan lagi adalah 3T (Testing, Tracing & Treating) yang sub-optimal dan strategi komunikasi pemerintah yang membingungkan.

Pada akhirnya kecenderungan untuk menumpu harapan pada intervensi biomedis (terutama vaksin) yang dianggap lebih modern dan instan, dibandingkan pendekatan yang berbasis kesehatan masyarakat melalui edukasi dan perubahan perilaku, berpotensi untuk mengancam kesuksesan program vaksinasi dan meredanya pandemi.

Belum lama ini Bruce Aylward dari WHO sudah mengingatkan kita, negara yang hanya menumpu harapan pada vaksin besar kemungkinan akan gagal mengatasi pandemi. Ini masuk akal, karena bagaimana mungkin ekonomi dapat pulih di tengah pandemi yang tak berakhir?

(stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK