Facebook Uji News Feed Minim Konten Politik di Indonesia

CNN Indonesia | Kamis, 14/10/2021 20:15 WIB
Facebook menambah jumlah lokasi pengetesan News Feed minim konten politik menjadi lebih dari 80 negara. Ilustrasi Facebook. (AFP/OLIVIER DOULIERY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Facebook perlahan memperluas upayanya membatasi konten politik di News Feed. Raksasa teknologi itu kini tengah menguji fitur pembatasan di 75 negara, termasuk Indonesia.

Perbaruan News Feed dilakukan usai pihaknya melakukan survei kepada pengguna di seluruh dunia. Banyak orang yang mengeluh memiliki News Feed bernuansa politik yang tidak mereka sukai.

Para responden mengatakan rindu Facebook lama yang digunakan untuk menghubungkan orang, bukan untuk memaksa pengguna berpartisipasi dalam pertarungan politik Trump versus Biden.


Facebook telah memperkenalkan versi terbaru News Feed di Amerika Serikat, Kosta Rika, Swedia, Spanyol, Irlandia, Kanada, Brasil, dan Indonesia. Pembaruan itu menandai upaya perluasan yang signifikan, dengan jumlah total negara yang terlibat menjadi lebih dari 80.

Pihaknya tidak mengidentifikasi negara-negara mana yang baru bergabung dalam pengujian itu, tetapi seorang juru bicara mengonfirmasi perusahaan menunjukkan perubahan Umpan Berita untuk 'sebagian kecil orang' di setiap negara.

Juru bicara itu menambahkan negara-negara yang akan menggelar kontestasi politik dan mereka yang 'berisiko lebih tinggi terhadap konflik' tidak termasuk dalam uji coba.

Mark Zuckerberg pertama kali mengumumkan rencana membuat News Feed terbatas konten politik pada Januari lalu, beberapa minggu setelah terjadinya pemberontakan pendukung Donald Trump di gedung kongres, Capitol.

Memberikan fitur terbaru ke lebih banyak negara dianggap dapat membantu Facebook mempelajari lebih lanjut tentang cara menurunkan ketegangan di platformnya.

Hal itu dinilai bisa efektif karena Facebook dituding jadi tempat para pendukung Trump menyulut amarah, hingga mendulang keterlibatan banyak pihak.

Dikutip dari Tech Story, dengan adanya perbaruan fitur feed politik, Facebook mengakui bahwa perubahan tersebut dapat merugikan publisher.

"Saat kami mendapatkan lebih banyak masukan dari tes ini, kami akan membagikan pembaruan tentang apa yang kami pelajari dan akan terus membuat perubahan yang sesuai," tulis Facebook dalam posting blog seperti dikutip Engadget.

(can/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK