Riuh Ban Tanpa Udara, TNI Mulai Kembangkan Sejak 2019

CNN Indonesia | Selasa, 12/10/2021 10:00 WIB
Ban tanpa udara sudah mulai dikembangkan Siswa dan siswi dari Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) Kodiklat TNI AD sejak 2019. Ban tanpa udara dikembangkan siswa dan siswi dari Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) Kodiklat TNI AD. (Foto: Dok.Poltekad)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ban tanpa udara besutan Michelin dan Bridgestone menarik perhatian karena banyak kegunaan. Selain dua pabrikan ban terkemuka itu, faktanya ban tanpa udara juga lahir dari tangan dingin anak negeri.

Siswa dan siswi dari Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) Kodiklat TNI AD juga berhasil merancang ban tanpa udara.

Para siswa dan siswi Poltekad ini mulai mengembangkan ban tanpa udara sejak 2019 dan memasuki tahap uji coba satu tahun kemudian. Pembuatan, pengembangan, dan pengujian ban tanpa udara ini dilakukan di Batu, Jawa Timur.


Komandan Poltekad Kodiklat TNI AD Brigadir Jenderal Nugraha Gumilar menjelaskan ide ban tanpa udara terinspirasi para insinyur otomotif dunia yang mampu membuat ban kendaraan tanpa perlu diisi udara.

"Kami nyoba buat juga, kalau kualitasnya tidak kalah. Jadi kita bangga juga dengan produk dalam negeri," kata Nugraha saat itu.

Nugraha mengungkap dalam pengembangan ban tersebut, anak didiknya menggunakan teknologi, peralatan, dan material sederhana. Misalnya pada bagian seperti jari-jari berongga seperti sarang lebah dibuat menggunakan karet mentah olahan senyawa kimia.

Olahan itu kemudian dicetak lalu disambung ke bagian tapak ban menggunakan sistem vulkanisir.

"Karena memang laboratorium kami belum secanggih seperti produsen-produsen ban begitu," kata dia.

Formula terbaru ban tanpa udara karya Poltekad telah diuji coba pada pikap kabin ganda. Klaim Nugraha ban tersebut kuat menahan beban hingga dua sampai empat ton.

"Tapi kalau mau dipakai ke mobil besar lagi harus bikin jaring-jaringnya yang lebih kuat dan fleksibel lagi," kata dia.

Sama seperti ban tanpa udara milik Michelin, buatan TNI AD ini juga memiliki struktur unik dan berongga yang berfungsi sebagai penyangga antara pelek dan tapak ban. Tapi bedanya, ban racikan dalam negeri ini dibuat menyatu langsung dengan pelek yang dirancang khusus.

Sementara buatan Michelin dibuat terpisah antara ban dengan peleknya. Sehingga pengguna hanya perlu mengganti ban saja.

Namun keduanya tetap memiliki ketahanan yang sama yaitu anti bocor dan aman saat melintasi benda tajam.

Sejauh ini TNI AD belum mengumunkan kelanjutan dari proyek pembuaran ban tanpa udara, sedangkan Michelin berkeinginan memulai produksi masal pada 2024.

(mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK