Mengenal Gempa dan Longsoran Bawah Laut Picu Tsunami Maluku

CNN Indonesia | Rabu, 16/06/2021 14:55 WIB
Berikut penjelasan gempa bumi bawah laut yang memicu longsoran yang menyebabkan gelombang pasang di Maluku. Ilustrasi (AP/Michael Svarnias)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan gelombang yang terjadi usai gempa bumi di Kecamatan Tehoru, Maluku Tengah merupakan akibat dari terjadinya longsoran bawah laut.

Sebelumnya, BMKG melaporkan terjadi potensi tsunami pasca gempa dengan magnitudo 6,1 mengguncang Maluku Tengah, Rabu (16/6).

Lokasi gempa berada 3.39 LS dan 129.56 atau sekitar 67 kilometer tenggara Maluku Tengah, dengan kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut.


BMKG lantas meralat informasi gempa bumi Maluku Tengah yang sebelumnya dinyatakan tidak berpotensi tsunami menjadi berpotensi tsunami.

Sehingga, masyarakat di pesisir Pantai Japutih sampai Pantai Apiahu Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, Maluku, diminta waspada.

Warga Desa Tehoru, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah berhamburan mencari daerah dataran tinggi usai menyaksikan gelombang pasang di Pelabuhan Tehoru setelah terjadi gempa bumi.

Melansir BNPB, wilayah Laut Banda dan Kepulauan Maluku memiliki potensi gempa bumi tektonik besar; dengan intensitas gempa menengah yang juga telah meningkat dalam satu dekade terakhir.

Apa itu gempa bumi bawah laut?

Gempa bumi di bawah laut merupakan penyebab dari 90 persen bencana tsunami. Gempa bumi itu terjadi karena tubrukan lempeng-lempeng tektonik. Tubrukan itu kemudian mengakibatkan pergerakan dasar laut dan mengganggu keseimbangan air yang berada di atasnya.

Selain gempa bumi bawah laut, terdapat beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami, yaitu letusan gunung api di bawah laut, longsor di bawah laut, atau hantaman benda langit yang jatuh ke bumi dan mendarat di laut seperti misalnya meteor.

Melansir Geoscience Australia, gempa bumi bawah laut juga berpotensi memicu tanah longsor di dasar laut, seperti di darat. Daerah dasar laut yang curam dan sarat dengan sedimen, seperti tepi lereng benua, lebih rentan terhadap longsor bawah laut. 

Ketika tanah longsor bawah laut terjadi, mungkin setelah gempa bumi di dekatnya, sejumlah besar pasir, lumpur, dan kerikil dapat bergerak menuruni lereng. Gerakan itu akan menarik air ke bawah dan dapat menyebabkan tsunami yang akan melintasi lautan.

Syarat terjadi tsunami dari gempa bumi bawah laut

Namun, tak semua gempa bumi bawah laut menimbulkan tsunami. Gempa bawah laut yang tidak menimbulkan tsunami jika pusat gempa lebih dari 30 kilometer di bawah permukaan air.

Sebaliknya, apabila pusat gempa berada dekat dengan permukaan air laut, berada pada jarak 0 hingga 30 kilometer di bawah permukaan laut maka tsunami mungkin terjadi.

Gempa yang memicu tsunami biasanya berkekuatan di atas 6,5 skala Richter dan memiliki pola pergerakan (sesar) naik turun.

Tsunami dapat merambat dengan kecepatan hingga 950 km/ jam di perairan dalam, yang setara dengan kecepatan jet penumpang.

Tsunami berbeda dengan gelombang permukaan yang ditimbulkan oleh angin di lautan. Gelombang yang dihasilkan angin di perairan dalam hanya menyebabkan pergerakan air di dekat permukaan, sedangkan perjalanan tsunami melibatkan pergerakan air dari permukaan ke dasar laut.

(jps/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK