Fakta Vaksin Johnson and Johnson, Cukup Satu Kali Suntik
CNN Indonesia
Rabu, 08 Sep 2021 12:37 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Fakta vaksin sekali suntik Johnson and Johnson (J&J) yang sudah mendapat izin darurat BPOM dengan efikasi 67,2 persen. (REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --
Vaksin Johnson and Johnson (J&J) sudah mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut di Indonesia vaksin ini didaftarkan oleh PT Integrated Health Indonesia (IHI) sebagai pemegang EUA dan bertanggung jawab untuk penjaminan keamanan, khasiat, dan mutu vaksin.
Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut, penerbitan EUA itu telah melalui penilaian bersama Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI) terhadap data mutu vaksin yang mengacu pada pedoman evaluasi mutu vaksin yang berlaku secara internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Badan POM kembali menerbitkan EUA bagi dua produk vaksin Covid-19 yang baru, yaitu Janssen Covid-19 vaccine dan vaksin convidecia," kata Penny dikutip dari situs resmi BPOM, Selasa (7/9).
Berikut sejumlah fakta terkait vaksin Covid-19 Johnson and Johnson.
Vaksin adenovirus asal AS
Vaksin ini merupakan tipe vaksin viral vector yang memanfaatkan adenovirus nonaktif untuk mengantarkan protein spike dari Covid-19 ke dalam sel tubuh, agar memicu pembentukan antibodi.
Berdasarkan data dari bioRxiv, menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 single-shot J&J menghasilkan aktivitas penetralisir antibodi terhadap varian Delta pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang diamati untuk varian Beta (B.1.351) di Afrika Selatan.
Selain itu, vaksin ini dapat menghasilkan antibody penetral terhadap varian Gamma (P.1) dan lainnya, termasuk Alpha (B.1.1.7), Varian Epsilon (B.1.429), Kappa (B.1.617.1) dan D614G, serta strain asli SARS-CoV-2 (WA1/2020).
Vaksin diproduksi di AS meski J&J bermarkas di Belanda. Teknik pengembangan vaksin dengan adenovirus serupa dengan vaksin yang dikembangkan oleh CanSino dan AstraZeneca.
Sekali suntik
Vaksin J&J tidak seperti vaksin Covid-19 lain yang memerlukan dua kali suntikan dengan rentang waktu 28 hari. Sebab, vaksin ini cukup dilakukan dengan sekali suntikan saja, seperti dikutip dari laman Covid-19 DKI Jakarta.
Nilai efikasi
Dalam hal efikasi, berdasarkan data interim studi klinik fase 3 pada 28 hari setelah pelaksanaan vaksinasi, efikasi vaksin Janssen untuk mencegah seluruh gejala Covid-19 adalah sebesar 67,2 persen.
Sementara nilai efikasi untuk mencegah gejala Covid-19 sedang hingga berat pada subjek di atas 18 tahun adalah sebesar 66,1 persen.
"Kami percaya bahwa vaksin kami menawarkan perlindungan yang tahan lama terhadap COVID-19 dan menghasilkan aktivitas penetralan terhadap varian Delta," kata Paul Stoffels, M.D., Wakil Ketua Komite Eksekutif dan Chief Scientific Officer di Johnson & Johnson seperti dikutip dari laman resmi J&J, beberapa waktu lalu.
Dilansir dari CDC, efek samping dari suntikan vaksin ini antara lain nyeri, kemerahan dan pembengkakan di arena suntikan.
Efek lainnya yang terjadi pada tubuh yakni kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, deman dan mual. Efek samping ini terjadi dalam satu atau dua hari setelah mendapatkan vaksin.
Ini merupakan tanda normal bahwa tubuh sedang membangun perlindungan dan akan hilang dalam beberapa hari.
Selain itu, terdapat juga kejadian pingsan setelah mendapat suntikan. Laporan menyebut terdapat 635 kejadian pingsan dan hampir pingsan dalam 8 juta vaksin J&J yang diberikan.
Sehingga rata-rata ada 8 kejadian pingsan per 1 juta dosis 15 menit setelah penyuntikan. Sebagai perbandingan, kejadian pingsan akibat suntikan flu pada 2019-2020 adalah 0,5 per 1 uta dosis.
Masih belum jelas apa yang menyebabkan hal ini. Kemungkinan trkait dengan kecemasan akibat mendapat suntikan atau takut jarum suntik.
Selain itu, ada kemungkinan hubungan kausal antara Vaksin J&J/Janssen COVID-19 dan efek samping yang serius namun jarang terjadi. Misal seperti pembekuan darah dengan trombosit rendah (trombosis dengan sindrom trombositopenia, atau TTS).
Hal ini terjadi pada sekitar 7 per 1 juta wanita yang divaksinasi antara 18 dan 49 tahun. Untuk wanita 50 tahun ke atas dan pria dari segala usia, efek samping ini bahkan lebih jarang terjadi.
Vaksin Johnson and Johnson (J&J) sudah mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut di Indonesia vaksin ini didaftarkan oleh PT Integrated Health Indonesia (IHI) sebagai pemegang EUA dan bertanggung jawab untuk penjaminan keamanan, khasiat, dan mutu vaksin.
Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut, penerbitan EUA itu telah melalui penilaian bersama Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI) terhadap data mutu vaksin yang mengacu pada pedoman evaluasi mutu vaksin yang berlaku secara internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Badan POM kembali menerbitkan EUA bagi dua produk vaksin Covid-19 yang baru, yaitu Janssen Covid-19 vaccine dan vaksin convidecia," kata Penny dikutip dari situs resmi BPOM, Selasa (7/9).
Berikut sejumlah fakta terkait vaksin Covid-19 Johnson and Johnson.
Vaksin adenovirus asal AS
Vaksin ini merupakan tipe vaksin viral vector yang memanfaatkan adenovirus nonaktif untuk mengantarkan protein spike dari Covid-19 ke dalam sel tubuh, agar memicu pembentukan antibodi.
Berdasarkan data dari bioRxiv, menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 single-shot J&J menghasilkan aktivitas penetralisir antibodi terhadap varian Delta pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang diamati untuk varian Beta (B.1.351) di Afrika Selatan.
Selain itu, vaksin ini dapat menghasilkan antibody penetral terhadap varian Gamma (P.1) dan lainnya, termasuk Alpha (B.1.1.7), Varian Epsilon (B.1.429), Kappa (B.1.617.1) dan D614G, serta strain asli SARS-CoV-2 (WA1/2020).
Vaksin diproduksi di AS meski J&J bermarkas di Belanda. Teknik pengembangan vaksin dengan adenovirus serupa dengan vaksin yang dikembangkan oleh CanSino dan AstraZeneca.
Sekali suntik
Vaksin J&J tidak seperti vaksin Covid-19 lain yang memerlukan dua kali suntikan dengan rentang waktu 28 hari. Sebab, vaksin ini cukup dilakukan dengan sekali suntikan saja, seperti dikutip dari laman Covid-19 DKI Jakarta.
Nilai efikasi
Dalam hal efikasi, berdasarkan data interim studi klinik fase 3 pada 28 hari setelah pelaksanaan vaksinasi, efikasi vaksin Janssen untuk mencegah seluruh gejala Covid-19 adalah sebesar 67,2 persen.
Sementara nilai efikasi untuk mencegah gejala Covid-19 sedang hingga berat pada subjek di atas 18 tahun adalah sebesar 66,1 persen.
"Kami percaya bahwa vaksin kami menawarkan perlindungan yang tahan lama terhadap COVID-19 dan menghasilkan aktivitas penetralan terhadap varian Delta," kata Paul Stoffels, M.D., Wakil Ketua Komite Eksekutif dan Chief Scientific Officer di Johnson & Johnson seperti dikutip dari laman resmi J&J, beberapa waktu lalu.
Efek samping: Demam, Pingsan, dan Efek Samping Serius
Fakta vaksin sekali suntik Johnson and Johnson (J&J) yang sudah mendapat izin darurat BPOM dengan efikasi 67,2 persen. (iStock/hxyume)
Dilansir dari CDC, efek samping dari suntikan vaksin ini antara lain nyeri, kemerahan dan pembengkakan di arena suntikan.
Efek lainnya yang terjadi pada tubuh yakni kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, deman dan mual. Efek samping ini terjadi dalam satu atau dua hari setelah mendapatkan vaksin.
Ini merupakan tanda normal bahwa tubuh sedang membangun perlindungan dan akan hilang dalam beberapa hari.
Selain itu, terdapat juga kejadian pingsan setelah mendapat suntikan. Laporan menyebut terdapat 635 kejadian pingsan dan hampir pingsan dalam 8 juta vaksin J&J yang diberikan.
Sehingga rata-rata ada 8 kejadian pingsan per 1 juta dosis 15 menit setelah penyuntikan. Sebagai perbandingan, kejadian pingsan akibat suntikan flu pada 2019-2020 adalah 0,5 per 1 uta dosis.
Masih belum jelas apa yang menyebabkan hal ini. Kemungkinan trkait dengan kecemasan akibat mendapat suntikan atau takut jarum suntik.
Selain itu, ada kemungkinan hubungan kausal antara Vaksin J&J/Janssen COVID-19 dan efek samping yang serius namun jarang terjadi. Misal seperti pembekuan darah dengan trombosit rendah (trombosis dengan sindrom trombositopenia, atau TTS).
Hal ini terjadi pada sekitar 7 per 1 juta wanita yang divaksinasi antara 18 dan 49 tahun. Untuk wanita 50 tahun ke atas dan pria dari segala usia, efek samping ini bahkan lebih jarang terjadi.