Jeff Bezos Protes Kontrak Misi ke Bulan Rp42,1 T NASA-SpaceX

CNN Indonesia | Kamis, 29/04/2021 08:10 WIB
Protes dari bos Amazon itu memperkeruh hubungan Jeff Bezos dengan Elon Musk sebagai CEO SpaceX. Jeff Bezos protes NASA dan SpaceX. (AP/Pablo Martinez Monsivais)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan antariksa yang dimotori Amazon milik Jeff Bezos protes kontrak Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang menyerahkan kontrak senilai US$2,9 miliar atau senilai Rp42,1 triliun kepada SpaceX.

Kontrak tersebut untuk bangun pesawat ruang angkasa guna membawa astronaut ke bulan pada 2024.

Langkah tersebut memperkeruh atmosfer antar dua perusahaan antariksa yang dimiliki oleh dua orang terkaya dunia, yakni Jeff Bezos dengan Blue Origin, dan Elon Musk yaitu CEO SpaceX.


Program yang bernama Human Landing System NASA (HLS) dibentuk untuk mendanai perusahaan swasta bersaing mengembangkan pesawat ruang angkasa, yang dapat mengangkut astronaut ke Bulan.

Tetapi awal bulan ini, NASA membuat pengumuman mengejutkan bahwa mereka akan bekerjasama dengan SpaceX sebagai kontraktor proyek tersebut. Penyebabnya adalah minimnya nilai pendanaan.

CEO Blue Origin Bob Smith menuding keputusan NASA salah karena tidak tepat menilai keuntungan dari proposal Blue Origin, dan meremehkan tantangan teknis SpaceX.

Dikutip CNN, Elon Musk berkomentar mengenai pandangan Smith melalui akun Twitternya. Ia menyebut bahwa "Tidak bisa naik (ke orbit)".

SpaceX enggan berkomentar saat dimintai keterangan soal perseteruan lelang proyek ini. Namun Musk menindaklanjuti cuitanya dengan mengacu pada desain peluncur yang diusulkan Blue Origin, yang disebut "Blue Moon," sebagai "Blue Balls."

Sejalan dengan Blue Origin, perusahaan lain yang turut bersaing untuk mendapatkan proyek, Dynetics yang berbasis di Alabama, juga memprotes keputusan NASA.

Baik Blue Origin dan Dynetics protes dan diajukan Government Accountability Office (GAO) kurang dari dua minggu setelah penetapan kontrak.

Dalam protes yang berisi 175 halaman itu kedua perusahaan menuding NASA belum mengevaluasi tawaran mereka dengan benar, dan mendorong badan antariksa itu untuk mempertimbangkan kembali.

Pemerintah memiliki waktu 100 hari hingga 4 Agustus 2021 untuk memutuskan apakah protes itu diterima.

Jatuhnya putusan kontrak semacam itu merupakan hal biasa, terlebih di industri kedirgantaraan di mana NASA dan militer AS adalah pelanggan utama pembuat roket. Kekalahan lelang juga akan berdampak besar pada laba perusahaan.

Dikutip The Verge, NASA mengumumkan keputusannya untuk memilih sistem roket Starship SpaceX pada 16 April 2021. NASA menggarisbawahi biaya yang diusulkan dan kapasitas kargo pesawat ruang angkasa sebagai alasan utama untuk mengalahkan Blue Origin dan Dynetics.

Di bawah kontrak tersebut, Starship milik SpaceX akan menerbangkan dua misi demonstrasi, satu misi uji coba tanpa awak ke permukaan bulan, dan misi lain yang membawa manusia sekitar tahun 2024.

"NASA telah mengeksekusi akuisisi yang cacat terkait program Human Landing System dan memindahkan tujuan pada menit terakhir. Keputusan NASA sangat berisiko," kata Blue Origin.

(can/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK