Kadar Paracetamol Jakarta Lebih Tinggi dari Brazil-Portugal
CNN Indonesia
Sabtu, 02 Okt 2021 18:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Peneliti menyebut kadar pencemaran paracetamol di Jakarta lebih tinggi dari pantai di Brazil dan Portugis. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia --
Peneliti menyebut konsentrasi pencemaran paracetamol (parasetamol) di Teluk Jakarta lebih tinggi ketimbang Pantai di Brazil dan Portugis.
Hal tersebut didapati dari hasil studi pendahuluan (preliminary study) yang berjudul "High concentrations of paracetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indonesia" dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of Brighton (UoB) Inggris.
"Hasil penelitian menunjukkan, jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di belahan dunia, konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta adalah relatif tinggi (420-610 ng/L) dibanding di pantai Brazil (34. 6 ng/L), pantai utara Portugis (51.2 - 584 ng/L)," ungkap Zainal Arifin, salah satu anggota tim peneliti dari BRIN melalui keterangan tertulis, Sabtu (2/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam studi tersebut, para peneliti melakukan pengujian kualitas air laut di beberapa lokasi yang sudah tercemar limbah buangan.
Pengambilan sampel dilakukan pada empat Teluk di Jakarta dan satu pantai di utara Jawa Tengah. Yakni Teluk Angke, Ancol, Tanjung Priok, Cilincing, dan Pantai Eretan.
Kadar parasetamol di perairan dua Teluk yang berada di Jakarta terdeteksi sebesar 610 ng/L di Muara Sungai Angke dan sebesar 420 ng/L di Muara Sungai Ciliwung Ancol.
"Kami melakukan dua lokasi utama, yaitu di Teluk Jakarta dan Teluk Eretan. Kosentrasi paracetamol tertinggi ditemukan di pesisir Teluk Jakarta, sedangkan di Teluk Eretan tidak terdeteksi alat," ujarnya.
Dengan tingkat konsentrasi parasetamol setinggi itu, Zainal khawatir akan risiko lingkungan jangka panjang yang bakal dihadapi oleh organisme laut di Teluk Jakarta.
Zainal menyebut untuk mengetahui secara pasti bahaya tingginya kadar Parasetamol di laut Jakarta terhadap lingkungan masih diperlukan riset lebih lanjut.
"Kami belum tahu, karena memang riset kami baru pada tahap awal. Namun jika konsentrasinya selalu tinggi dalam jangka panjang, hal ini menjadi kekhawatiran kita karena memiliki potensi yang buruk bagi hewan-hewan laut," ungkap peneliti BRIN Wulan Koaguow yang juga terlibat dalam studi tersebut.
Berdasarkan penelitian di laboratorium, peneliti dari BRIN tersebut menemukan bahwa pemaparan parasetamol pada konsentrasi 40 ng/L telah menyebabkan atresia pada kerang betina, dan reaksi pembengkakan.
Temuan tersebut juga sejalan dengan beberapa hasil penelitian di Asian Timur, seperti Korea Selatan menyebutkan bahwa zooplankton yang terpapar paracetamol menyebabkan peningkatan stress hewan, dan oxydative stress.
Yakni ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antioksidan, yang berperan dalam mempertahankan homeostasis.
"Penelitian lanjutan masih perlu dilakukan terkait potensi bahaya paracetamol atau produk farmasi lainnya pada biota-biota laut," ungkap Wulan.
Zainal menjelaskan, secara teori ada tiga sumber yang menyebabkan limbah parasetamol ditemukan pada perairan di Teluk Jakarta.
Pertama, ekresi akibat konsumsi masyarakat yang berlebihan. Pasalnya parasetamol merupakan salah satu kandungan produk obat atau farmasi yang jamak dikonsumsi oleh masyarakat secara bebas tanpa resep dokter.
"Dengan jumlah penduduk yang tinggi di kawasan Jabodetabek dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dokter, memiliki potensi sebagai sumber kontaminan di perairan.
Sedangkan dua sumber potensial lainnya berasal dari rumah sakit dan industri farmasi. Hal tersebut menurutnya diduga akibat sistem pengelolaan air limbah yang tidak berfungsi optimal.
"Sehingga sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke perairan pantai," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa sisa atau limbah obat-obatan memang sudah seharusnya tidak ada di dalam air sungai dan air laut. Hanya saja selama ini masih belum ada aturan yang ketat terkait pembuangan sisa obat.
Oleh sebab itu, Zainal menilai pemerintah perlu segera melakukan penguatan regulasi tata kelola pengelolaan air limbah baik untuk rumah tangga, komplek apartemen, dan industri.
Sedangkan dalam pemakaian produk farmasi (obat, stimulan), publik juga menurutnya perlu lebih bertanggung jawab, misalnya dengan cara tidak membuang sisa obat sembarangan.
"Tugas setiap kita baik industri maupun masyarakat, untuk menjaga kesehatan manusia dan juga kesehatan lingkungan termasuk laut. Semua itu agar kita dapat hidup lebih bermakna," pungkasnya.
Peneliti menyebut konsentrasi pencemaran paracetamol (parasetamol) di Teluk Jakarta lebih tinggi ketimbang Pantai di Brazil dan Portugis.
Hal tersebut didapati dari hasil studi pendahuluan (preliminary study) yang berjudul "High concentrations of paracetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indonesia" dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of Brighton (UoB) Inggris.
"Hasil penelitian menunjukkan, jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di belahan dunia, konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta adalah relatif tinggi (420-610 ng/L) dibanding di pantai Brazil (34. 6 ng/L), pantai utara Portugis (51.2 - 584 ng/L)," ungkap Zainal Arifin, salah satu anggota tim peneliti dari BRIN melalui keterangan tertulis, Sabtu (2/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam studi tersebut, para peneliti melakukan pengujian kualitas air laut di beberapa lokasi yang sudah tercemar limbah buangan.
Pengambilan sampel dilakukan pada empat Teluk di Jakarta dan satu pantai di utara Jawa Tengah. Yakni Teluk Angke, Ancol, Tanjung Priok, Cilincing, dan Pantai Eretan.
Kadar parasetamol di perairan dua Teluk yang berada di Jakarta terdeteksi sebesar 610 ng/L di Muara Sungai Angke dan sebesar 420 ng/L di Muara Sungai Ciliwung Ancol.
"Kami melakukan dua lokasi utama, yaitu di Teluk Jakarta dan Teluk Eretan. Kosentrasi paracetamol tertinggi ditemukan di pesisir Teluk Jakarta, sedangkan di Teluk Eretan tidak terdeteksi alat," ujarnya.
Dengan tingkat konsentrasi parasetamol setinggi itu, Zainal khawatir akan risiko lingkungan jangka panjang yang bakal dihadapi oleh organisme laut di Teluk Jakarta.
Zainal menyebut untuk mengetahui secara pasti bahaya tingginya kadar Parasetamol di laut Jakarta terhadap lingkungan masih diperlukan riset lebih lanjut.
"Kami belum tahu, karena memang riset kami baru pada tahap awal. Namun jika konsentrasinya selalu tinggi dalam jangka panjang, hal ini menjadi kekhawatiran kita karena memiliki potensi yang buruk bagi hewan-hewan laut," ungkap peneliti BRIN Wulan Koaguow yang juga terlibat dalam studi tersebut.
Berdasarkan penelitian di laboratorium, peneliti dari BRIN tersebut menemukan bahwa pemaparan parasetamol pada konsentrasi 40 ng/L telah menyebabkan atresia pada kerang betina, dan reaksi pembengkakan.
Temuan tersebut juga sejalan dengan beberapa hasil penelitian di Asian Timur, seperti Korea Selatan menyebutkan bahwa zooplankton yang terpapar paracetamol menyebabkan peningkatan stress hewan, dan oxydative stress.
Yakni ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antioksidan, yang berperan dalam mempertahankan homeostasis.
"Penelitian lanjutan masih perlu dilakukan terkait potensi bahaya paracetamol atau produk farmasi lainnya pada biota-biota laut," ungkap Wulan.
Sumber pencemaran paracetamol di Jakarta
Ilustrasi. Peneliti menyebut kadar pencemaran paracetamol di Jakarta lebih tinggi dari pantai di Brazil dan Portugis. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)
Zainal menjelaskan, secara teori ada tiga sumber yang menyebabkan limbah parasetamol ditemukan pada perairan di Teluk Jakarta.
Pertama, ekresi akibat konsumsi masyarakat yang berlebihan. Pasalnya parasetamol merupakan salah satu kandungan produk obat atau farmasi yang jamak dikonsumsi oleh masyarakat secara bebas tanpa resep dokter.
"Dengan jumlah penduduk yang tinggi di kawasan Jabodetabek dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dokter, memiliki potensi sebagai sumber kontaminan di perairan.
Sedangkan dua sumber potensial lainnya berasal dari rumah sakit dan industri farmasi. Hal tersebut menurutnya diduga akibat sistem pengelolaan air limbah yang tidak berfungsi optimal.
"Sehingga sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke perairan pantai," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa sisa atau limbah obat-obatan memang sudah seharusnya tidak ada di dalam air sungai dan air laut. Hanya saja selama ini masih belum ada aturan yang ketat terkait pembuangan sisa obat.
Oleh sebab itu, Zainal menilai pemerintah perlu segera melakukan penguatan regulasi tata kelola pengelolaan air limbah baik untuk rumah tangga, komplek apartemen, dan industri.
Sedangkan dalam pemakaian produk farmasi (obat, stimulan), publik juga menurutnya perlu lebih bertanggung jawab, misalnya dengan cara tidak membuang sisa obat sembarangan.
"Tugas setiap kita baik industri maupun masyarakat, untuk menjaga kesehatan manusia dan juga kesehatan lingkungan termasuk laut. Semua itu agar kita dapat hidup lebih bermakna," pungkasnya.