Peneliti Temukan Tembakau Tertua, Usia 12 Ribu Tahun

CNN Indonesia
Senin, 18 Oct 2021 09:42 WIB
Ahli menyebut manusia telah memanfaatkan tembakau sejak 12 ribu tahun lalu berdasarkan bukti temuan tertua. Ahli menyebut manusia telah memanfaatkan tembakau sejak 12 ribu tahun lalu berdasarkan bukti temuan tertua. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti temukan bukti bahwa manusia telah memanfaatkan tembakau pada 12.300 hingga 9.000 tahun yang lalu ketika
masa berburu dan meramu di Amerika Utara.

Temuan ini menunjukkan tembakau ternyata sudah dimanfaatkan jauh dari catatan sebelumnya. Saat ini penggunaan tembakau cukup luas di seluruh dunia. Hal tersebut dimulai saat kontak antara penjelajah Eropa dan masyarakat asli di Amerika Utara pada abad ke lima belas. Namun peneliti memperdebatkan kapan dan bagaimana tanaman tembakau (Nicotiana spp.) pertama kali digunakan.

Daron Duke dan koleganya di Grup Peneliti Antropolog Far Western di Davis, California telah mengungkap bukti tertua penggunaan tembakau pada pemukiman pemburu-peramu di gurun pasir barat Utah. Mereka menerbitkan penemuan ini pada 11 Oktober dalam 'Nature Human Behaviour.'


Lokasi penelitian terletak di sepanjang aliran sungai prasejarah yang telah mengering bernama The Old River Bed, yang terdapat pemukiman pada 13.000 hingga 9.000 yang lalu.

Kemudian ketika menggali situs bersejarah tersebut yang berada di antara fasilitas tes dan latihan Angkatan Udara Amerika, tim peneliti menemukan sebuah perapian kuno berisikan empat biji tanaman tembakau yang terbakar.

Selanjutnya peneliti menggunakan penanggalan radiokarbon untuk menentukan usia dari perapian dan isi yang terdapat di dalamnya.

Tembakau yang terdapat dalam perapian tersebut terlalu kecil dan rapuh untuk dilakukan proses penanggalan, namun tim peneliti memastikan bahwa bagian material kayu lain yang terbakar di dalam perapian berumur sekitar 12.300 tahun, sehingga benih yang hangus diasumsikan berumur sama.

Dilansir dari Nature, meski peneliti tidak bisa menentukan secara pasti bagaimana tembakau tersebut digunakan, fakta biji tembakau yang jadi satu-satunya bagian yang tersisa dari pembakaran menunjukkan bahwa daun dan batang-bagian yang memberi efek racun-telah dikonsumsi.

Kemudian biji yang sangat kecil dan mudah tersangkut bisa saja tersangkut pada bagian lengket tanaman saat bagian bunga tanaman ini dipetik.

"Orang pada zaman Pleistosen kerap merokok tembakau atau mengunyah tembakau dengan cara yang sama dengan hari ini," ucap Jaime Kennedy, seorang Arkeolog dari Universitas Oregon di Eugene, Amerika Serikat.

Dilansir dari CNN, tim peneliti meyusun kemungkinan penyebab alami yang membuat biji-biji tersebut bisa berakhir di perapian, seperti melalui isian perut bebek dan unggas air lain yang ditemukan pada situs penggalian, atau sebagai hasil dari penggunaan tanaman tembakau sebagai bahan bakar.

Duke mengatakan kedua skenario kurang memungkinkan, pasalnya tanaman tembakau beracun dan tidak dimakan oleh burung atau binatang.

Kemudian tembakau tidak tumbuh di dataran basah, sehingga tembakau itu pasti dibawa dari suatu tempat. Dan juga tembakau tidak mempunyai banyak bagian kayu sehingga kurang memungkinkan untuk menghasilkan api yang layak.

(lnn/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER