Fosil 308 Juta Tahun Ditemukan, Diyakini Nenek Moyang Reptil

CNN Indonesia | Jumat, 23/07/2021 11:47 WIB
Peneliti menemukan fosil seukuran jari berusia 308 juta tahun yang disebut sebagai nenek moyang reptil, jauh sebelum dinosaurus muncul. Ilustrasi fosil reptil. (ANTONIO SCORZA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para peneliti menemukan fosil seukuran jari berusia 308 juta tahun yang ditemukan di Amerika Serikat (AS) memberikan petunjuk tentang kebiasaan makhluk kecil mirip dinosaurus yang diprediksi sebagai cikal bakal atau nenek moyang dari reptil.

Spesies baru yang disebut mikrosaurus itu adalah hewan kecil seperti kadal yang berkeliaran di Bumi, jauh sebelum dinosaurus muncul. Para ilmuwan dalam jurnal Royal Society Open Science mengatakan temuan itu menyoroti evolusi kelompok hewan yang berbeda, termasuk amfibi dan reptil.

Microsaurs diketahui hidup selama periode Karbon, ketika nenek moyang mamalia dan reptil modern hidup.


"Banyak detail dari transisi itu tidak diketahui dengan baik," ujar salah satu penulis studi Arjan Mann, seperti dikutip AFP.

"Banyak dari mikrosaurus ini dianggap sebagai nenek moyang amfibi atau nenek moyang reptil," sambungnya.

Ditemukan di dalam rawa di wilayah yang kini menjadi Amerika Serikat bagian tengah, fosil itu memiliki ukuran sekitar lima sentimeter, dan memiliki empat kaki pendek dan gemuk.

Untuk menghormati ukurannya yang kecil, para peneliti menjuluki spesies baru Joermungandr bolti setelah ular laut raksasa dari mitologi Nordik yang bertempur dengan Thor.

"Area kulit hanya diketahui dari fosil yang terpisah-pisah sebelumnya," ujar Mann.

Mengutip France24, berlawanan dengan gagasan sebelumnya tentang mikrosaurus, yang telah digolongkan sebagai amfibi, Mann dan timnya menemukan bahwa Joermungandr memiliki sisik.

Mann lebih lanjut mengatakan penelitian itu menunjukkan bukti mikrosaurus merupakan kerabat awal reptil, tetapi kemampuan untuk menggali memiliki peran lebih besar dari asal aminota daripada yang diprediksi sebelumnya.

Para peneliti menggunakan teknik pencitraan yang sangat sensitif yang disebut pemindaian mikroskop elektron (SEM) untuk melihat dari dekat fosil yang hampir sempurna itu.

Mann mengatakan teknik pencitraan SEM kini sedang diterapkan pada penelitian banyak fosil purba. Rencananya para peneliti melakukan SEM dan mencetak gambar 3D yang ukurannya lebih besar.

(can/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK