LIPI Buka Suara Aksi Lucinta Luna Buat Lumba-lumba Stres

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 18:43 WIB
LIPI merespons aksi artis Lucinta Luna bersama rekan-rekannya 'mengendarai' lumba-lumba dengan memegang siripnya. Ilustrasi lumba-lumba. (AFP/SONNY TUMBELAKA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Artis Lucinta Luna menuai kecaman usai bersama rekan-rekannya 'mengendarai' lumba-lumba dengan memegang siripnya. Aksi tersebut pun sempat diunggah dalam akun Youtube pribadi Lucinta Luna.

Peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Sekar Mira menilai tindakan Lucinta sangat tidak baik untuk ditiru. Dia menilai tindakan Lucinta membuat lumba-lumba tidak nyaman.

"Sangat tidak baik untuk ditiru menungganggi lumba-lumba seperti itu," ujar Sekar kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/4).


Sekar menyampaikan ada banyak cerita dan kesaksian bahwa lumba-lumba dapat menolong orang yang tenggelam di laut, misalnya dengan mendorong atau membiarkan manusia berpegangan pada tubuhnya.

Namun, dia menilai tindakan yang dilakukan di luar kebiasaan, apalagi diulang-ulang tentu bukan sesuatu yang nyaman bagi lumba-lumba, misal pada sirkus.

Lebih lanjut, Sekar juga menilai lumba-lumba digunakan untuk terapi kesehatan seperti autis termasuk dalam kategori eksploitasi. Sehingga, dia menyarankan mengajak anak-anak maupun pasien autis berinteraksi dengan lumba-lumba di habitatnya sendiri.

"Atau dengan dolphin watching yang eco-friendly," ujarnya.

Terkait dengan hal itu, Sekar mengajak semua pihak untuk menikmati alam dengan cara yang lebih bijak. Baginya, mengenal alam yang terbaik adalah dengan mendekat kepada alam.

"Usaha dengan memanfaatkan alam sudah memiliki banyak panduan yang ramah lingkungan saat ini. Mari perlakukan makhluk lain seperti juga kita ingin diperlakukan," ujar Sekar.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Zainal Arifin menyampaikan ada dua norma yang terkait hewan, yakni hewan sebagai bagian layanan kepada manusia, berupa hiburan, terap, dan lain-lain (antrophocentris).

Kedua, hewan sebagai bagian dari komunitas makhluk yang punya hal untuk hidup nyaman, berbagi ruang dengan manusia (nature centris).

"Perubahan pandangan terjadi apabila seseorang atau komunitas telah sadar setiap makhluk punya tempat di satu dunia ini," ujar Zainal.

Zainal mengaku belum pernah melakukan penelitian tentang pengaruh aktivitas manusia terhadap lumba-lumba. Namun, dia menyampaikan riset terkait hal itu sudah banyak dilakukan di negara maju.

"Namun secara logika, lumba-lumba adalah mamalia seperti manusia. Mungkin juga ada perasaan stress, sehingga tidak joyful dalam menikmati hidupnya. What if manusia ditunggangi anak gajah mungkin sakit juga," ujarnya.

Adapun lumba-lumba digunakan sebagai terapi kesehatan, Zainal menekankan harus mengikuti prosedur yang berlaku. Misalnya, tidak memelihara di kolam, tapi dalam sebuah teluk yang besar.

"Semua memperhatikan aspek kesejahteraan hewan," ujar Zainal.

Lebih dari itu, Zainal mengajak semua pihak menjaga habitat hewan liar, termasuk lumba-lumba. Dia meminta adanya jalur pergerakan hewan liar di lautan, layaknya tol laut bagi munusia.

"Let them live in their nature, and we watch them when we want to. Jadi hidup dalam harmoni, walau saat ini di Indonesia berpikir banyak berpikir kesana. Kita masih berpandangan antrophocentris," ujarnya.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK