Al-Biruni, Tokoh Muslim Genius Guru Segala Ilmu Sains

CNN Indonesia | Selasa, 04/05/2021 15:30 WIB
Abu Arrayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni adalah tokoh muslim ahli matematik, astronomi, fisika, kedokteran, dan sejarah. Abu Arrayhan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni. (CNNIndonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pada abad pertengahan terdapat seorang cendekiawan muslim yang sangat terkenal, yakni Abu Arrayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni. Dia adalah salah satu tokoh utama matematika Islam. Dia juga berkontribusi pada astronomi, fisika, kedokteran, dan sejarah.

Al-Biruni lahir di 'pinggiran' Kath, sebuah kota di distrik Khwarizm kuno, yang terletak di selatan Laut Aral. Pada awal karirnya, dia bekerja untuk penguasa Samanid Mansur II, tetapi karena kekacauan politik dia harus sering berganti atasan.

Hingga pada akhirnya dia ditangkap sebagai tahanan politik oleh Sultan Ghaznawid Maḥmūd dan dibawa ke Ghazna, tempat dia tinggal sampai kematiannya.


Melansir Islamic Scientific Manuscripts Initiative, al-Biruni tertarik pada hampir semua cabang ilmu pengetahuan. Jumlah keseluruhan karyanya, sebagian besar dalam bahasa Arab, adalah 146. Namun, hanya 22 yang tersisa.

Setengah dari tulisan itu terkait bidang ilmu eksakta. Selain matematika, astronomi, dan astrologi, ia berprestasi di bidang kronologi, geografi, farmakologi, dan meteorologi.

Di masa mudanya, al-Biruni mempelajari ilmu pengetahuan Yunani, khususnya astronomi. Dia yakin akan pentingnya observasi dan dia mencatat banyak observasi sendiri dalam bukunya.

Salah satu karyanya adalah Taḥdīd al ‐ amākin (penentuan koordinat kota), yang ia tulis saat dalam perjalanan dari Khwarizm ke Ghazna pada tahun 1018. Dalam buku itu, al-Biruni membeberkan penemuan perbedaan garis bujur di kedua kota tersebut dengan mengamati gerhana bulan.

Kemudian, Biruni juga menulis karya berjudul The Chronology of the Ancient Nations yang menjadi pusat tambang informasi pada kalender yang digunakan oleh Persia, Sogdians, Kwārizmians, Yahudi, Suriah, Harranians, Arab, dan Yunani.

Karya itu juga masih menjadi salah satu sumber paling andal tentang kronologi kuno dan abad pertengahan.

Al-Bīrūnī saat itu tidak banyak menyinggung tentang India, karena saat itu dia belum banyak mengetahui tentang kalender India. Di paruh kedua hidupnya, dia baru menjadi semakin tertarik pada budaya India. Perubahan itu mungkin merupakan hasil dari mendampingi Sultan Mahmūd dalam beberapa ekspedisi ke India.

Al-Biruni, Genius Sejak Muda di Seluruh Bidang Sains

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK