Deretan Masalah Pembangunan Jaringan 5G di Indonesia
jps | CNN Indonesia
Jumat, 09 Apr 2021 20:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi 5G. (dok. screenshot Apple)
Jakarta, CNN Indonesia --
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi menyatakan ada dua kendala pengembangan jaringan 5G di Indonesia. Dia mengatakan dua kendala berkaitan dengan spektrum frekuensi dan standardisasi.
"Kendala ada dua, pertama alokasi spektrum frekuensi dan kedua ada standardisasi," ujar Heru kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/4).
Heru menuturkan sebenarnya keduanya bisa mengikuti trend di banyak negara dan aturan yang sudah ditetapkan International Telecommunication Union (ITU). Dalam hal frekuensi misalnya, dia menyebut utamanya di 3,5 GHz, kemudian 2,5/2,6 GHz dan 700 MHz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia berkata frekuensi itu sudah banyak dipakai di banyak negara. Sehingga, perlu jadi pilihan Indonesia agar dapat interoperabilitas dan perangkat yang lebih murah dibanding frekuensi eksklusif yang hanya dipakai di beberapa negara.
"Jadi ini harus fokus dan segera ada upaya pembebasan mengingat ada penggunaan di frekuensi tersebut saat ini," ujarnya.
Heru menyampaikan Indonesia sebaiknya mengikuti ITu dalam hal standarisasi. Dia meminta pemerintah tidak membuat standar sendiri.
"Sebab kita pernah gagal saat mengadopsi WiMax dengan standar yang berbeda," ujar Heru.
Di sisi lain, Heru Undang-Undang Cipta Kerja membantu karena ada bahasan mengenai Analog Switch Off (ASO), dimana maksimal selesai 2 November 2022. Sehingga frekuensi itu akan siap juga ketika digunakan.
Anggota Tim Pelaksana Wantiknas Garuda Sugardo menyatakan ada kekeliruan mendasar tentang 5G, yakni persepsi bahwa penggelaran jaringannya haruslah seluas 3G atau 4G. Dia menilai hal ini terjadi tidak hanya di kalangan masyarakat awam, tetapi juga di strata penentu kebijakan.
Platform 5G juga dianggap menjanjikan waktu latensi yang amat singkat, sekitar 4 ms atau 5 kali dibandingkan 4G. Lengkap sudah, kata dia mimpi mengunduh film berdurasi putar 1 jam hanya dilakukan dalam sekejap.
"Orang lantas berangan-angan bahwa dengan ponsel 5G di genggamannya, maka ia bisa melakukan akses internet dengan transmission speed 20 Gbps atau 20 kali dari 4G LTE yang digunakannya sekarang," ujar Garuda.
Agar tidak terjadi kesalahan tafsir, dia menyarankan penggelaran seluler 5G di fase awal haruslah menyasar segmen kawasan industri, pabrik berteknologi maju, rumah sakit besar, bandara/ pelabuhan dan sebangsanya. Dengan coverage yang terbatas atau klaster-klaster.
Kemudian, Garuda menyampaikan tersediaya spektrum frekuensi sebagai 'lahan' adalah prasyarat utama untuk penggelaran 5G.
Masalahnya, dia melihat pita bebas yang tersedia amat terbatas, tapi operator peminat 5G banyak dan spektrum yang ada saat ini masih diduduki oleh operator BWA (WiMax), transmisi satelit, televisi analog dan lain-lain.
Garuda memandang lelang pita frekuensi radio di pita 2,3 GHz pada rentang 2360 - 2390 MHz (30 Mhz) yang dilakukan Kominfo sekitar akhir tahun 2020 yang lalu, sebenarnya adalah langkah maju menuju era 5G Indonesia.
Tiga operator, yaitu Telkomsel, Smartfren dan Hutchison Tri, masing-masing mendapatkan 10 MHz dengan harga penawaran yang sama Rp144,8 miliar, atau US$10 juta.
"Artinya harga spektrum di 2,3 GHz tersebut, sekitar US$1 juta per 1Mhz band. Sayang prosesnya kemudian dihentikan (dibatalkan) pada minggu ke-3 Januari 2021. Mengapa? Banyak yang menduga harga tersebut terlalu 'murah', bila kemudian juga menjadi referensi sebagai uang ganti rugi bagi pemilik lahan di spektrum tersebut," ujarnya.
Garuda berkata harapan berikutnya adalah program ASO bagi televisi analog bermigrasi ke sistem digital. Dengan ASO maka spektrum 700 MHz yang berlebih dapat digunakan untuk mobile internet broadband 5G.
"Selain itu, spektrum frekuensi di 3,5 GHz yang saat ini antara lain digunakan untuk transmisi satelit Telkom, sangat ideal dipakai berbagi untuk 5G," ujar Garuda.
Lebih dari itu, Garuda menyampaikan ada tiga lapisan spektrum yang bisa dialokasikan bagi 5G, yaitu: lower band (orientasi cakupan) di pita 700, 800, 900 Mhz; mid band (orientasi kapasitas) di pita 2,3 atau 2,6, atau 3,5 GHz; dan upper band (orientasi kendali) di pita 26 dan 28 GHz.
"Hal ini dimungkinkan karena 5G termasuk dalam network neutrality," ujarnya.
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi menyatakan ada dua kendala pengembangan jaringan 5G di Indonesia. Dia mengatakan dua kendala berkaitan dengan spektrum frekuensi dan standardisasi.
"Kendala ada dua, pertama alokasi spektrum frekuensi dan kedua ada standardisasi," ujar Heru kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/4).
Heru menuturkan sebenarnya keduanya bisa mengikuti trend di banyak negara dan aturan yang sudah ditetapkan International Telecommunication Union (ITU). Dalam hal frekuensi misalnya, dia menyebut utamanya di 3,5 GHz, kemudian 2,5/2,6 GHz dan 700 MHz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia berkata frekuensi itu sudah banyak dipakai di banyak negara. Sehingga, perlu jadi pilihan Indonesia agar dapat interoperabilitas dan perangkat yang lebih murah dibanding frekuensi eksklusif yang hanya dipakai di beberapa negara.
"Jadi ini harus fokus dan segera ada upaya pembebasan mengingat ada penggunaan di frekuensi tersebut saat ini," ujarnya.
Heru menyampaikan Indonesia sebaiknya mengikuti ITu dalam hal standarisasi. Dia meminta pemerintah tidak membuat standar sendiri.
"Sebab kita pernah gagal saat mengadopsi WiMax dengan standar yang berbeda," ujar Heru.
Di sisi lain, Heru Undang-Undang Cipta Kerja membantu karena ada bahasan mengenai Analog Switch Off (ASO), dimana maksimal selesai 2 November 2022. Sehingga frekuensi itu akan siap juga ketika digunakan.
Anggota Tim Pelaksana Wantiknas Garuda Sugardo menyatakan ada kekeliruan mendasar tentang 5G, yakni persepsi bahwa penggelaran jaringannya haruslah seluas 3G atau 4G. Dia menilai hal ini terjadi tidak hanya di kalangan masyarakat awam, tetapi juga di strata penentu kebijakan.
Platform 5G juga dianggap menjanjikan waktu latensi yang amat singkat, sekitar 4 ms atau 5 kali dibandingkan 4G. Lengkap sudah, kata dia mimpi mengunduh film berdurasi putar 1 jam hanya dilakukan dalam sekejap.
"Orang lantas berangan-angan bahwa dengan ponsel 5G di genggamannya, maka ia bisa melakukan akses internet dengan transmission speed 20 Gbps atau 20 kali dari 4G LTE yang digunakannya sekarang," ujar Garuda.
Fasel Awal Jaringan 5G untuk Industri
Ilustrasi 5G. (iStockphoto/AndreyPopov)
Agar tidak terjadi kesalahan tafsir, dia menyarankan penggelaran seluler 5G di fase awal haruslah menyasar segmen kawasan industri, pabrik berteknologi maju, rumah sakit besar, bandara/ pelabuhan dan sebangsanya. Dengan coverage yang terbatas atau klaster-klaster.
Kemudian, Garuda menyampaikan tersediaya spektrum frekuensi sebagai 'lahan' adalah prasyarat utama untuk penggelaran 5G.
Masalahnya, dia melihat pita bebas yang tersedia amat terbatas, tapi operator peminat 5G banyak dan spektrum yang ada saat ini masih diduduki oleh operator BWA (WiMax), transmisi satelit, televisi analog dan lain-lain.
Garuda memandang lelang pita frekuensi radio di pita 2,3 GHz pada rentang 2360 - 2390 MHz (30 Mhz) yang dilakukan Kominfo sekitar akhir tahun 2020 yang lalu, sebenarnya adalah langkah maju menuju era 5G Indonesia.
Tiga operator, yaitu Telkomsel, Smartfren dan Hutchison Tri, masing-masing mendapatkan 10 MHz dengan harga penawaran yang sama Rp144,8 miliar, atau US$10 juta.
"Artinya harga spektrum di 2,3 GHz tersebut, sekitar US$1 juta per 1Mhz band. Sayang prosesnya kemudian dihentikan (dibatalkan) pada minggu ke-3 Januari 2021. Mengapa? Banyak yang menduga harga tersebut terlalu 'murah', bila kemudian juga menjadi referensi sebagai uang ganti rugi bagi pemilik lahan di spektrum tersebut," ujarnya.
Garuda berkata harapan berikutnya adalah program ASO bagi televisi analog bermigrasi ke sistem digital. Dengan ASO maka spektrum 700 MHz yang berlebih dapat digunakan untuk mobile internet broadband 5G.
"Selain itu, spektrum frekuensi di 3,5 GHz yang saat ini antara lain digunakan untuk transmisi satelit Telkom, sangat ideal dipakai berbagi untuk 5G," ujar Garuda.
Lebih dari itu, Garuda menyampaikan ada tiga lapisan spektrum yang bisa dialokasikan bagi 5G, yaitu: lower band (orientasi cakupan) di pita 700, 800, 900 Mhz; mid band (orientasi kapasitas) di pita 2,3 atau 2,6, atau 3,5 GHz; dan upper band (orientasi kendali) di pita 26 dan 28 GHz.
"Hal ini dimungkinkan karena 5G termasuk dalam network neutrality," ujarnya.