Data Efikasi Vaksin Pfizer Israel vs Inggris Kontradiktif

CNN Indonesia | Senin, 26/07/2021 09:38 WIB
Data efikasi vaksin Inggris dan Israel kontradiktif terhadap keampuhan vaksin Pfizer lawan virus corina varian Delta. Data efikasi vaksin Inggris dan Israel kontradiktif terhadap keampuhan vaksin Pfizer lawan virus corina varian Delta. (AFP/JUSTIN TALLIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penelitian nilai efikasi vaksin Pfizer-BioNTech melawan virus corona varian Delta di Israel menunjukkan data yang kontradiktif dengan hasil penelitian di Inggris.

Lembaga kesehatan Israel, Kamis (22/7) menyebut Vaksin Covid-19 Pfizer hanya efektif 39 persen dalam mencegah infeksi varian Delta. Hal tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam beberapa pekan terakhir pada 20 Juni hingga 17 Juli.

Sementara berdasarkan jurnal yang diterbitkan di New England Journal of Medicine, menemukan bahwa dua dosis Pfizer menawarkan perlindungan 88 persen terhadap penyakit simtomatik yang disebabkan oleh varian delta dan 94 persen terhadap varian Alfa. Vaksin juga 96 persen efektif mencegah pasien Covid-19 masuk rumah sakit.


Meski demikian, Lembaga Kesehatan Israel menyebut vaksin Pfizer itu diklaim tetap bisa memberikan perlindungan yang kuat terhadap pasien rawat inap dan pasien dengan penyakit parah yang disebabkan oleh virus corona varian Delta.

Berdasarkan penelitian Israel, vaksin yang dikembangkan oleh BioNTech ini 88 persen mencegah pasien masuk rumah sakit dan 91,4 persen mencegah gejala parah.

Kedua penelitian ini setidaknya sepakat bahwa vaksin Pfizer mampu mencegah gejala parah imbas Covid-19. Penelitian Israel menyebut vaksin efektif menangkal gejala parah 91,4 persen, terpaut tipis dengan hasil penelitian Inggris 96 persen. Israel sendiri merupakan negara yang mendapatkan akses vaksin Pfizer lebih awal daripada negara lain.

Selain itu, statistik Israel juga menunjukkan adanya penurunan kekebalan setelah beberapa waktu vaksinasi dilakukan. Orang yang divaksinasi pada Januari disebut hanya memiliki 16 persen perlindungan terhadap infeksi, sedangkan pada mereka yang divaksinasi pada bulan April, efektivitasnya mencapai 75 persen.

Sementara berdasarkan penelitian uji klinis Pfizer terhadap lebih dari 43.000 orang menunjukkan bahwa efektivitas terhadap infeksi simtomatik memang menurun dari waktu ke waktu. Namun, penurunan itu tidak terlalu parah seperti disebutkan Israel. Dari awalnya 95 persen dalam dua bulan pertama, menurun 80 persen empat hingga enam bulan setelah menerima dosis kedua.

Penurunan efikasi vaksin Pfizer terhadap varian Delta berdasarkan data Israel ini, kemungkinan akan memicu perdebatan tentang apakah suntikan booster wajib diberikan kepada orang yang telah divaksinasi, serti yang diminta Amerika Serikat untuk memberi vaksin booster Pfizer.

Sementara seorang juru bicara BioNTech mengatakan pihaknya tengah melakukan tinjauan lebih lanjut atas data studi vaksin yang dilaporkan Israel. Padahal sebelumnya, perusahaan itu yakin bahwa penerima vaksinnya tak perlu booster.

Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan nilai efektivitas vaksin kemungkinan bervariasi akibat berbagai faktor. Salah satunya, perbedaan pengujian kelompok orang yang divaksinasi versus mereka yang tidak disuntik, seperti dilaporkan Bloomberg

Varian delta pertama kali muncul di India dan menyebar ke seluruh dunia ketika pemerintah berlomba untuk memberikan vaksin, yang terkadang menginfeksi mereka yang sudah divaksinasi penuh terhadap Covid.

Mutasi virus dilaporkan telah memaksa beberapa negara untuk menunda atau memikirkan kembali rencana pelonggaran aktivitas dan perjalanan untuk menunjang roda bisnis.

Israel disebut memiliki upaya inokulasi paling efektif di dunia, dengan 57 persen warga negara itu telah melakukan vaksinasi penuh. Meski demikian, Israel baru-baru ini mengalami lonjakan infeksi akibat varian Delta. Kasus positif dengan kondisi kritis juga meningkat.

"Vaksin kurang efektif dalam mencegah penularan, tetapi...masih sangat efektif dalam mencegah rawat inap dan gejala yang parah, mencegah kematian," jelas Ahli Epidemiologi Nadav Davidovitch, seorang profesor Universitas Ben-Gurion dan pemimpin serikat dokter Israel, menanggapi peningkatan kasus di negara itu seperti dikutip Times of Israel.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett telah mendesak adanya penundaan vaksin untuk sekitar 1,1 juta orang. Ia menyebutnya bahwa vaksinasi sebagai cara paling efektif untuk mengalahkan varian delta.

Pemerintah juga telah memberlakukan kembali beberapa pembatasan untuk acara dalam ruangan dan berencana untuk melarang penerbangan ke beberapa negara dengan tingkat infeksi yang meningkat, termasuk Inggris.

(can/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK