Ahli Kritik Prosedur Masuk Gorong-Gorong Tewaskan 5 Petugas

CNN Indonesia | Selasa, 12/10/2021 16:44 WIB
Para ahli mengkritik prosedur yang digunakan petugas ketika melakukan pengecekan pipa kabel Telkom di Tangerang hingga tewaskan 5 orang. Para ahli mengkritik prosedur yang digunakan petugas ketika melakukan pengecekan pipa kabel Telkom di Tangerang hingga tewaskan 5 orang. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah ahli mengkritik prosedur pengecekan pipa kabel internet Telkom di gorong-gorong Kota Tangerang, yang menyebabkan 5 orang tewas.

Sekretaris Forum Rektor Perhimpunan Insinyur Indonesia (PII), Isradi Zainal mengatakan petugas yang masuk ke gorong-gorong itu tak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Hal itu disebut Isradi merupakan praktik yang tak menggunakan prosedur yang sesuai.

"Kalau kita lihat konteksnya kemarin mereka masuk tanpa APD, mereka masuk tanpa prosedur. Kenapa bisa itu terjadi? itu yang mesti ditelusuri," ujar Isradi kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Selasa (12/10).


Dia mengatakan keselamatan pekerja masuk dalam undang undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara.

Lebih lanjut ia mengatakan petugas harusnya melakukan beberapa prosedur sebelum masuk ke dalam gorong-gorong. Terlebih, jika lubang itu diketahui telah lama tertutup. Isradi mengatakan dari lubang itu bisa menghasilkan zat yang mematikan.

"Kondisinya itu kan ruang tertutup, semakin lama tempat seperti itu bakal mengandung zat-zat berbahaya yang bisa mematikan orang. Kalau misalnya dibuka tiba-tiba dan masuk itu memang bisa terjadi seperti ini (mematikan)," tuturnya.

Ia menyarankan seharusnya ketika membuka gorong-gorong atau lubang yang diketahui telah lama tak dibuka, seharusnya didiamkan dahulu 1 hingga 2 hari agar ruangan bersih dari zat berbahaya seperti di antaranya gas alam.

Selain itu, Isradi juga menyarankan untuk melakukan deteksi kandungan gas di gorong-gorong itu dengan menggunakan gas detector, untuk mengetahui seberapa berbahaya kandungan gas di dalam gorong-gorong tersebut.

Lebih lanjut Isradi mengatakan para pekerja yang masuk ke gorong-gorong itu biasanya tak turun ke bawah sendirian, melalaikan dengan beberapa orang. Biasanya satu sama lain saling terikat tali, yang bertujuan jika salah satunya terjadi masalah dapat saling membantu.

Di samping itu Isradi juga menyoroti peran perusahaan yang memerintahkan karyawannya memeriksa gorong-gorong. Seharusnya, perusahaan melakukan job safety analysis dan memastikan bahwa tempat bekerja itu tidak membahayakan karyawan.

"Ini kan ada proyek dari PT X, sebenarnya sebelum memerintahkan ke orang lain seharusnya perusahaan memastikan bahwa tempat itu apakah berbahaya atau tidak," katanya.

Sebelumnya sebanyak lima orang tewas di gorong-gorong saat melakukan pengecekan kabel Telkom. Kelima orang itu diduga terpapar gas berbahaya. Korban tewas diduga tak menggunakan APD saat bekerja.

APD dipertanyakan

Terpisah, Ketua Umum PII Heru Dewanto, mengatakan dengan tidak menggunakan APD saat bertugas justru menimbulkan pertanyaan kepada pihak perusahaan mengapa para pekerja tak dilengkapi APD saat bekerja.

Heru menjelaskan dari aspek keselamatan kerja, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) pekerjaan yang dilakukan dilakukan di dalam gorong gorong untuk perbaikan kabel, drainage dan sebagainya termasuk kategori pekerjaan beresiko dan masuk dalam kategori pekerjaan berbahaya.

"Dengan demikian perusahaan yang mempekerjakan mesti memiliki sistem manajemen K3L(SMK3L)," ujar Heru secara tertulis, Selasa (12/10).

Dengan demikian, Heru mengatakan perusahaan pemberi kerja tentunya perlu mempersiapkan prosedur orang terlatih, paham keselamatan kerja meskipun sudah dilengkapi alat pelindung diri.

Kasubbid Toksikologi Lingkungan Puslabfor Mabes Polri, Kompol Faizal Rachmad mengungkapkan hasil temuan sementara ditemukan gas berbahaya. Namun pihaknya masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait konsentrasi dan jenis gas yang ada di dalamnya.



(can/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK