Fakta-fakta Waterspout, Fenomena Alam yang Viral di Bali

CNN Indonesia
Jumat, 12 Nov 2021 06:30 WIB
Fakta-fakta Waterspout, Fenomena Alam yang Viral di Bali
Waterspout kerap dikira sebagai angin puting beliung yang bertiup di atas permukaan air, namun kenyataannya berbeda. (Foto: iStockphoto/koto_feja)

Fakta seputar waterspout

Berikut beberapa ringkasan mengenai fenomena alam waterspout:

1. Bukan air laut

Sejak lama peneliti menganggap air yang berada dalam putaran waterspout adalah air laut. Namun studi terkini menyatakan air yang mengapung dan membentuk waterspout merupakan kandungan air yang berasal dari awan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Air yang berkumpul dan terkondensasi menjadi awan berputar-putar dan membentuk waterspout.

2. Kecepatan angin

Sebuah waterspout rata-rata berdiameter sekitar 50 meter dan angin yang berada di sekitarnya akan bergerak dengan kecepatan rata-rata sekitar 50 mil atau 80 kilometer per jam.

Kecepatan ini dapat menjelaskan kapasitas destruktif mereka yang rendah karena kecepatan angin tidak cukup tinggi untuk mengumpulkan terlalu banyak massa.

Namun pada beberapa kasus kecepatan angin bisa mencapai 240 kilometer per jam, dan diameterinya membesar sampai sekitar 100 meter.

Sebuah waterspout kemungkinan besar akan tetap berada di atas air dan biasanya tidak membahayakan pelaut.

3. waterspout pertama

Fenomena alam waterspout telah terjadi sejak lama, meski penelitiannya baru diungkap baru-baru ini. Pada masa itu, fenomena ini membawa misteri dan ketakutan.

Dilansir dari Marine Insight, catatan mengenai fenomena waterspout tertua terjadi pada 1456 di wilayah laut dekat Ancona, Italia. waterspout pertama tersebut terjadi tepatnya pada 24 Agustus dan bergerak dari timur ke barat sebelum mencapai wilayah perairan Pisa.

Menurut catatan tersebut, lebar dari waterspout saat itu mencapai lebih dari 3 kilometer. Meski demikian, catatan mengenai waterspout tidak banyak menunjukkan korban jiwa.

Namun pernah tercatat pada 1555, sebuah fenomena waterspout membuat kerusakan di Grand Harbour Valetta, Malta dan mengakibatkan hilangnya nyawa ratusan orang dan menenggelamkan empat galangan kapal.

(lnn/fjr)


[Gambas:Video CNN]
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena waterspout yang kerap terjadi pada musim pancaroba seringkali dianggap sama seperti puting beliung. Padahal kedua fenomena alam ini sama sekali berbeda, meskipun terlihat mirip.

Sebelumnya video viral fenomena waterspout di wilayah perairan Bali tersebar luas di jagat maya.

Fenomena yang dianggap sebagian publik sebagai puting beliung ini diluruskan oleh Koordinator Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Bali, Dwi Hartanto sebagai fenomena waterspout.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iya, itu fenomena waterspout, yang muncul di laut. Biasanya muncul pada musim pancaroba dan musim hujan," kata Dwi, saat dihubungi Kamis (11/11) malam.

[Gambas:Instagram]

Apa beda waterspout dan puting beliung?

Peneliti Klimatologi pada Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer-BRIN, Erma Yulihastin menjelaskan waterspout hanya terjadi ketika ada kontak angin dengan air.

Skala angin ini pun mikro, sehingga fenomena ini hanya dapat terjadi di atas danau, tambak, sungai, bendungan, dan lain-lain.

Sementara puting beliung memiliki kecepatan angin dan dampak kerusakan pada kisaran di bawah skala F-2 (Skala Fujita-2, menurut ahli tornado keturunan Jepang Tetsuya Fujita dari Universitas Chicago).

"Dengan demikian, puting beliung memiliki lintasan kurang dari satu kilometer dengan durasi hidup di bawah satu jam," jelasnya dalam situs resmi LAPAN.

Kemudian Erma menjelaskan bahwa ciri waterspout secara visual dapat dikenali dari bentuknya yang seperti suatu belalai atau corong pipa panjang dan terlihat turun dari awan jenis cumuluscongestus atau cumulonimbus.

"Kejadian ini tak hanya langka tapi juga termasuk cuaca ekstrem karena menggambarkan badai super sel pada skala ruang yang mikro (puluhan meter)," kata Erma.

Erma menambahkan, sangat sedikit ditemui waterspout yang dapat bertahan lama atau bahkan berpindah dari air menuju darat.

Kelembapan atau uap air yang dihasilkan oleh suatu permukaan air cenderung memiliki karakteristik yang khas, maka waterspout yang pernah terbentuk di suatu area, memiliki potensi besar dapat terjadi lagi di wilayah tersebut.

Simak fakta-fakta waterspout di halaman berikutnya..

Berapa Diameternya? Berbahaya?

Waterspout kerap dikira sebagai angin puting beliung yang bertiup di atas permukaan air, namun kenyataannya berbeda. (Foto: iStockphoto/koto_feja)

Fakta seputar waterspout

Berikut beberapa ringkasan mengenai fenomena alam waterspout:

1. Bukan air laut

Sejak lama peneliti menganggap air yang berada dalam putaran waterspout adalah air laut. Namun studi terkini menyatakan air yang mengapung dan membentuk waterspout merupakan kandungan air yang berasal dari awan.

Air yang berkumpul dan terkondensasi menjadi awan berputar-putar dan membentuk waterspout.

2. Kecepatan angin

Sebuah waterspout rata-rata berdiameter sekitar 50 meter dan angin yang berada di sekitarnya akan bergerak dengan kecepatan rata-rata sekitar 50 mil atau 80 kilometer per jam.

Kecepatan ini dapat menjelaskan kapasitas destruktif mereka yang rendah karena kecepatan angin tidak cukup tinggi untuk mengumpulkan terlalu banyak massa.

Namun pada beberapa kasus kecepatan angin bisa mencapai 240 kilometer per jam, dan diameterinya membesar sampai sekitar 100 meter.

Sebuah waterspout kemungkinan besar akan tetap berada di atas air dan biasanya tidak membahayakan pelaut.

[Gambas:Infografis CNN]

3. waterspout pertama

Fenomena alam waterspout telah terjadi sejak lama, meski penelitiannya baru diungkap baru-baru ini. Pada masa itu, fenomena ini membawa misteri dan ketakutan.

Dilansir dari Marine Insight, catatan mengenai fenomena waterspout tertua terjadi pada 1456 di wilayah laut dekat Ancona, Italia. waterspout pertama tersebut terjadi tepatnya pada 24 Agustus dan bergerak dari timur ke barat sebelum mencapai wilayah perairan Pisa.

Menurut catatan tersebut, lebar dari waterspout saat itu mencapai lebih dari 3 kilometer. Meski demikian, catatan mengenai waterspout tidak banyak menunjukkan korban jiwa.

Namun pernah tercatat pada 1555, sebuah fenomena waterspout membuat kerusakan di Grand Harbour Valetta, Malta dan mengakibatkan hilangnya nyawa ratusan orang dan menenggelamkan empat galangan kapal.


HALAMAN:
1 2