Kata Ahli Soal Kiamat Internet RI Imbas Badai Matahari Super

CNN Indonesia | Senin, 20/09/2021 10:48 WIB
Peneliti Sains Antariksa, Johan Muhammad, mengatakan badai Matahari Super juga bisa mengganggu jejaring internet di Indonesia Ilustrasi badai Matahari. (NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (ORPA-BRIN) menyatakan fenomena badai Matahari memang bisa berdampak terhadap jaringan internet dunia.

Peneliti Sains Antariksa ORPA Bandung, Johan Muhammad, mengatakan aktivitas dari fenomena badai Matahari akan berdampak pada kondisi di Bumi, terlebih pada sistem teknologi yang digunakan manusia saat ini.

"Adanya kondisi dari aktivitas badai matahari itu tentu saja bisa memiliki dampak kondisi di Bumi, apalagi semakin canggih teknologi manusia kemungkinan terpengaruh oleh aktivitas cuaca Matahari," ujar Johan secara virtual pada Webinar Cuaca Antariksa Riset, Layanan dan Manfaatnya beberapa waktu lalu.


Meski demikian Johan ragu badai Matahari bisa mengakibatkan gangguan berat terhadap jaringan internet dunia. Dia mengatakan istilah kiamat internet lebih tepat digunakan jika semua layanan internet di dunia tak bisa digunakan kembali.

"Kalau dibilang kiamat ya internet selesai sudah semua tapi kalau itu kan sifatnya global, tapi bisa jadi kalaupun ada kerusakan tentu di tingkat lokal masih bisa," ucap Johan.

Terkait kondisi internet secara global, Johan menjelaskan transmisi listrik atau elektron yang terjadi akibat badai Matahari justru dinilai tidak terlalu berdampak. Ia memprediksi yang akan terdampak adalah infrastruktur pendukung lainnya, salah satunya stasiun digital yang digunakan oleh penyedia layanan internet.

Johan mengatakan badai Matahari dapat secara langsung mentransmisi elektron atau arus listrik, yang dapat menyebabkan terjadinya induksi arus listrik di Bumi. Ia mengatakan hal itu terjadi khususnya pada jaringan listrik bertegangan tinggi.

Saat disinggung soal antisipasi terjadinya kiamat internet imbas fenomena badai Matahari, Johan menyarankan kepada para raksasa teknologi seperti Google, Facebook, Twitter dan lainnya untuk mempertimbangkan pendistribusian peladen (server).

Beberapa raksasa teknologi, dijelaskan Johan memiliki peladen utama di satu wilayah saja, di antaranya di Amerika Serikat. Jika server utama terdampak badai Matahari, maka tak ada server cadangan agar layanan internet tetap berjalan.

Johan menilai dengan cara membangun peladen di berbagai negara maka bisa menekan potensi gangguan secara global jika terjadi kerusakan di ekosistem layanan internet.

Risiko dampak kerusakan atas terjadinya badai Matahari, kata Johan, perlu dikaji lebih mendalam buat merancang mitigasi.

"Risiko kerusakan tentu ada tetapi perlu dikaji. Jadi untuk risiko mitigasi kita belum tahu terjadi atau tidak. Tapi tidak perlu terlalu khawatir," ucap Johan.

(can/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK