UGM: Virus Varian Delta Menurunkan Sistem Imun, Wajib Prokes

CNN Indonesia | Senin, 14/06/2021 18:52 WIB
Virus SARS-CoV-2 varian delta menjadi perhatian khusus pemerintah setelah menyebar ke sejumah wilayah di Indonesia. Ilustrasi virus India varian delta. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok Kerja (Pokja) Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM menyebut Covid-19 varian B.1617.2 atau delta mampu mempengaruhi sistem imun tubuh manusia.

Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM Gunadi mengatakan, virus varian delta yang ditemukan merebak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah telah ditetapkan WHO sebagai Variant of Concern (VoC) pada 31 Mei 2021, menimbang dampak besarnya terhadap kesehatan masyarakat.

Gunadi berujar, suatu varian masuk kategori VoC lantaran memenuhi satu atau lebih dari tiga dampak yang ditimbulkan. Meliputi, daya transmisi, tingkat keparahan pasien, dan mempengaruhi sistem imun manusia.


"Yang utama, berpengaruh signifikan terhadap kesehatan masyarakat secara global," kata Gunadi saat dihubungi, Senin (16/4).

Varian delta, lanjut Gunadi, sementara telah terbukti menimbulkan dua dampak. Yakni, lebih cepat menular dan mampu mempengaruhi respons sistem imun manusia. Ini terbaca lewat kasus di India maupun Kudus dengan transmisinya yang begitu cepat.

Diterangkan Gunadi, varian delta lebih cepat menyebar dibandingkan varian alpha. Atau dahulu dikenal varian B117 dari Inggris.

"(Varian delta) ternyata 50-60 persen lebih cepat menyebar dibandingkan dengan alpha," jelas Gunadi.

Gunadi melanjutkan, varian delta ini juga bisa menurunkan respon sistem imun manusia terhadap infeksi Covid-19. Baik yang ditimbulkan oleh infeksi alamiah maupun vaksin. Karakternya, mirip varian beta atau B1351.

"Maksudnya, misal terinfeksi manusia kan harusnya ada sistem imun. Divaksin juga ada kekebalan tubuh, itu responnya menurun. Jadi, respon terhadap infeksi Covid-19 yang timbul baik infeksi alamiah maupun karena vaksinasi itu berkurang imunnya," paparnya.

"Jadi, lebih mudah terpapar meskipun sudah divaksinasi atau sudah terinfeksi sebelumnya," sambung Gunadi.

Melihat dampak yang cukup serius, Gunadi meminta masyarakat agar disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes) pencegahan penularan Covid-19.

Termasuk bagi mereka yang telah disuntik vaksinasi. Pasalnya, re-infeksi Covid-19 masih berpeluang terjadi setelah sekalipun seseorang telah menerima vaksinasi.

"Prokes harus diperketat. Meski sudah vaksin prokes tidak boleh longgar," tegasnya.

Covid-19 varian B.1617.2 atau delta sendiri diketahui telah merebak di Kudus melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) oleh FKKMK UGM yang hasilnya keluar 11 Juni 2021 kemarin.

Kata Gunadi, dari 34 spesimen yang diperiksa, 28 di antaranya terkonfirmasi sebagai varian delta. Dari kasus yang terjadi di Kudus menunjukkan kemungkinan besar adanya transmisi lokal varian ini.

"Sebelumnya sudah terdeteksi beberapa kasus namun bersifat acak, dan sekarang sudah menjadi klaster di daerah Kudus. Artinya, kemungkinan besar sudah terjadi transmisi lokal di Indonesia, khususnya di Kudus. Tidak menutup kemungkinan transmisi lokal juga keluar dari Kudus," pungkasnya.

(kum/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK