Menteri Johnny Plate Kenang Harmoko Berjasa Membangun Pers RI

CNN Indonesia | Senin, 05/07/2021 08:53 WIB
Menkominfo Johnny Plate menyebut menteri era Soeharto, Harmoko punya dedikasi besar untuk membangun sektor media dan pers di RI. Ilustrasi Menteri era Soeharto, Harmoko meninggal dunia. (AFP/JOHN MACDOUGALL)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate ikut berduka dan mengklaim Menteri Penerangan Republik Indonesia periode 1983-1997, Harmoko punya dedikasi besar untuk membangun sektor media dan pers.

"Kami menyampaikan terima kasih yang besar atas pengabdian, karya dan karya beliau selama mengabdi melalui kebijakan pembangunan di sektor media, pers, penerangan dan komunikasi publik," kata Johnny lewat keterangan tertulis, Senin (5/7).

Menurut Johnny, orang kepercayaan Presiden ke-2 RI Soeharto itu merupakan pencetus lahirnya Gerakan Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pirsawan (Kelompencapir). Gerakan tersebut bertujuan sebagai wadah untuk menyebarkan informasi dari Pemerintah yang kini dikenal dengan Government Publik Relation (GPR).


Selain menjadi Menteri Penerangan selama tiga periode berturut-turut, Harmoko juga menjabat sebagai Ketua DPR-RI (1997-1999), dan Ketua MPR-RI (1997-1999).

Harmoko menghembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, sekitar pukul 20.22 WIB di usia 82 tahun. Ia akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta hari ini.

Semasa hidupnya, Harmoko yang mengawali karier sebagai jurnalis itu sempat dikenal sebagai tangan kanan penguasa Orde Baru, Soeharto. Pria kelahiran Nganjuk pada 7 Februari 1939 ini menjadi kuli tinta pada dekade 1960-1970an.

Ia adalah orang yang membisiki Soeharto agar kembali maju pada 1997. Namun, setahun kemudian, Harmoko pula yang mendesak Soeharto mundur dari jabatan presiden.

Merujuk dari berbagai sumber, almarhum yang bernama lengkap Harun Muhammad Koharbin Asmoprawiroitu meniti karier jurnalistiknya dari harian Merdeka di Jakarta selepas lulus sekolah.

Bukan hanya sebagai wartawan, ia pun dikenal sebagai pembuat karikatur di harian dan majalah tersebut. Inisialnya dalam setiap karya yang diterbitkan adalah Mok.

Selepas dari Merdeka, Harmoko pula pernah bekerja juga sebagai wartawan di Harian Angkatan Bersenjata lalu Harian API, menjabat sebagai pemimpin redaksi di media berbahasa Jawa, Merdiko, lalu mengasuh harian Mimbar Kita.

Salah satu warisan Harmoko di bidang jurnalisme bagi Indonesia adalah harian Pos Kota yang didirikannya bersama sejumlah koleganya pada dekade 1970an silam. Harian itu dikenal karena menampilkan berita-berita lokal Jakarta dan sekitarnya terutama soal kriminalitas, masyarakat, olahraga, dan pesohor.

(dal/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK