FBI Disebut Kucurkan Rp131 M untuk Akses Data iPhone

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 11:00 WIB
FBI awalnya meminta bantuan Apple untuk membuka akses ke iPhone yang terkunci. Namun Apple menolak dengan alasan menyalahi aturan. Ilustrasi FBI bobol data iPhone. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Federal Bureau of Investigation (FBI) dikabarkan mengucurkan dana Rp131 miliar untuk membayar pihak ketiga mengakses kombinasi angka iPhone.

Sekitar lima tahun silam, Ellen Nakashima dan Reed Albergotti dari Washington Post telah mengungkap bagaimana FBI Amerika Serikat berhasil membuka kunci iPhone milik teroris yang terlibat dalam penembakan di San Bernardino, Syed Rizwan Farook.

FBI awalnya meminta bantuan Apple untuk membuka akses ke iPhone yang terkunci, dengan harapan dapat mengungkap informasi yang dapat membantu penyelidikan. Namun Apple menolak dengan alasan menyalahi aturan.


Tim Cook selaku CEO Apple sempat menjelaskan pemerintah AS meminta perusahaannya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan perusahaan. Apple diminta untuk mengakses data ke iPhone milis teroris tersebut.

FBI pun dikabarkan mencari jalan dan menemukan sebuah perusahaan kecil asal Australia bernama Azimuth Security yang dapat memberikan solusi. Tantangannya adalah, mereka hanya memiliki sejumlah peluang untuk menebak kode sandi telepon.

Dikutip The Next Web, jika batas percobaan kode sandi gagal, perangkat secara otomatis akan menghapus data di dalam ponsel.

Layanan tersebut memungkinkan FBI dapat membuka kunci ponsel Syed Rizwan Farook yang telah menembak dan membunuh 14 orang di California Selatan pada 2015.

Azimuth sebenarnya dimiliki oleh L3 Technologies, yang merupakan kontraktor pertahanan besar Amerika Serikat yang menawarkan berbagai layanan pertahanan dan intelijen kepada badan-badan federal besar seperti Pentagon dan Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Azimuth pada dasarnya menemukan kerentanan dalam perangkat lunak untuk mendapatkan akses ke sistem. Ia menggabungkan dua sistem untuk mengambil alih prosesor ponsel, untuk menjalankan program mereka sendiri secara otomatis.

Melalui tahapan ini, tim Azimuth merancang perangkat lunak untuk menguji setiap kemungkinan kombinasi kode sandi tanpa menyebabkan ponsel menghapus datanya sendiri, dan akhirnya perangkat dapat diakses.

Anehnya, Azimuth tidak mengungkapkan sesuatu yang berguna bagi penyelidikan FBI. Kendati demikian disebutkan jika FBI tetap harus membayar jasa Azimuth US$900 ribu atau senilai Rp13,1 miliar.

Hingga kini metode FBI untuk memecahkan kode tersebut masih dirahasiakan. Pihak ketiga pun enggan mengungkap bagaimana membobol sistem keamanan iPhone, tanpa bantuan Apple.

Dikutip Gizmodo, kasus pembobolan iPhone San Bernardino memicu apa yang dikenal sebagai 'Perang Kripto', pertempuran antara Apple dan pemerintah federal atas teknologi terenkripsi.

Sebelum benar-benar membobol telepon, pemerintah federal pada dasarnya berusaha untuk menggertak perusahaan Apple dengan cara menggugat pembuat ponsel untuk membuka akses. Raksasa teknologi itu menolak, dan gugatan itu kemudian dibatalkan.

(mik/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK