Gempa bumi, jika tidak diantisipasi, bisa menjadi bencana alam yang menakutkan. Termasuk di Indonesia yang intensitas gempanya pun terus meningkat dari tahun ke tahun, termasuk kekuatannya.
Selain intensitas, jumlah kematian global akibat gempa bumi pun meningkat. Antara tahun 1994 dan 2013, korban meninggal di dunia akibat gempa mencapai hampir 500 ribu orang, dengan total 118,3 juta orang terkena dampak.
Bahkan, gempa Haiti pada Januari 2010 menyebabkan lebih dari 230 ribu korban jiwa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara umum, gempa bumi sebenarnya tidak membunuh orang. Bangunan yang runtuh akibat gempa bumi lah yang menyebabkan banyak orang meninggal dunia.
Pada 2015, majelis umum Perserikatan Bangsa Bangsa menyetujui perjanjian untuk mengurangi kemungkinan dan dampak bencana di seluruh dunia. Prioritas ketiga dalam perjanjian itu adalah 'Berinvestasi untuk mengurangi risiko bencana untuk ketahanan', mencakup 'membangun lebih baik dari awal' dengan menggunakan desain dan konstruksi yang tepat, serta memperbaiki dan membangun kembali struktur yang ada.
Prioritas itu pun memperjelas bahwa cara membangun, lokasi, dan jenis bangunan bangun berperan besar dalam meminimalisir risiko korban jiwa akibat gempa bumi.
Berikut negara yang punya bertahan dari gempa.
1. Tokyo, Jepang
Tokyo dianggap sebagai kota yang paling siap dan adaptif menghadapi gempa. Pasalnya, gempa yang mengguncang wilayah ini seringkali berkuatan besar yang bisa menghancurkan kota, plus menghadapi dampak beberapa bencana lain imbas gempa seperti kebakaran dan tsunami.
Tokyo merupakan kota yang berada tepat di persimpangan tiga lempeng tektonik utama, yakni lempeng Amerika Utara, lempeng Filipina, dan lempeng Pasifik, seperti dilansir Feel Guide.
Secara umum, tiap peristiwa gempa besar di Jepang yang memporak-porandakan kota di Jepang selalu ditanggapi dengan perancangan ulang kota. Pemerintah kerap membentuk dewan untuk melakukan perencanaan.
Contohnya usai gempa Besar Kanto 1923, Tokyo luluh lantak dilanda kebakaran besar. Akibatnya, pemerintah mesti membangun ulang kota itu dengan menerapkan penataan lahan yang ketat.
Penyesuaian tanah ini membuat warga banyak kehilangan lahan lantaran dipakai untuk memperluas jalan, menyediakan ruang terbuka baru dan fasilitas umum lain untuk meningkatkan keselamatan warga.
Hal serupa dilakukan pemerintah Jepang usai gempa Kobe 1995. Pemerintah segera melakukan pembangunan ulang, namun diawali dengan membentuk komite untuk menata ulang kota.
Gempa 2015, juga membuat pemerintah kota membangun ulang perumahan dan gedung komersial agar lebih tahan gempa dari sebelumya. Mereka juga mengubah pemukiman warga dari bangunan tradisional lantai satu dan dua, dipindahkan ke pemukiman di bangunan tinggi.
Ketika tsunami melanda Tohoku pada 2011, pemerintah kembali membentuk komite untuk merelokasi warga dan membangun ulang kawasan itu.
Pembangunan masif ini membuat pemerintah kota Kobe, Hyogo, dan kota lain harus menanggung banyak utang. Akibatnya mereka harus melakukan efisiensi dengan memangkas pegawai, memotong gaji, dan mengurangi tunjangan kesejahteraan sosial, seperti dilansir Lincolnist.
2. Istanbul, Turki
Istanbul merupakan kota yang rawan gempa karena berada di dekat patahan Anatolia Utara. Pada tahun 1999 gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter melanda Izmit, hanya 60 mil (96 km) dari Istanbul.
Kala itu, bangunan yang lebih tua seperti masjid tetap berdiri. Sedangkan bangunan abad ke-20 dari beton yang dicampur dengan air tanah asin hancur menjadi debu. Diperkirakan 18 ribu orang di wilayah tersebut meninggal.
Ahli gempa pada tahun 1997 telah memperkirakan gempa seperti itu memiliki peluang 12 persen terjadi di sepanjang wilayah patahan itu sebelum 2026.
