Facebook Bekukan Akun Presiden Venezuela, Dianggap Sebar Hoax

Eka Santhika, CNN Indonesia | Rabu, 31/03/2021 00:11 WIB
Facebook membekukan akun pribadi Presiden Venezuela Maduro karena dianggap melanggar kebijakan hoax soal Covid-19. Ilustrasi Facebook (AFP/DENIS CHARLET).
Jakarta, CNN Indonesia --

Facebook membekukan akun pribadi Presiden Venezuela Maduro lantaran dianggap melanggar aturan kebijakan terhadap penyebaran informasi hoax tentang Covid-19.

Perwakilan Facebook mengatakan pihaknya juga telah menghapus video yang isinya mempromosikan Carvativir, obat buatan Venezuela yang diklaim dapat menyembuhkan virus SARS CoV-2.

Langkah itu diambil Facebook karena mengikuti pedoman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan virus Corona.


Akibat pembekuan ini, Pemerintah Venezuela menuding Facebook telah melakukan 'totaliterisme digital' karena telah membekukan laman pribadi milik Presiden Nicolas Maduro selama 30 hari, Minggu (28/3).

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Informasi Venezuela mengatakan Facebook mengejar konten yang diarahkan untuk memerangi pandemi Covid-19 dan menggambarkan Carvativir sebagai retroviral dari 'produksi dan rekayasa nasional'.

"Kami melihat totaliterisme digital yang dilakukan oleh perusahaan internasional yang ingin memaksakan hukum mereka di negara lain di dunia," ujar perwakilan kementerian itu seperti dikutip Reuters.

Namun Facebook enggan berkomentar terkait tudingan tersebut.

Para dokter di Venezuela telah memperingatkan bahwa efektivitas Carvativir terhadap virus korona belum diketahui. Obat itu berasal dari thyme, yang merupakan ramuan kuno yang telah digunakan selama berabad-abad dalam pengobatan tradisional.

Presiden Maduro yang dicap sebagai diktator oleh beberapa negara lain, mencuit di akun Twitter pribadinya pada Minggu, (28/3). Ia akan menyiarkan informasi virus korona hariannya di akun Facebook istrinya, Silia Flores.

Negara itu telah mengalami lonjakan kasus infeksi baru-baru ini. Venezuela telah melaporkan setidaknya 155.600 kasus COVID-19 dan lebih dari 1.500 kematian sejak pandemi dimulai.

Meski terjadi peningkatan kasus, dikutip Aljazeera pemerintah setempat tidak akan menerima vaksin AstraZeneca yang dikirimkan oleh WHO kepada negara-negara berpenghasilan rendah, dengan alasan kekhawatiran dari efek samping.

Namun Venezuela sejauh ini telah menyetujui penggunaan vaksin yang dikembangkan oleh Rusia dan China.

(eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK