Untung Rugi Ban Tanpa Udara vs Ban Angin Konvensional

CNN Indonesia | Kamis, 14/10/2021 08:48 WIB
Sejumlah keuntungan dan kerugian penggunaan ban tanpa udara vs ban konvensional. Sejumlah nilai plus dan minus penggunaan ban tanpa udara vs ban konvensional. (michelinmedia.com)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ban tanpa udara menjadi salah satu terobosan masa depan industri otomotif. Saat ini beberapa produsen turut mengembangkan ban tanpa udara. Namun ada beberapa nilai keuntungan dan kerugian penggunaan ban ini ketimbang ban angin konvensional.

Secara umum, ban tanpa udara berbentuk sama seperti ban konvensional. Berwarna hitam, berbahan karet dan dengan bentuk bulat seperti donat. Namun bedanya ban tanpa udara tidak dirancang untuk menampung udara jadi memiliki bentuk dinding borongga.

Produsen yang saat ini berupaya mengembangkan ban tanpa udar ialah Michelin dan Bridgestone. Diketahui, Michelin mulai memproduksi ban tanpa udara bernama Unique Puncture-proof Tire System (Uptis) mulai 2024.


Sementara General Motor dan Michelin berharap mereka bisa meluncurkan ban tanpa udara ini ke publik pada tahun 2025, menurut laporan Motor Biscuit.

Keuntungan ban tanpa udara

Tak perlu cek tekanan

Ban tanpa udara memiliki struktur yang terbilang unik pada bagian dinding. Bisa dikatakan fungsinya sebagai penyangga antara bagian tapak ban dengan pelek.

Dari struktur tersebut bisa dipahami kerja ban tak akan menggunakan tekanan udara. Dengan demikian, pengemudi tak perlu mengecek tekanan ban secara berkala.

Ban tak bocor

Keuntungan lain dari penggunaan ban tanpa udara cukup jelas. Pengendara tidak akan pernah bisa dihentikan oleh kebocoran ban.

Tahan paku hingga kebal peluru

Ban ini tidak akan mengalami masalah jika tertembus paku atau benda tajam. Sebab ban ini memang dirancang tanpa udara sehingga tak mungkin kempis.

Selain itu, ban tanpa angin buatan TNI disebut kebal benda tajam dan peluru kaliber 5,6 mm. Komandan Poltekad Kodiklat TNI AD Brigadir Jenderal Nugraha Gumilar mengatakan ban tanpa udara buatan anak didiknya mampu menahan beban hingga dua sampai empat ton. Uji coba tahap pertama disematkan pada pikap kabin ganda. 

Kekakuan dapat disetel

Serupa dengan ban konvensional yang bisa diatur tekanan angin untuk mendapat keempukan ban yan pas, rongga pada ban tanpa udara juga dapat diatur untuk memenuhi karakteristik tingkat keempukan ban yang diinginkan.

Anda dapat menyetel kaku atau lenturnya ban secara individual di bawah gaya akselerasi, pengereman, menikung, dan penanganan benturan. Karakteristik ban terhadap benturan bahkan dapat disetel untuk kebutuhan suspensi di beberapa jenis kendaraan.

Lebih ramah lingkungan

Michelin mengatakan sekitar 200 juta ban setiap tahun berakhir di tempat pembuangan sampah lebih awal lantaran bocor ban. Ban tanpa udara diklaim memiliki masa pakai yang lama, sehingga tak menghasilkan banyak limbah, menurut laporan Motor Biscuit.



Kerugian ban tanpa udara

Kurang estetik

Meskipun ban tanpa udara menjadi terobosan teknologi otomotif, ada hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan. Masalah estetika menjadi pertimbangan yang menjadi risiko kemajuan teknologi ban tersebut.

Dikutip Auto Blog, ban tanpa udara didesain menyatu dengan pelek. Sehingga, bagian velg dan ban disebut menjadi sebuah kesatuan yang tak bisa diganti.

Lebih mahal

Selain itu Michelin mengatakan ban tanpa udara Uptis bakal dijual antara US$40 atau senilai Rp639 ribu(kurs Rp14.202) hingga US$65 atau senilai Rp923 ribu per ban.

Sedangkan harga ban tanpa udara Bridgestone QuietTrack, akan dibanderol lebih mahal, US$133 per ban atau sekitar Rp1,9 juta (kurs Rp14.217,75).

Harga itu disebut jauh lebih mahal dibandingkan harga ban biasa. Namun tentunya banyak keuntungan yang didapat bagi para pengemudi.

(can/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK