Jakarta, CNN Indonesia -- Australia akan membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir di bawah pakta keamanan Indo-Pasifik baru dengan Amerika Serikat dan Inggris.
Di dunia ada dua sistem kerja kapal selam yang populer, yaitu kapal selam nuklir dan kapal selam konvensional atau kapal selam diesel-elektrik. Pada dasarnya kapal selam nuklir memiliki listrik yang dipasok reaktor nuklir.
Tony Irwin, direktur teknis di SMR Nuclear Technology, menjelaskan bahwa reaktor nuklir tersebut digunakan untuk memanaskan air demi menghasilkan uap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Uap kemudian menggerakkan generator turbin uap, sehingga menghasilkan tenaga listrik," kata Irwin.
Hal tersebut tentu berbeda dengan kapal selam diesel elektrik, pada kapal selam mini mesin diesel digunakan untuk mengisi baterai listrik. Istilah 'nuklir' pada kapal selam mengacu pada kekuatan saja. Kapal selam nuklir tidak selalu membawa senjata nuklir, walaupun sebenarnya bisa saja.
Dalam sebuah pernyataan, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengatakan bahwa kapal selam Australia tidak akan membawa senjata nuklir.
"Australia tidak berusaha untuk memperoleh senjata nuklir atau membangun kemampuan nuklir sipil," kata Morrison seperti dikutip dari Cosmos, Jumat (17/9).
"Kami akan terus memenuhi semua kewajiban non-proliferasi nuklir kami," tambahnya.
Reaktor nuklir memungkinkan kapal selam menjadi tidak bergantung pada pasokan eksternal. Kapal selam diesel elektrik perlu mengisi bahan bakar secara teratur, sementara kapal selam nuklir tidak perlu mengisi bahan bakar.
"Mereka menggunakan apa yang disebut uranium yang sangat diperkaya, yang memungkinkan mereka berjalan sepanjang umur kapal selam tanpa mengisi bahan bakar," kata Irwin.
Selain itu kapal selam diesel elektrik juga perlu sering muncul ke permukaan kembali untuk menyalakan mesin diesel mereka untuk mengisi baterai.
Dilansir dari SMH, untuk mengisi ulang, kapal selam diesel seperti melakukan "snorkeling", membawa udara untuk menjalankan generatornya. Saat snorkeling itu membuat kapal selam rentan oleh musuh.
Kapal selam nuklir bisa bertahan dalam waktu lama di dalam laut. Lamanya waktu di bawah air hanya dibatasi oleh daya tahan kru dan jumlah makanan tersedia.
Cara Kerja Reaktor Nuklir pada Kapal Selam
Ilustrasi kapal selam diesel listrik. (Foto: ANTARA FOTO/Tee-Kheang(
Irwin menjelaskan bahwa hampir semua kapal selam bertenaga nuklir menggunakan PWR, reaktor air bertekanan. Ini teknologi yang persis sama dengan sebagian besar reaktor daya di seluruh dunia. Reaktor nuklir bekerja menghasilkan panas dari fisi nuklir.
Panas berasal dari fisi bahan bakar nuklir yang terkandung di dalam reaktor. Karena proses fisioning juga menghasilkan radiasi, pelindung ditempatkan di sekitar reaktor sehingga awak kapal terlindungi.
Pembangkit listrik tenaga nuklir menggunakan desain reaktor air bertekanan yang memiliki dua sistem dasar, yakni sistem primer dan sistem sekunder.
Sistem primer mensirkulasikan air biasa dan terdiri dari reaktor, loop perpipaan, pompa dan generator uap. Panas yang dihasilkan dalam reaktor dipindahkan ke air dengan tekanan tinggi agar tidak mendidih. Air ini dipompa melalui generator uap dan kembali ke reaktor untuk pemanasan ulang.
Di pembangkit uap, panas dari air di sistem primer dipindahkan ke sistem sekunder untuk menghasilkan uap. Sistem sekunder diisolasi dari sistem primer sehingga air di kedua sistem tersebut tidak bercampur.
Dalam sistem sekunder, uap mengalir dari pembangkit uap untuk menggerakkan generator turbin, yang memasok listrik ke kapal, dan ke turbin penggerak utama, yang menggerakkan baling-baling.
Setelah melewati turbin, uap dikondensasikan menjadi air yang "diumpankan" kembali ke pembangkit uap oleh pompa umpan. Jadi, sistem primer dan sekunder adalah sistem tertutup di mana air disirkulasi ulang dan diperbarui.
Karena tidak ada langkah dalam pembangkitan tenaga ini yang membutuhkan kehadiran udara atau oksigen, hal ini memungkinkan kapal untuk beroperasi sepenuhnya terlepas dari atmosfer bumi untuk waktu yang lama.