Mencari Pasien Pertama Covid-19, WHO Curiga Wanita di Italia

CNN Indonesia | Kamis, 15/07/2021 18:25 WIB
Sebuah tim yang dipimpin WHO mempelajari asal usul Covid-19 yang awal mula diduga berasal China, kini diduga berasal dari Italia. Ilustrasi asal usul Covid-19. (iStockphoto/FilippoBacci)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah tim yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempelajari asal usul Covid-19 dan mencari pasien pertama 'Patient Zero' Covid-19 yang diduga berasal dari Italia.

Kini tim WHO sedang mengejar seorang wanita 25 tahun yang mengunjungi rumah sakit di Milan, Italia dengan keluhan sakit pada tenggorokan yang disertai lebam pada kulit, November 2019. Sebulan sebelum SARS-CoV-2 diidentifikasi di kota Wuhan, China.

Penelitian yang diterbitkan pada Januari 2021 menemukan bahwa sampel kulit yang ditinggalkan oleh wanita itu, menghasilkan jejak virus Corona ketika dilakukan uji lab enam bulan kemudian.


Melansir Wall Street Journal, para ilmuwan mengatakan kasus wanita itu menunjukkan bahwa virus itu beredar di China dan di tempat lain, jauh sebelum klaster pertama meledak di pasar ikan Huanan, Wuhan pada Desember 2019.

Namun demikian, hingga kini belum ada yang mengetahui identitas wanita berusia 25 tahun itu.

Rumah sakit Policlinico Milan dan Universitas Milan yang meneliti temuan kasus itu mengatakan mereka tidak memiliki rincian identitasnya. Sementara dokter kulit yang merawatnya, Raffaele Gianotti dilaporkan meninggal pada Maret 2020, beberapa hari sebelum WHO memimpin penelitian itu.

Beberapa bulan sebelum meninggal tepatnya pada 10 November 2019, sampel kulit wanita itu diambil oleh Gianotti untuk dilakukan uji laboratorium.

Tim peneliti telah merekomendasikan untuk mencari kemungkinan kasus Covid-19 di negara lain, yang mendahului kasus temuan pertama yang teridentifikasi di Wuhan.

Para peneliti mengatakan tengah memeriksa kasus-kasus dugaan sebelumnya, agar membantu memperkuat rentang waktu penyebaran awal virus.

Untuk melakukan hal itu, tim peneliti meminta bank darah di beberapa negara untuk menguji sampel dari akhir 2019 untuk menelusuri adanya temuan antibodi virus corona.

Beberapa peneliti menunjukkan bahwa individu yang terinfeksi virus corona sebelum kasus pertama dilaporkan di daerah mereka. Lebih dari itu sampel darah yang diambil dari wanita itu pada Juni 2020 dinyatakan positif antibodi virus Corona.

Ketika pandemi Covid-19 melanda Italia pada awal 2020, Gianotti melihat kembali sampel kulit yang diarsipkan untuk mencari jejak Covid-19.

Ia melakukan dua kali pengambilan sampel tes kulit. Keduanya ditemukan protein lonjakan dan cangkang protein SarS-CoV-2. Tetapi pada saat melakukan uji lab ketiga, semuanya terlalu terdegradasi.

Test ketiga itu bertujuan untuk mengurutkan secara genetik dari temuan virus, untuk memastikan kebenaran bahwa wanita itu memang memiliki virus Corona.

"Saya kecewa hanya karena satu hal. Bahwa kami tidak dapat memastikannya dengan pada tes ketiga," ujar rekan penulis penelitian Gianotti, Massimo Barberis.

Barberis kemudian mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan sampel darah wanita yang diambil pada pertengahan 2020 dinyatakan positif Covid-19. Namun saat itu ditemukan virus corona sudah melanda Italia utara.

Sejumlah peneliti memprediksi bahwa wanita itu menjadi yang pertama setelah temuan November 2019. Lebih lanjut Barberis mengatakan ia percaya antusias untuk mencari tahu bagaimana pandemi dimulai telah memudar di antara para peneliti virus di Eropa.

"Orang-orang tidak tertarik," katanya.

Meski demikian, penelitian disebut tetap terus berlanjut untuk menelusuri sumber lokasi temuan virus corona. Mengutip Washington Post, koalisi pakar internasional mengatakan bahwa masih tidak ada bukti validasi secara ilmiah untuk mengetahui apa yang disebut teori kebocoran laboratorium. 

Penelitian soal pasien pertama dunia yang terkenaCovid-19 dari wanita Italia juga masih misteri. Sementara penelitian WHO yang mencurigai soal pasien pertama Covid-19 berusia 61 tahun di China pada 20 Desember 2019 juga masih 'kabur'.

WHO juga masih meneliti soal profil pria 41 tahun di China yang didiagnosa menjadi pasien pertama Covid19 di Chin pada 16 Desember 2019.

(can/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK