Kata NASA Soal Pertama Kali Hujan Deras di Puncak Greenland
CNN Indonesia
Senin, 23 Agu 2021 13:18 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
NASA berikan penjelasan soal fenomena hujan deras yang pertama kali mengguyur Greenland dan menyebabkan pencairan es besar-besaran.(Istockphoto/ShutterOK)
Menurut Von Walden dari Summit Station Science Coordination Office and Washington State University Amerika Serikat (AS), hujan deras ini merupakan yang pertama terjadi sejak National Science Foundation yang terletak di puncak Greenland berdiri pada akhir 1980-an.
Berdasarkan pantauan satelit NASA, hujan ini memperparah pencairan es yang terjadi di kawasan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Panas musim panas memicu peristiwa pencairan besar lainnya pada 14-15 Agustus 2021, tetapi kali ini, pencairan diperparah oleh curah hujan," seperti tertulis dalam situs resmi.
Sebelumnya, pencairan es di Greenland hanya terjadi akibat kenaikan suhu semata seperti terjadi pada 2012 dan 2019. Tapi, baru kali pertama pencairan es makin parah akibat terjadi hujan deras seperti diungkap Christopher Shuman, glasiologis dari UniversitasMaryland, AS, yang berkantor di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard, NASA.
Pada 2019, Greenland menumpahkan sekitar 532 miliar ton es ke laut. Hal itu diduga disebabkan gelombang panas sepanjang Juli menyebabkan hampir seluruh permukaan lapisan es di wilayah itu mulai mencair. Akibatnya, permukaan laut global naik secara permanen sebesar 1,5 millimeter.
PenelitianEuropean Geosciences Union menunjukkan bahwa jumlah pencairan di Greenland yang disebabkan oleh hujan telah meningkat selama beberapa waktu terakhir, baik di musim panas maupun musim dingin.
Peristiwa pencairan es besar-besaran termasuk yang terjadi pada 2021 ini biasanya hanya terjadi sesaat dan berkontribusi relatif kecil terhadap total pencairan yang terjadi sepanjang musim panas di daerah Kutub Utara.
Tetapi peristiwa ini bisa memiliki dampak jangka panjang pada struktur lapisan es di Greenland. Sebab, pencairan dapat memicu proses yang menyebabkan permukaan es menjadi gelap. Hujan juga mengubah salju dan butiran salju di bagian atas gletser yang dapat memperburuk pencairan dan limpasan di masa depan, bahkan dalam ketika atmosfer ada pada kondisi normal.
"Ketika terjadi pencairan, proses ini dapat berpengaruh di bagian lapisan es yang biasanya tidak mencair, sehingga memperluas dampaknya," kata Andrews.
Lebih lanjut, hasil pengamatan satelit cuaca NASA menunjukkan aliran udara hangat yang bergerak memang terjadi ke arah Greenland pada 14 dan 15 Agustus lalu. Hal ini memicu temperatur yang lebih tinggi di kawasan itu.
Pencairan gletser di Greenland memang terjadi setiap tahun dari sekitar Mei hingga awal September. Selain berkontribusi langsung terhadap kenaikan permukaan laut, es yang mencair ini dapat menyentuh hingga ke lapisan es paling dasar melalui celah es dan mempercepat es mengalir ke laut.
Gelombang panas musim panas memicu terjadinya hujan di Greenland pada 14-15 Agustus lalu. Menurut Ted Scambos, peneliti senior NSIDC. Hujan yang terjadi di puncak Greenland itu menunjukkan makin parah pemanasan global dalam dua dekade terakhir yang berimbas pada pencairan es.
Menurut data dari Pusat Data Salju dan Es Nasional AS (NSIDC), hujan di Greenland ini adalah yang terparah sejak pertama kali dipantau pada 1950.
Selain itu, kadar es yang hilang akibat hujan ini juga tujuh kali lebih besar dari rata-rata pencairan es harian tahun ini.
Sementara Data National Science Foundation's Summit Station, menunjukkan 7 miliar ton hujan telah mengguyur selama lebih dari 24 jam.
Meski demikian, NASA menyebut pencairan es di Greenland pada puncak musim panas di 14 Agustus ini berselisih sedikit dengan peristiwa pencairan es besar-besaran di Greenland Juli lalu. Pencairan es kali ini meliputi sekitar 872 ribu kilometer persegi atau setara dengan ukuran negara Namibia di Afrika.
Pada 28 Juli terjadi pencairan es yang lebih besar. Pencairan es seluas 881 ribu kilometer persegi itu merupakan peristiwa pencairan ketujuh terbesar yang tercatat.
Ahli glasiologi di Kantor Pemodelan dan Asimilasi Global NASA, Lauren Andrews, menjelaskan bahwa pola pencairan berbeda untuk setiap peristiwa.
"Sementara peristiwa pencairan akhir Juli meluas di Greenland utara, peristiwa Agustus difokuskan di Greenland selatan," katanya seperti dikutip dari laman resmi NASA.
Es di kutub utara dan selatan mencair dengan cepat seiring dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Sebuah laporan iklim utama PBB yang dirilis bulan ini menyimpulkan bahwa pembakaran bahan bakar fosil menyebabkan pencairan Greenland selama dua dekade terakhir.
Sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal Cryosphere menemukan bahwa Bumi telah kehilangan 28 triliun ton es sejak pertengahan 1990-an. Sebagian besar es yang mencair itu berasal dari Kutub Utara, termasuk lapisan es Greenland.
Menurut Von Walden dari Summit Station Science Coordination Office and Washington State University Amerika Serikat (AS), hujan deras ini merupakan yang pertama terjadi sejak National Science Foundation yang terletak di puncak Greenland berdiri pada akhir 1980-an.
Berdasarkan pantauan satelit NASA, hujan ini memperparah pencairan es yang terjadi di kawasan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Panas musim panas memicu peristiwa pencairan besar lainnya pada 14-15 Agustus 2021, tetapi kali ini, pencairan diperparah oleh curah hujan," seperti tertulis dalam situs resmi.
Sebelumnya, pencairan es di Greenland hanya terjadi akibat kenaikan suhu semata seperti terjadi pada 2012 dan 2019. Tapi, baru kali pertama pencairan es makin parah akibat terjadi hujan deras seperti diungkap Christopher Shuman, glasiologis dari UniversitasMaryland, AS, yang berkantor di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard, NASA.
Pada 2019, Greenland menumpahkan sekitar 532 miliar ton es ke laut. Hal itu diduga disebabkan gelombang panas sepanjang Juli menyebabkan hampir seluruh permukaan lapisan es di wilayah itu mulai mencair. Akibatnya, permukaan laut global naik secara permanen sebesar 1,5 millimeter.
PenelitianEuropean Geosciences Union menunjukkan bahwa jumlah pencairan di Greenland yang disebabkan oleh hujan telah meningkat selama beberapa waktu terakhir, baik di musim panas maupun musim dingin.
Peristiwa pencairan es besar-besaran termasuk yang terjadi pada 2021 ini biasanya hanya terjadi sesaat dan berkontribusi relatif kecil terhadap total pencairan yang terjadi sepanjang musim panas di daerah Kutub Utara.
Tetapi peristiwa ini bisa memiliki dampak jangka panjang pada struktur lapisan es di Greenland. Sebab, pencairan dapat memicu proses yang menyebabkan permukaan es menjadi gelap. Hujan juga mengubah salju dan butiran salju di bagian atas gletser yang dapat memperburuk pencairan dan limpasan di masa depan, bahkan dalam ketika atmosfer ada pada kondisi normal.
"Ketika terjadi pencairan, proses ini dapat berpengaruh di bagian lapisan es yang biasanya tidak mencair, sehingga memperluas dampaknya," kata Andrews.
Lebih lanjut, hasil pengamatan satelit cuaca NASA menunjukkan aliran udara hangat yang bergerak memang terjadi ke arah Greenland pada 14 dan 15 Agustus lalu. Hal ini memicu temperatur yang lebih tinggi di kawasan itu.
Pencairan gletser di Greenland memang terjadi setiap tahun dari sekitar Mei hingga awal September. Selain berkontribusi langsung terhadap kenaikan permukaan laut, es yang mencair ini dapat menyentuh hingga ke lapisan es paling dasar melalui celah es dan mempercepat es mengalir ke laut.
Berapa Banyak Es yang Hilang Akibat Hujan di Greenland?
NASA berikan penjelasan soal fenomena hujan deras yang pertama kali mengguyur Greenland dan menyebabkan pencairan es besar-besaran.(AP Photo/Felipe Dana)
Gelombang panas musim panas memicu terjadinya hujan di Greenland pada 14-15 Agustus lalu. Menurut Ted Scambos, peneliti senior NSIDC. Hujan yang terjadi di puncak Greenland itu menunjukkan makin parah pemanasan global dalam dua dekade terakhir yang berimbas pada pencairan es.
Menurut data dari Pusat Data Salju dan Es Nasional AS (NSIDC), hujan di Greenland ini adalah yang terparah sejak pertama kali dipantau pada 1950.
Selain itu, kadar es yang hilang akibat hujan ini juga tujuh kali lebih besar dari rata-rata pencairan es harian tahun ini.
Sementara Data National Science Foundation's Summit Station, menunjukkan 7 miliar ton hujan telah mengguyur selama lebih dari 24 jam.
Meski demikian, NASA menyebut pencairan es di Greenland pada puncak musim panas di 14 Agustus ini berselisih sedikit dengan peristiwa pencairan es besar-besaran di Greenland Juli lalu. Pencairan es kali ini meliputi sekitar 872 ribu kilometer persegi atau setara dengan ukuran negara Namibia di Afrika.
Pada 28 Juli terjadi pencairan es yang lebih besar. Pencairan es seluas 881 ribu kilometer persegi itu merupakan peristiwa pencairan ketujuh terbesar yang tercatat.
Ahli glasiologi di Kantor Pemodelan dan Asimilasi Global NASA, Lauren Andrews, menjelaskan bahwa pola pencairan berbeda untuk setiap peristiwa.
"Sementara peristiwa pencairan akhir Juli meluas di Greenland utara, peristiwa Agustus difokuskan di Greenland selatan," katanya seperti dikutip dari laman resmi NASA.
Es di kutub utara dan selatan mencair dengan cepat seiring dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Sebuah laporan iklim utama PBB yang dirilis bulan ini menyimpulkan bahwa pembakaran bahan bakar fosil menyebabkan pencairan Greenland selama dua dekade terakhir.
Sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal Cryosphere menemukan bahwa Bumi telah kehilangan 28 triliun ton es sejak pertengahan 1990-an. Sebagian besar es yang mencair itu berasal dari Kutub Utara, termasuk lapisan es Greenland.