Penjelasan Facebook Sebanyak 530 Juta Data Pengguna Bocor

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Kamis, 08/04/2021 13:21 WIB
Facebook menyarankan pengguna memastikan bahwa pengaturan mereka selaras dengan apa yang ingin mereka bagikan secara publik. Sebanyak 530 juta data pengguna Facebook yang bocor merupakan data lama. (Foto: AFP/OLIVIER DOULIERY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Manajemen Produk Mike Clark angkat bicara terkait dengan pemberitaan tentang 530 juta data pengguna Facebook yang bocor. Data yang bocor merupakan data lama dan bukan hasil dari peretasan sistem Facebook.

"Penting untuk dipahami bahwa aktor jahat memperoleh data ini bukan melalui peretasan sistem kami, tetapi dengan mengekstraknya dari platform kami sebelum September 2019," ujar Clark dalam blog resmi.

Clark menuturkan data itu diperoleh dengan metode scraping. Dia berkata scraping adalah taktik umum yang seringkali mengandalkan software otomatis untuk mengangkat informasi publik dari internet yang akhirnya bisa didistribusikan di forum online seperti ini.


Clark menyampaikan metode yang digunakan untuk mendapatkan kumpulan data ini sebelumnya telah dilaporkan pada 2019.

"Ini adalah contoh lain dari perusahaan teknologi hubungan permusuhan yang sedang berlangsung dengan penipu yang dengan sengaja melanggar kebijakan platform untuk mengikis layanan internet. Sebagai hasil dari tindakan yang kami ambil, kami yakin bahwa masalah khusus yang memungkinkan mereka menghapus data ini pada tahun 2019 sudah tidak ada lagi," ujarnya.

Lebih lanjut, Clark meyakini data yang dipermasalahkan diambil dari profil Facebook pengguna dengan menggunakan pengimpor kontak sebelum September 2019. Fitur itu sebenarnya dirancang untuk membantu orang-orang dengan mudah menemukan teman-teman mereka untuk terhubung di layanan perusahaan menggunakan daftar kontak mereka.

"Saat kami mengetahui bagaimana aktor jahat menggunakan fitur ini pada tahun 2019, kami melakukan perubahan pada pengimpor kontak," ujar Clark.

Terkait fitur itu, Facebook memperbaruinya untuk mencegah pelaku jahat menggunakan perangkat lunak untuk meniru aplikasi perusahaan dan mengunggah sejumlah besar nomor telepon untuk melihat mana yang cocok dengan pengguna Facebook.

Melalui fungsi sebelumnya, mereka dapat menanyakan sekumpulan profil pengguna dan mendapatkan sekumpulan informasi terbatas tentang pengguna yang termasuk dalam profil publik mereka.

"Informasi tersebut tidak termasuk informasi keuangan, informasi kesehatan atau kata sandi," ujarnya.

Fokus melindungi data pengguna

Facebook menambahkan fokus untuk melindungi data orang-orang dengan berupaya menghapus kumpulan data ini dan akan terus secara agresif mengejar aktor jahat yang menyalahgunakan alatnya jika memungkinkan.

"Meskipun kami tidak selalu dapat mencegah kumpulan data seperti ini beredar kembali atau yang baru muncul, kami memiliki tim khusus yang berfokus pada pekerjaan ini," ujar Clark.

Lebih dari itu, Facebook menyarankan pengguna memastikan bahwa pengaturan mereka selaras dengan apa yang ingin mereka bagikan secara publik. Kemudian, memperbarui kontrol 'Bagaimana Orang Menemukan dan Menghubungi Anda' juga dinilai dapat membantu.

"Kami juga menyarankan orang-orang melakukan pemeriksaan privasi rutin untuk memastikan bahwa pengaturan mereka berada di tempat yang tepat, termasuk siapa yang dapat melihat informasi tertentu di profil mereka dan mengaktifkan otentikasi dua faktor," ujarnya.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK