BMKG: Bukit Algoritma Rawan Gempa karena Diapit 2 Sesar

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 16:23 WIB
Calon kawasan Bukit Algoritma di Sukabumi telah mengalami beberapa kali gempa bumi yang merusak. Bukit Algoritma di Sukabumi berada di tanah ramah gempa. (Foto: CNN Indonesia/Probo Kushartoyo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Bukit Algoritma yang akan disulap dari Silicon Valley versi Indonesia berada di daerah yang rawan gempa.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, Daryono menuturkan daerah itu diapit oleh dua sesar aktif, yakni Sesar Citarik dan Sesar Cimandiri.

"Yang pasti kawasan tersebut adalah daerah rawan gempa karena wilayahnya diapit jalur Sesar Citarik dan Sesar Cimandiri," ujar Daryono kepada CNNIndonesia.com, Rabu (21/4).


Daryono membeberkan calon kawasan Bukit Algoritma di Sukabumi telah mengalami beberapa kali gempa bumi yang merusak. Adapun waktu gempa bumi yang merusak itu terjadi pada tahun 1879, 1900, 1912, 1973, dan 1982. Kemudian pada tahun 2000 terjadi dua kali gempa yang merusak ribuan rumah.

Lebih lanjut, Daryono menyampaikan Sesar Cimandiri terbilang lebih aktif dari Sesar yang ada di dekatnya, yakni Sesar Lembang. Namun, dia menegaskan kembali tidak ada pihak yang bisa memprediksi gempa di kawasan itu.

"Gempa belum dapat diprediksi," ujarnya.

Di sisi lain, Daryono mengatakan Bukit Algoritma boleh dibangun meski wilayah Sukabumi dilintasi jalur sesar aktif Cimandiri dan Citarik. Namun, dia mengingatkan struktur bangunan harus didesain tahan gempa dan mangacu kepada building code.

"Sehingga dapat mengurangi risiko jika terjadi gempa bumi," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur PT Amarta Karya (Persero) Nikolas Agung menyebut akan membangun Bukit Algoritma dengan gedung-gendung antigempa. Perusahaan bidikan yang bakal diajak kerja sama adalah Kajima dan TOA dari Negeri Sakura.

"Belajar dari Jepang akan kami adopsi teknologi bangunan, kawasan masterpiece harus dibangun dengan teknologi terkini untuk mengamankan lokasi ini," kata Nikolas kepada wartawan di Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (18/4).

(can/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK