Sebab Kabel Laut Macam Telkom Putus, Perbaikan Tuntas Oktober
CNN Indonesia
Sabtu, 25 Sep 2021 04:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Ahli ungkap penyebab kabel laut seperti milik Telkom bisa putus sehingga mengganggu akses internet IndiHome dan Telkomsel dan selesai perbaikan Oktober. (iStockphoto/Christoph Burgstedt)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ahli mengungkap sejumlah penyebab kabel bawah laut bisa rusak atau putus seperti milik Telkom yang berimbas pada jaringan IndiHome dan Telkomsel dan akan selesai diperbaiki pada pertengahan Oktober.
Telkom Group menyatakan gangguan layanan internet pada operator IndiHome pada akhir pekan lalu akibat kendala pada sistem kabel bawah laut Jasuka (Jawa, Sumatera, dan Kalimantan) ruas Batam-Pontianak.
Wakil Direktur Operasi Cyber Security Independence Resilience Team of Indonesia, Muhammad Salahuddien Manggalanny, mengatakan bahwa putusnya kabel bawah laut sebagian besar disebabkan oleh kegiatan manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lebih dari 90 persen insiden kabel laut, karena gangguan fisik/mekanis pada overlay kabel seperti terkena jangkar, pancing, troll penangkap ikan," kata Salahuddien kepada CNNIndonesia.com melalui pesan teks, Rabu (22/9).
Sedangkan gangguan yang disebabkan oleh faktor non-manusia seperti bencana alam seperti letusan gunung api di bawah laut atau perubahan arus dalam laut, menurut Salahuddien, sangat jarang terjadi.
Hal tersebut dikarenakan jalur overlay kabel laut sudah direncanakan untuk menghindari potensi ancaman geografis dan bencana semacam itu, sebagaimana jenis infrastruktur lain seperti jalan tol dan bandara.
Kabel digigit Hiu
Selain itu, Salahuddien juga menjelaskan bahwa kemungkinan kabel bawah laut terputus karena gigitan ikan itu sangat kecil. Kabel bawah laut terbuat dari bahan yang kuat dan tidak menarik minat biota bawah air.
"Material kabel bawah laut (tabung pelindung/shell tube) adalah bahan yang tidak menarik minat biota baik daya tarik agresivitas, reproduksi dan konsumsi," katanya.
"Selain itu, juga tahan terhadap tantangan fisik lingkungan (tekanan air dan arus bawah laut), tahan benturan, tekukan (bending) dan termasuk tusukan (gigitan)," imbuh Salahuddien.
Lebih lanjut, Salahuddien juga menjelaskan bahwa proses dan waktu perbaikan kabel bawah laut yang rusak atau putus tergantung pada tingkat kerusakannya. Jika kerusakan terjadi di ruas overlay yang ramai lalu lintas atau terletak di laut dalam serta arus yang kuat, asalkan tersedia kapal khusus untuk overlay dan perbaikan maka proses penyambungannya sendiri hanya perlu waktu beberapa jam.
"Prosesnya, kabel akan diangkat dari dasar laut ke atas kapal perbaikan dan disambung. Kalau sudah selesai, diturunkan kembali ke dasar laut sesuai jalur overlaynya," jelasnya.
Menurut Salahuddien, proses perbaikan memakan waktu karena biasanya operator harus mengantre untuk mendapat giliran perbaikan kapal kabel laut. Masalah lain karena lokasi kapal kabel laut jauh dari titik kerusakan.
Selain itu, kapal yang bisa berfungsi untuk operasional overlay kabel laut sekaligus melakukan perbaikan kerusakan, jumlahnya terbatas.
"Jumlahnya tidak banyak di seluruh dunia...sehingga selalu antre dan berebut prioritas," lanjutnya.
Salahuddien menjelaskan kabel laut tidak ditanam di dasar laut seperti kabel serat optik yang ditanam di darat. Melainkan, kabel itu hanya diletakkan di permukaan dasar laut di ruang landas kontinen suatu negara atau mengikuti jalur internasional.
Setiap negara pun berwenang mengatur jalur overlay kabel laut ini, semua pemain harus patuh dan dilarang menggelar kabel di luar ruang landas kontinen atau jalur yang telah ditetapkan.
"Demikian juga di laut internasional. Selanjutnya, jalur ini pun akan dimasukkan ke peta maritim sehingga lalu lintas kelautan dapat mengetahui wilayah overlay kabel laut sehingga bisa menghindari atau tidak mengganggu," papar Salahuddien.
Jika yang putus adalah kabel laut milik Telkom, lantas mengapa hal ini ikut berpengaruh pada layanan Telkomsel yang merupakan operator seluler?
Salahuddien menuturkan hal ini terjadi karena layanan operator seluler yang mengandalkan koneksi nirkabel seperti Telkomsel, tetap membutuhkan FO (fiber optic/ serat optik), termasuk kabel optik yang di dasar laut.
Ia menerangkan layanan seluler berasal dari BTS (Base Station) yang memancarkan sinyal nirkabel ke perangkat mobile pengguna. Namun, koneksi dari BTS ke MSC (Mobile Switching Center) sampai ke internet, semuanya dihubungkan dengan backbone berupa kabel serat optik. Kabel-kabel ini menghubungkan koneksi antar pulau maupun antar negara. Kabel ini melintang baik yang di jalur darat atau overlay bawah laut.
Saat ini, hanya sebagian kecil atau kurang dari 20 persen backbone telekomunikasi yang masih menggunakan wireless terestrial (microwave access) dan VSAT (satelit), karena kapasitasnya yang terbatas. Biasanya akses wireless terrestrial dan VSAT ini banyak digunakan untuk melayani daerah terpencil yang penggunanya sedikit.
"Pada dasarnya, kapasitas kabel FO itu bisa unlimited, batasnya cuma kemampuan perangkat interface saja. Sehingga kalau kapasitas kurang karena kebutuhan meningkat, cukup ganti interface saja sementara kabel FO yang digunakan tetap sama atau tidak berubah," ujar Salahuddien.
Hal tersebut berbeda dengan dengan wireless yang menggunakan sumber daya alam terbatas frekuensi, kapasitasnya mempunyai batas maksimal. Tambahan kapasitas untuk akses wireless, biasanya juga harus mengganti keseluruhan perangkatnya.
Sebelumnya, Telkom Group menyatakan gangguan layanan internet pada operator IndiHome akibat kendala pada sistem kabel bawah laut Jasuka ruas Batam-Pontianak.
Vice President Corporate Communication Telkom, Pujo Pramono, mengatakan gangguan layanan Telkomsel dan Indihome teridentifikasi berasal dari titik sekitar 1,5 kilometer lepas pantai Batam pada kedalaman 20 meter di bawah permukaan laut.
Kabel Jasuka memiliki 17 titik pendaratan atau landing point yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, serta Malaysia.
Titik tersebut berada di Bandar Lampung, Batam, Baturaja, Dumai, Jakarta, Jambi, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Rantau Prapat, Sibolga Tanjung Pakis, Tanjung Pandan, Tebing Tinggi, dan Bandar Bukit Tinggi di Selangor, Malaysia.
Telkom mengklaim Jasuka merupakan salah satu jalur kabel laut terpanjang di dunia. Instalasi kabel itu terdiri empat kanal 40G yang memiliki kapasitas daya tampung hingga 16 kali lipat dari jalur konvensional.
Telkom membangun sistem kabel bawah laut jalur Jawa-Sumatera-Kalimantan sebagai upaya dari Indonesia Digital Network. Targetnya supaya 90 persen wilayah kota dan kabupaten di Indonesia terkoneksi jaringan pita lebar (broadband) pada 2015 silam.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ahli mengungkap sejumlah penyebab kabel bawah laut bisa rusak atau putus seperti milik Telkom yang berimbas pada jaringan IndiHome dan Telkomsel dan akan selesai diperbaiki pada pertengahan Oktober.
Telkom Group menyatakan gangguan layanan internet pada operator IndiHome pada akhir pekan lalu akibat kendala pada sistem kabel bawah laut Jasuka (Jawa, Sumatera, dan Kalimantan) ruas Batam-Pontianak.
Wakil Direktur Operasi Cyber Security Independence Resilience Team of Indonesia, Muhammad Salahuddien Manggalanny, mengatakan bahwa putusnya kabel bawah laut sebagian besar disebabkan oleh kegiatan manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lebih dari 90 persen insiden kabel laut, karena gangguan fisik/mekanis pada overlay kabel seperti terkena jangkar, pancing, troll penangkap ikan," kata Salahuddien kepada CNNIndonesia.com melalui pesan teks, Rabu (22/9).
Sedangkan gangguan yang disebabkan oleh faktor non-manusia seperti bencana alam seperti letusan gunung api di bawah laut atau perubahan arus dalam laut, menurut Salahuddien, sangat jarang terjadi.
Hal tersebut dikarenakan jalur overlay kabel laut sudah direncanakan untuk menghindari potensi ancaman geografis dan bencana semacam itu, sebagaimana jenis infrastruktur lain seperti jalan tol dan bandara.
Kabel digigit Hiu
Selain itu, Salahuddien juga menjelaskan bahwa kemungkinan kabel bawah laut terputus karena gigitan ikan itu sangat kecil. Kabel bawah laut terbuat dari bahan yang kuat dan tidak menarik minat biota bawah air.
"Material kabel bawah laut (tabung pelindung/shell tube) adalah bahan yang tidak menarik minat biota baik daya tarik agresivitas, reproduksi dan konsumsi," katanya.
"Selain itu, juga tahan terhadap tantangan fisik lingkungan (tekanan air dan arus bawah laut), tahan benturan, tekukan (bending) dan termasuk tusukan (gigitan)," imbuh Salahuddien.
Lebih lanjut, Salahuddien juga menjelaskan bahwa proses dan waktu perbaikan kabel bawah laut yang rusak atau putus tergantung pada tingkat kerusakannya. Jika kerusakan terjadi di ruas overlay yang ramai lalu lintas atau terletak di laut dalam serta arus yang kuat, asalkan tersedia kapal khusus untuk overlay dan perbaikan maka proses penyambungannya sendiri hanya perlu waktu beberapa jam.
"Prosesnya, kabel akan diangkat dari dasar laut ke atas kapal perbaikan dan disambung. Kalau sudah selesai, diturunkan kembali ke dasar laut sesuai jalur overlaynya," jelasnya.
Menurut Salahuddien, proses perbaikan memakan waktu karena biasanya operator harus mengantre untuk mendapat giliran perbaikan kapal kabel laut. Masalah lain karena lokasi kapal kabel laut jauh dari titik kerusakan.
Selain itu, kapal yang bisa berfungsi untuk operasional overlay kabel laut sekaligus melakukan perbaikan kerusakan, jumlahnya terbatas.
"Jumlahnya tidak banyak di seluruh dunia...sehingga selalu antre dan berebut prioritas," lanjutnya.
Salahuddien menjelaskan kabel laut tidak ditanam di dasar laut seperti kabel serat optik yang ditanam di darat. Melainkan, kabel itu hanya diletakkan di permukaan dasar laut di ruang landas kontinen suatu negara atau mengikuti jalur internasional.
Setiap negara pun berwenang mengatur jalur overlay kabel laut ini, semua pemain harus patuh dan dilarang menggelar kabel di luar ruang landas kontinen atau jalur yang telah ditetapkan.
"Demikian juga di laut internasional. Selanjutnya, jalur ini pun akan dimasukkan ke peta maritim sehingga lalu lintas kelautan dapat mengetahui wilayah overlay kabel laut sehingga bisa menghindari atau tidak mengganggu," papar Salahuddien.
Alasan putus kabel optik berpengaruh ke Telkomsel
Ilustrasi. Ahli mengungkap sejumlah penyebab kabel laut seperti milik Telkom bisa putus sehingga mengganggu akses internet IndiHome dan Telkomsel. (iStockphoto/~UserGI15994093)
Jika yang putus adalah kabel laut milik Telkom, lantas mengapa hal ini ikut berpengaruh pada layanan Telkomsel yang merupakan operator seluler?
Salahuddien menuturkan hal ini terjadi karena layanan operator seluler yang mengandalkan koneksi nirkabel seperti Telkomsel, tetap membutuhkan FO (fiber optic/ serat optik), termasuk kabel optik yang di dasar laut.
Ia menerangkan layanan seluler berasal dari BTS (Base Station) yang memancarkan sinyal nirkabel ke perangkat mobile pengguna. Namun, koneksi dari BTS ke MSC (Mobile Switching Center) sampai ke internet, semuanya dihubungkan dengan backbone berupa kabel serat optik. Kabel-kabel ini menghubungkan koneksi antar pulau maupun antar negara. Kabel ini melintang baik yang di jalur darat atau overlay bawah laut.
Saat ini, hanya sebagian kecil atau kurang dari 20 persen backbone telekomunikasi yang masih menggunakan wireless terestrial (microwave access) dan VSAT (satelit), karena kapasitasnya yang terbatas. Biasanya akses wireless terrestrial dan VSAT ini banyak digunakan untuk melayani daerah terpencil yang penggunanya sedikit.
"Pada dasarnya, kapasitas kabel FO itu bisa unlimited, batasnya cuma kemampuan perangkat interface saja. Sehingga kalau kapasitas kurang karena kebutuhan meningkat, cukup ganti interface saja sementara kabel FO yang digunakan tetap sama atau tidak berubah," ujar Salahuddien.
Hal tersebut berbeda dengan dengan wireless yang menggunakan sumber daya alam terbatas frekuensi, kapasitasnya mempunyai batas maksimal. Tambahan kapasitas untuk akses wireless, biasanya juga harus mengganti keseluruhan perangkatnya.
Sebelumnya, Telkom Group menyatakan gangguan layanan internet pada operator IndiHome akibat kendala pada sistem kabel bawah laut Jasuka ruas Batam-Pontianak.
Vice President Corporate Communication Telkom, Pujo Pramono, mengatakan gangguan layanan Telkomsel dan Indihome teridentifikasi berasal dari titik sekitar 1,5 kilometer lepas pantai Batam pada kedalaman 20 meter di bawah permukaan laut.
Kabel Jasuka memiliki 17 titik pendaratan atau landing point yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, serta Malaysia.
Titik tersebut berada di Bandar Lampung, Batam, Baturaja, Dumai, Jakarta, Jambi, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Rantau Prapat, Sibolga Tanjung Pakis, Tanjung Pandan, Tebing Tinggi, dan Bandar Bukit Tinggi di Selangor, Malaysia.
Telkom mengklaim Jasuka merupakan salah satu jalur kabel laut terpanjang di dunia. Instalasi kabel itu terdiri empat kanal 40G yang memiliki kapasitas daya tampung hingga 16 kali lipat dari jalur konvensional.
Telkom membangun sistem kabel bawah laut jalur Jawa-Sumatera-Kalimantan sebagai upaya dari Indonesia Digital Network. Targetnya supaya 90 persen wilayah kota dan kabupaten di Indonesia terkoneksi jaringan pita lebar (broadband) pada 2015 silam.