Arca Perunggu-Perhiasan Emas Miliaran Rupiah Ditemukan di Sungai Musi
CNN Indonesia
Rabu, 27 Okt 2021 16:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kolektor mengaku berhasil mengumpulkan perhiasan emas hingga arca perunggu dengan nilai total miliaran rupiah hasil pencarian di Sungai Musi. (CNNIndonesia/koleksi Musi Treasure Gallery)
Palembang, CNN Indonesia --
Kolektor barang kuno mengaku berhasil mengumpulkan harta karun berupa temuan berbagai benda bersejarah dari Sungai Musi peninggalan Kerajaan Sriwijaya dengan nilai total hingga miliaran rupiah.
Pencarian harta karun atau benda kuno peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi memang menjadi profesi tersendiri yang dilakukan oleh warga hingga saat ini.
Kegiatan ini telah dilakukan jauh sebelum peneliti Inggris mengungkap adanya temuan benda bersejarah yang diduga peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya di sungai Musi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asmadi (26) merupakan salah satu kolektor dan mantan penyelam warga Pulau Kemaro, Palembang. Pulau Kemaro merupakan sebuah delta kecil dengan luas 79 hektar yang dikelilingi oleh perairan Sungai Musi, berlokasi 6 kilometer di timur laut dari pusat Kota Palembang. Dia merupakan salah satu penyelam yang telah memiliki koleksi barang antik berharga, yang sebagian besar berbahan emas dan perunggu.
Barang-barang yang ditemukan Asmadi selama masa aktifnya menyelam pada 2018-2019 berupa koin-koin kuno asal China pada masa Dinasti Song hingga Yuan, keramik, manik-manik emas, cincin emas, gelang, kalung emas, serta arca berbahan perunggu. Hingga akhirnya pada akhir 2019 dirinya memutuskan pensiun sebagai penyelam dan fokus menjadi kolektor barang antik.
Sekitar 70 persen dari total jumlah penduduk Pulau Kemaro, ungkap Asmadi, merupakan penyelam yang menggantungkan ekonomi keluarganya dari hasil mencari barang kuno berharga untuk dijual.
Selain temuannya sendiri, koleksi Asmadi yang disimpan di Musi Treasure Gallery, galeri barang antik miliknya sendiri, merupakan hasil membeli dari penyelam Sungai Musi lainnya. Bila ditotal, koleksi benda kuno berbahan perunggu dan emas milik Asmadi bisa mencapai miliaran rupiah, belum termasuk nilai bersejarah dan kelangkaannya yang tidak bisa dinilai oleh rupiah.
Beberapa koleksi Asmadi diantaranya arca perunggu Bodhisattva yang duduk di atas singgasana, Avalokitesvara bertangan empat namun patah setengah badan, serta Buddha Maitreya. Cincin koleksinya pun cukup banyak. Beberapa diantaranya memiliki simbol agama Buddha dan bermata permata. Mata permata batu carnelian berwarna kecoklatan, batu kinyang, safir, rubi, dan zamrud.
Awal marak penyelam harta karun Sungai Musi
Awal mula maraknya aktivitas penyelam Sungai Musi tidak terlepas dari tahun 1990-an, warga mencari balok kayu dan besi bekas di dasar sungai yang terjatuh dari kapal pengangkut barang. Sejak dahulu pun barang-barang kuno sudah mulai ditemukan. Warga zaman dulu tidak mengetahui nilainya sehingga tidak banyak dikoleksi atau dijual kembali.
Namun sejak balok kayu dan besi bekas semakin sulit didapatkan, warga pun mulai mengetahui bahwa barang kuno tersebut bisa dijual mahal, ditambah semakin banyak orang yang ingin membeli barang tersebut, lama kelamaan fokus penyelaman mereka berganti menjadi pemburu harta karun.
Asmadi mulai menjajal jadi penyelam harta karun saat pada pertengahan 2017. Dirinya kagum dengan cara para penyelam yang sudah dikenalnya sejak kecil, berhasil meraih kekayaan dengan cara menjual barang kuno yang ditemukan di dasar Sungai Musi. Asmadi yang saat itu masih berkuliah dan bekerja sambilan sebagai karyawan jasa area parkir, mulai belajar dan menekuni profesi penyelam harta karun.
Awalnya Asmadi hanya satu pekan sekali mencoba menyelam, sambil belajar kepada penyelam yang sudah senior untuk memahami teori dan teknik menyelam. Setelah beberapa saat belajar, dirinya memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus menjadi penyelam pada awal 2018.
"Saya mulai berhenti bekerja setelah merasakan menjual barang kuno hasil menyelam ini hasilnya lebih bagus daripada bekerja. Akhirnya setelah lulus kuliah, berhenti bekerja, saya mendalami profesi baru saya ini," ujar lulusan Universitas Stisipol Candradimuka Palembang Jurusan Administrasi Negara ini kepada CNNIndonesia.com.
Cara penyelam Sungai Musi beraksi
Sejak kecil, Asmadi mengaku memang tertarik dengan sejarah, terutama tentang Kerajaan Sriwijaya yang dulu berpusat di Palembang. Setelah berprofesi sebagai pencari harta karun, Asmadi semakin mendalami ketertarikannya tersebut untuk mengetahui barang-barang yang ditemuinya di bawah dasar permukaan Sungai Musi.
Dirinya banyak membaca buku, literatur, dan referensi lainnya untuk mengetahui identitas dan asal-muasal barang kuno yang ditemukan. Mencari referensi pun dilakukan untuk mengetahui nilai sejarah dan ekonomis barang kuno tersebut agar bisa menentukan harga jual yang lebih baik.
Asmadi dan penyelam lainnya di Sungai Musi pun menggunakan pompa air untuk menyedot pasir dari dasar sungai untuk kemudian mencari barang-barang berharga yang terkubur di dalamnya. Bahkan dari dasar permukaan, tak jarang para penyelam menggali dan menyedot pasir hingga kedalaman 35 meter untuk mendapatkan barang kuno yang usianya sangat tua.
Hingga saat ini, masih terdapat 30-40 kapal aktif pencari barang antik di sepanjang aliran Sungai Musi di Palembang. Setiap kapal berisi satu tim dengan 4-5 orang yang bekerja sama. Sebanyak 2-3 orang berperan sebagai penyelam, sisanya berjaga di atas kapal sambil menyaring pasir yang dihisap untuk mencari barang berharga di dalamnya.
Meskipun secara kuantitas jumlah temuan barang-barang antik dari Sungai Musi tidak sebanyak temuan di tahun-tahun sebelumnya, namun masih ada yang bisa dijual dengan harga tinggi. Hingga saat ini para penyelam masih bisa bertahan hidup menggantungkan ekonomi keluarganya dengan setiap hari menyelam di Sungai Musi.
Palembang, CNN Indonesia --
Kolektor barang kuno mengaku berhasil mengumpulkan harta karun berupa temuan berbagai benda bersejarah dari Sungai Musi peninggalan Kerajaan Sriwijaya dengan nilai total hingga miliaran rupiah.
Pencarian harta karun atau benda kuno peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi memang menjadi profesi tersendiri yang dilakukan oleh warga hingga saat ini.
Kegiatan ini telah dilakukan jauh sebelum peneliti Inggris mengungkap adanya temuan benda bersejarah yang diduga peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya di sungai Musi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asmadi (26) merupakan salah satu kolektor dan mantan penyelam warga Pulau Kemaro, Palembang. Pulau Kemaro merupakan sebuah delta kecil dengan luas 79 hektar yang dikelilingi oleh perairan Sungai Musi, berlokasi 6 kilometer di timur laut dari pusat Kota Palembang. Dia merupakan salah satu penyelam yang telah memiliki koleksi barang antik berharga, yang sebagian besar berbahan emas dan perunggu.
Barang-barang yang ditemukan Asmadi selama masa aktifnya menyelam pada 2018-2019 berupa koin-koin kuno asal China pada masa Dinasti Song hingga Yuan, keramik, manik-manik emas, cincin emas, gelang, kalung emas, serta arca berbahan perunggu. Hingga akhirnya pada akhir 2019 dirinya memutuskan pensiun sebagai penyelam dan fokus menjadi kolektor barang antik.
Sekitar 70 persen dari total jumlah penduduk Pulau Kemaro, ungkap Asmadi, merupakan penyelam yang menggantungkan ekonomi keluarganya dari hasil mencari barang kuno berharga untuk dijual.
Selain temuannya sendiri, koleksi Asmadi yang disimpan di Musi Treasure Gallery, galeri barang antik miliknya sendiri, merupakan hasil membeli dari penyelam Sungai Musi lainnya. Bila ditotal, koleksi benda kuno berbahan perunggu dan emas milik Asmadi bisa mencapai miliaran rupiah, belum termasuk nilai bersejarah dan kelangkaannya yang tidak bisa dinilai oleh rupiah.
Beberapa koleksi Asmadi diantaranya arca perunggu Bodhisattva yang duduk di atas singgasana, Avalokitesvara bertangan empat namun patah setengah badan, serta Buddha Maitreya. Cincin koleksinya pun cukup banyak. Beberapa diantaranya memiliki simbol agama Buddha dan bermata permata. Mata permata batu carnelian berwarna kecoklatan, batu kinyang, safir, rubi, dan zamrud.
Awal marak penyelam harta karun Sungai Musi
Awal mula maraknya aktivitas penyelam Sungai Musi tidak terlepas dari tahun 1990-an, warga mencari balok kayu dan besi bekas di dasar sungai yang terjatuh dari kapal pengangkut barang. Sejak dahulu pun barang-barang kuno sudah mulai ditemukan. Warga zaman dulu tidak mengetahui nilainya sehingga tidak banyak dikoleksi atau dijual kembali.
Namun sejak balok kayu dan besi bekas semakin sulit didapatkan, warga pun mulai mengetahui bahwa barang kuno tersebut bisa dijual mahal, ditambah semakin banyak orang yang ingin membeli barang tersebut, lama kelamaan fokus penyelaman mereka berganti menjadi pemburu harta karun.
Cara Penyelam Sungai Musi Beraksi Temukan Harta Karun
Kolektor mengaku berhasil mengumpulkan perhiasan emas hingga arca perunggu dengan nilai total miliaran rupiah hasil pencarian di Sungai Musi. (cnnindonesia/koleksi Musi Treasure Gallery)
Asmadi mulai menjajal jadi penyelam harta karun saat pada pertengahan 2017. Dirinya kagum dengan cara para penyelam yang sudah dikenalnya sejak kecil, berhasil meraih kekayaan dengan cara menjual barang kuno yang ditemukan di dasar Sungai Musi. Asmadi yang saat itu masih berkuliah dan bekerja sambilan sebagai karyawan jasa area parkir, mulai belajar dan menekuni profesi penyelam harta karun.
Awalnya Asmadi hanya satu pekan sekali mencoba menyelam, sambil belajar kepada penyelam yang sudah senior untuk memahami teori dan teknik menyelam. Setelah beberapa saat belajar, dirinya memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus menjadi penyelam pada awal 2018.
"Saya mulai berhenti bekerja setelah merasakan menjual barang kuno hasil menyelam ini hasilnya lebih bagus daripada bekerja. Akhirnya setelah lulus kuliah, berhenti bekerja, saya mendalami profesi baru saya ini," ujar lulusan Universitas Stisipol Candradimuka Palembang Jurusan Administrasi Negara ini kepada CNNIndonesia.com.
Cara penyelam Sungai Musi beraksi
Sejak kecil, Asmadi mengaku memang tertarik dengan sejarah, terutama tentang Kerajaan Sriwijaya yang dulu berpusat di Palembang. Setelah berprofesi sebagai pencari harta karun, Asmadi semakin mendalami ketertarikannya tersebut untuk mengetahui barang-barang yang ditemuinya di bawah dasar permukaan Sungai Musi.
Dirinya banyak membaca buku, literatur, dan referensi lainnya untuk mengetahui identitas dan asal-muasal barang kuno yang ditemukan. Mencari referensi pun dilakukan untuk mengetahui nilai sejarah dan ekonomis barang kuno tersebut agar bisa menentukan harga jual yang lebih baik.
Asmadi dan penyelam lainnya di Sungai Musi pun menggunakan pompa air untuk menyedot pasir dari dasar sungai untuk kemudian mencari barang-barang berharga yang terkubur di dalamnya. Bahkan dari dasar permukaan, tak jarang para penyelam menggali dan menyedot pasir hingga kedalaman 35 meter untuk mendapatkan barang kuno yang usianya sangat tua.
Hingga saat ini, masih terdapat 30-40 kapal aktif pencari barang antik di sepanjang aliran Sungai Musi di Palembang. Setiap kapal berisi satu tim dengan 4-5 orang yang bekerja sama. Sebanyak 2-3 orang berperan sebagai penyelam, sisanya berjaga di atas kapal sambil menyaring pasir yang dihisap untuk mencari barang berharga di dalamnya.
Meskipun secara kuantitas jumlah temuan barang-barang antik dari Sungai Musi tidak sebanyak temuan di tahun-tahun sebelumnya, namun masih ada yang bisa dijual dengan harga tinggi. Hingga saat ini para penyelam masih bisa bertahan hidup menggantungkan ekonomi keluarganya dengan setiap hari menyelam di Sungai Musi.