Di tengah situasi itu, Istanbul pun berbenah. Misalnya, kota itu membangun bandara paling tahan gempa di dunia bernama Sabihan Gokcen.
Melansir Interesting Engineering, bandara internasional yang dirancang oleh perusahaan teknik Ove Arup itu memiliki 300 sistem isolator dasar (peredam getaran) yang dapat menahan gempa hingga maksimum 8,0 Mw (magnitudo momen).
Isolator dasar diklaim dapat mengurangi beban seismik lateral hingga 80 persen, dan disebut jadi salah satu struktur terisolasi seismik terbesar di dunia. Salah satu fitur utama bandara yang membuatnya tahan gempa adalah yang disebut 'perangkat pendulum gesekan rangkap tiga'.
3. California, Amerika Serikat
California berlokasi di atas patahan San Andreas. Terdapat pula beberapa patahan di dekat wilayah itu, yang meningkatkan potensi terjadi gempa yang sangat merusak.
Pada tanggal 18 April 1906, San Francisco dilanda gempa bumi yang diperkirakan berkekuatan 7,7 dan 8,3 skala richter. Bencana itu menewaskan hampir 3.000 orang, menyebabkan kerusakan hampir setengah miliar dolar dan meratakan sebagian besar kota.
Pakar memperkirakan daerah itu memiliki peluang 62 persen terkena gempa besar dalam 30 tahun ke depan.
Menyikapi hal itu, California telah mulai membangun beberapa bangunan yang tahan gempa. Melansir Seattle Times, ototitas Seattle misalnya telah meningkatkan standar seismik untuk bangunan baru setinggi 240 kaki atau lebih tinggi, atau sekitar 20 lantai atau lebih.
Di San Francisco, Transamerica Pyramid adalah bangunan ikonik tahun 1970-an yang diklaim tahan gempa. Bangunan itu terletak dekat di samping sesar San Andreas dan Hayward. Pada tahun 1989, gempa bumi Loma Prieta melanda daerah itu dengan kekuatan 6,9 yang menyebabkan lantai atas bangunan itu bergoyang hampir satu kaki (30 cm) dari sisi ke sisi selama lebih dari satu menit, tetapi bangunan itu berdiri tegak dan utuh.
Prestasi tahan gempa ini dapat dikaitkan dengan baja sedalam 52 kaki (15 meter) dan pondasi beton yang dirancang untuk bergerak dengan beban seismik.
4. Christchurch, Selandia Baru
Melansir The Guardian, Christchurch adalah kota yang sempat mengalami gempa besar karena berada dekat dengan lempeng tektonik dan patahan. Pada Februari 2011, gempa bumi menyebabkan 185 kematian dan kerusakan signifikan di kota Christchurch.
Pasca kejadian itu, kesiap-siagaan gempa telah menjadi prioritas utama di Christchurc. Misalnya, beberapa gedung memperkuat bangunan agar tahan gempa dengan menggunakan pendekatan khusus.
Jadi, mereka memperkuat bangunan yang telah dibangun dengan menambahkan struktur baja. Jenis yang paling umum adalah rangka baja yang diperkuat secara eksentrik. EBF (Eccentrically Braced Frames), sebagaimana dikenal di industri, memiliki kekuatan sendiri, sehingga cocok dengan beton yang kaku atau dinding pasangan bata yang tidak diperkuat.
EBF seringkali ditambahkan ke bagian luar bangunan, karena lebih murah dan lebih mudah daripada menambahkan di bagian dalam, meskipun hal itu mengubah tampilan struktur.
Bogota sangat rentan terhadap kerusakan akibat gempa. CRED melaporkan bahwa 944 kematian akibat gempa bumi terjadi di El Salvador pada Januari 2001.
Di Kolombia, sekitar 40-60 persen rumah dibangun tanpa mengikuti desain yang tepat dan standar hukum. Khusus di Bogota, rumah yang tidak aman gempa mencapai 900 ribuunit.
Untuk mengatasi masalah itu, organisasi Build Change bekerja sama dengan pemerintah kota memperbaiki perumahan yang rentan di Bogotá. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan menambahkan plester berkualitas baik dan penyangga horizontal yang disebut balok cincin ke bagian atas dinding untuk meningkatkan kinerja seismiknya.
Kemudian, menambahkan kolom, menambahkan dinding melintang atau mengurangi bukaan di dalam dinding yang ada.
Jakarta, CNN Indonesia --
Gempa bumi, jika tidak diantisipasi, bisa menjadi bencana alam yang menakutkan. Termasuk di Indonesia yang intensitas gempanya pun terus meningkat dari tahun ke tahun, termasuk kekuatannya.
Selain intensitas, jumlah kematian global akibat gempa bumi pun meningkat. Antara tahun 1994 dan 2013, korban meninggal di dunia akibat gempa mencapai hampir 500 ribu orang, dengan total 118,3 juta orang terkena dampak.
Bahkan, gempa Haiti pada Januari 2010 menyebabkan lebih dari 230 ribu korban jiwa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara umum, gempa bumi sebenarnya tidak membunuh orang. Bangunan yang runtuh akibat gempa bumi lah yang menyebabkan banyak orang meninggal dunia.
Pada 2015, majelis umum Perserikatan Bangsa Bangsa menyetujui perjanjian untuk mengurangi kemungkinan dan dampak bencana di seluruh dunia. Prioritas ketiga dalam perjanjian itu adalah 'Berinvestasi untuk mengurangi risiko bencana untuk ketahanan', mencakup 'membangun lebih baik dari awal' dengan menggunakan desain dan konstruksi yang tepat, serta memperbaiki dan membangun kembali struktur yang ada.
Prioritas itu pun memperjelas bahwa cara membangun, lokasi, dan jenis bangunan bangun berperan besar dalam meminimalisir risiko korban jiwa akibat gempa bumi.
Berikut negara yang punya bertahan dari gempa.
1. Tokyo, Jepang
Tokyo dianggap sebagai kota yang paling siap dan adaptif menghadapi gempa. Pasalnya, gempa yang mengguncang wilayah ini seringkali berkuatan besar yang bisa menghancurkan kota, plus menghadapi dampak beberapa bencana lain imbas gempa seperti kebakaran dan tsunami.
Tokyo merupakan kota yang berada tepat di persimpangan tiga lempeng tektonik utama, yakni lempeng Amerika Utara, lempeng Filipina, dan lempeng Pasifik, seperti dilansir Feel Guide.
Secara umum, tiap peristiwa gempa besar di Jepang yang memporak-porandakan kota di Jepang selalu ditanggapi dengan perancangan ulang kota. Pemerintah kerap membentuk dewan untuk melakukan perencanaan.
Contohnya usai gempa Besar Kanto 1923, Tokyo luluh lantak dilanda kebakaran besar. Akibatnya, pemerintah mesti membangun ulang kota itu dengan menerapkan penataan lahan yang ketat.
Penyesuaian tanah ini membuat warga banyak kehilangan lahan lantaran dipakai untuk memperluas jalan, menyediakan ruang terbuka baru dan fasilitas umum lain untuk meningkatkan keselamatan warga.
Hal serupa dilakukan pemerintah Jepang usai gempa Kobe 1995. Pemerintah segera melakukan pembangunan ulang, namun diawali dengan membentuk komite untuk menata ulang kota.
Gempa 2015, juga membuat pemerintah kota membangun ulang perumahan dan gedung komersial agar lebih tahan gempa dari sebelumya. Mereka juga mengubah pemukiman warga dari bangunan tradisional lantai satu dan dua, dipindahkan ke pemukiman di bangunan tinggi.
Ketika tsunami melanda Tohoku pada 2011, pemerintah kembali membentuk komite untuk merelokasi warga dan membangun ulang kawasan itu.
Pembangunan masif ini membuat pemerintah kota Kobe, Hyogo, dan kota lain harus menanggung banyak utang. Akibatnya mereka harus melakukan efisiensi dengan memangkas pegawai, memotong gaji, dan mengurangi tunjangan kesejahteraan sosial, seperti dilansir Lincolnist.
2. Istanbul, Turki
Istanbul merupakan kota yang rawan gempa karena berada di dekat patahan Anatolia Utara. Pada tahun 1999 gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter melanda Izmit, hanya 60 mil (96 km) dari Istanbul.
Kala itu, bangunan yang lebih tua seperti masjid tetap berdiri. Sedangkan bangunan abad ke-20 dari beton yang dicampur dengan air tanah asin hancur menjadi debu. Diperkirakan 18 ribu orang di wilayah tersebut meninggal.
Ahli gempa pada tahun 1997 telah memperkirakan gempa seperti itu memiliki peluang 12 persen terjadi di sepanjang wilayah patahan itu sebelum 2026.
Di tengah situasi itu, Istanbul pun berbenah. Misalnya, kota itu membangun bandara paling tahan gempa di dunia bernama Sabihan Gokcen.
Melansir Interesting Engineering, bandara internasional yang dirancang oleh perusahaan teknik Ove Arup itu memiliki 300 sistem isolator dasar (peredam getaran) yang dapat menahan gempa hingga maksimum 8,0 Mw (magnitudo momen).
Isolator dasar diklaim dapat mengurangi beban seismik lateral hingga 80 persen, dan disebut jadi salah satu struktur terisolasi seismik terbesar di dunia. Salah satu fitur utama bandara yang membuatnya tahan gempa adalah yang disebut 'perangkat pendulum gesekan rangkap tiga'.
AS, Selandia Baru, hingga Kolombia
Ilustasi (AP/Hironori Asakawa)
3. California, Amerika Serikat
California berlokasi di atas patahan San Andreas. Terdapat pula beberapa patahan di dekat wilayah itu, yang meningkatkan potensi terjadi gempa yang sangat merusak.
Pada tanggal 18 April 1906, San Francisco dilanda gempa bumi yang diperkirakan berkekuatan 7,7 dan 8,3 skala richter. Bencana itu menewaskan hampir 3.000 orang, menyebabkan kerusakan hampir setengah miliar dolar dan meratakan sebagian besar kota.
Pakar memperkirakan daerah itu memiliki peluang 62 persen terkena gempa besar dalam 30 tahun ke depan.
Menyikapi hal itu, California telah mulai membangun beberapa bangunan yang tahan gempa. Melansir Seattle Times, ototitas Seattle misalnya telah meningkatkan standar seismik untuk bangunan baru setinggi 240 kaki atau lebih tinggi, atau sekitar 20 lantai atau lebih.
Di San Francisco, Transamerica Pyramid adalah bangunan ikonik tahun 1970-an yang diklaim tahan gempa. Bangunan itu terletak dekat di samping sesar San Andreas dan Hayward. Pada tahun 1989, gempa bumi Loma Prieta melanda daerah itu dengan kekuatan 6,9 yang menyebabkan lantai atas bangunan itu bergoyang hampir satu kaki (30 cm) dari sisi ke sisi selama lebih dari satu menit, tetapi bangunan itu berdiri tegak dan utuh.
Prestasi tahan gempa ini dapat dikaitkan dengan baja sedalam 52 kaki (15 meter) dan pondasi beton yang dirancang untuk bergerak dengan beban seismik.
4. Christchurch, Selandia Baru
Melansir The Guardian, Christchurch adalah kota yang sempat mengalami gempa besar karena berada dekat dengan lempeng tektonik dan patahan. Pada Februari 2011, gempa bumi menyebabkan 185 kematian dan kerusakan signifikan di kota Christchurch.
Pasca kejadian itu, kesiap-siagaan gempa telah menjadi prioritas utama di Christchurc. Misalnya, beberapa gedung memperkuat bangunan agar tahan gempa dengan menggunakan pendekatan khusus.
Jadi, mereka memperkuat bangunan yang telah dibangun dengan menambahkan struktur baja. Jenis yang paling umum adalah rangka baja yang diperkuat secara eksentrik. EBF (Eccentrically Braced Frames), sebagaimana dikenal di industri, memiliki kekuatan sendiri, sehingga cocok dengan beton yang kaku atau dinding pasangan bata yang tidak diperkuat.
EBF seringkali ditambahkan ke bagian luar bangunan, karena lebih murah dan lebih mudah daripada menambahkan di bagian dalam, meskipun hal itu mengubah tampilan struktur.
Bogota sangat rentan terhadap kerusakan akibat gempa. CRED melaporkan bahwa 944 kematian akibat gempa bumi terjadi di El Salvador pada Januari 2001.
Di Kolombia, sekitar 40-60 persen rumah dibangun tanpa mengikuti desain yang tepat dan standar hukum. Khusus di Bogota, rumah yang tidak aman gempa mencapai 900 ribuunit.
Untuk mengatasi masalah itu, organisasi Build Change bekerja sama dengan pemerintah kota memperbaiki perumahan yang rentan di Bogotá. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan menambahkan plester berkualitas baik dan penyangga horizontal yang disebut balok cincin ke bagian atas dinding untuk meningkatkan kinerja seismiknya.
Kemudian, menambahkan kolom, menambahkan dinding melintang atau mengurangi bukaan di dalam dinding yang ada.