Alasan Banjir Bandang Terjang Kota Batu saat Belum Puncak Musim Hujan
CNN Indonesia
Senin, 15 Nov 2021 12:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. BMKG mengungkap sejumlah alasan banjir bandang bisa terjang Kota Batu saat Malang belum capai puncak musim hujan. (CNN IndonesiaAdhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ungkapkan sejumlah alasan mengapa banjir bandang menerjang Kota Batu padahal curah hujan Malang masih normal dan belum mencapai puncak musim hujan.
Berdasarkan pengamatan satelit cuaca sebelum kejadian banjir oleh BMKG, awan hujan telah terbentuk cukup masif di wilayah Jawa Timur bagian selatan sejak akhir Oktober lalu. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dalam durasi yang tidak cukup lama atau kurang dari 3 jam telah mengguyur Kota Batu dan sekitarnya dalam beberapa hari ke belakang.
Bahkan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya secara umum jumlah curah hujan di Jawa Timur pada November 2021 justru relatif lebih rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hujan lebat yang terjadi pada bulan November ini masih dalam kategori normal," kata Idhan Abu Bakar, Weatherman dalam keterangan yang disiarkan dalam channel YouTube BMKG, Jumat (12/11).
Meski demikian, menurut BMKG ketika terjadi banjir bandang, umumnya sebelum kejadian akan didahului dengan hujan lebat di hari sebelumnya. Hujan di hari sebelumnya ini akan membuat tanah lebih basah dan apabila kapasitas tanah dalam menyerap air permukaan sudah mencapai kondisi maksimum atau sudah jenuh. Maka genangan akan muncul di permukaan.
Jika permukaan tanah tersebut miring, maka air akan mengalir bahkan memicu longsor jika kemiringan tanah terlalu curam. Aliran air ini jika terjadi dalam skala besar maka akan disebut aliran banjir.
"Banjir bandang adalah kejadian berikutnya (lanjutan) dari kejadian longsor dengan kecepatan aliran yang sangat tinggi. Yang bahkan dapat mencapai kecepatan hingga 160 kilometer per jam," kata Idhar.
Sebelumnya, banjir bandang menerjang Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur hingga Kamis (4/11) sore.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menjelaskan salah satu penyebab terjadinya banjir bandang di Kota Batu, Jawa Timur, adalah hancurnya bendung alam akibat tingginya debit air dari hulu.
Bendung alam ini terbentuk oleh longsor-longsor kecil dari sisi tebing yang tidak dilindungi vegetasi berakar kuat. Masalah lain yang memperparah dampak banjir bandang adalah banyaknya kebun-kebun semusim di lereng tebing sungai yang berpotensi longsor jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Idhan menjelaskan setidaknya ada empat hal yang jadi penyebab banjir bandang. Masalah utama tentu terkait curah hujan dan tiga komponen lain terkait kondisi tanah
Berikut kondisi tanah yang mempengaruhi potensi banjir bandang.
1. Kelembaban tanah
Pertama terkait dengan kelembaban tanah yang berkaitan dengan hujan yang mengguyur permukaan tanah, sehingga ketika tanah tidak mampu lagi menyimpan air di permukaan, maka air tersebut akan menjadi air limpasan yang mengalir di permukaan tanah.
2. Jenis tanah
Kedua masalah jenis tanah yang akan berpengaruh pada daya serap air hujan. Apabila tanah yang diguyur hujan merupakan jenis tanah yang memiliki rongga antar partikel yang semakin besar maka daya serapnya akan semakin besar juga. Sebaliknya, jika rongga antar partikel semakin sempit maka tanah akan lebih sulit untuk menyerap air.
3. Profil tanah
Komponen yang ketiga adalah profil tanah berkaitan dengan lapisan tanah dalam penampang vertikal. Jika di bawah permukaan tanah terdapat lapisan batu yang tidak tembus air atau biasa disebut backdrop. Selain itu, semakin dalam keberadaan lapisan backdrop maka tanah akan mampu menyimpan air yang lebih banyak.
Lebih lanjut, untuk menghadapi musim hujan, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun selalu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir khususnya bagi masyarakat yang tinggal dan berada di daerah rawan bencana hidrometeorologi.
Untuk mengantisipasi, masyarakat dapat perlu memperhatikan penataan lingkungan dan resapan air di wilayah sekitar tempat tinggal.
"Penataan lingkungan sekitar tempat tinggal dan resapan air penting untuk memastikan resapan air tetap terjaga dengan baik terutama pada wilayah yang mengalami curah hujan tinggi," kata Idhar.
Selain itu, membersihkan dan merapikan wilayah bantaran sungai dari sampah, memperkuat tanggul sungai yang sudah mulai longgar serta melakukan penebangan ranting dan batang pohon yang sudah tua atau lapuk di taman kota dan di sepanjang jalan juga perlu dilakukan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ungkapkan sejumlah alasan mengapa banjir bandang menerjang Kota Batu padahal curah hujan Malang masih normal dan belum mencapai puncak musim hujan.
Berdasarkan pengamatan satelit cuaca sebelum kejadian banjir oleh BMKG, awan hujan telah terbentuk cukup masif di wilayah Jawa Timur bagian selatan sejak akhir Oktober lalu. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dalam durasi yang tidak cukup lama atau kurang dari 3 jam telah mengguyur Kota Batu dan sekitarnya dalam beberapa hari ke belakang.
Bahkan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya secara umum jumlah curah hujan di Jawa Timur pada November 2021 justru relatif lebih rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hujan lebat yang terjadi pada bulan November ini masih dalam kategori normal," kata Idhan Abu Bakar, Weatherman dalam keterangan yang disiarkan dalam channel YouTube BMKG, Jumat (12/11).
Meski demikian, menurut BMKG ketika terjadi banjir bandang, umumnya sebelum kejadian akan didahului dengan hujan lebat di hari sebelumnya. Hujan di hari sebelumnya ini akan membuat tanah lebih basah dan apabila kapasitas tanah dalam menyerap air permukaan sudah mencapai kondisi maksimum atau sudah jenuh. Maka genangan akan muncul di permukaan.
Jika permukaan tanah tersebut miring, maka air akan mengalir bahkan memicu longsor jika kemiringan tanah terlalu curam. Aliran air ini jika terjadi dalam skala besar maka akan disebut aliran banjir.
"Banjir bandang adalah kejadian berikutnya (lanjutan) dari kejadian longsor dengan kecepatan aliran yang sangat tinggi. Yang bahkan dapat mencapai kecepatan hingga 160 kilometer per jam," kata Idhar.
Sebelumnya, banjir bandang menerjang Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur hingga Kamis (4/11) sore.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menjelaskan salah satu penyebab terjadinya banjir bandang di Kota Batu, Jawa Timur, adalah hancurnya bendung alam akibat tingginya debit air dari hulu.
Bendung alam ini terbentuk oleh longsor-longsor kecil dari sisi tebing yang tidak dilindungi vegetasi berakar kuat. Masalah lain yang memperparah dampak banjir bandang adalah banyaknya kebun-kebun semusim di lereng tebing sungai yang berpotensi longsor jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Penyebab Banjir Bandang dan Apa yang Harus Dilakukan Warga
BMKG mengungkap sejumlah alasan banjir bandang bisa terjang Kota Batu saat Malang belum capai puncak musim hujan. (ANTARA FOTO/ZABUR KARURU)
Idhan menjelaskan setidaknya ada empat hal yang jadi penyebab banjir bandang. Masalah utama tentu terkait curah hujan dan tiga komponen lain terkait kondisi tanah
Berikut kondisi tanah yang mempengaruhi potensi banjir bandang.
1. Kelembaban tanah
Pertama terkait dengan kelembaban tanah yang berkaitan dengan hujan yang mengguyur permukaan tanah, sehingga ketika tanah tidak mampu lagi menyimpan air di permukaan, maka air tersebut akan menjadi air limpasan yang mengalir di permukaan tanah.
2. Jenis tanah
Kedua masalah jenis tanah yang akan berpengaruh pada daya serap air hujan. Apabila tanah yang diguyur hujan merupakan jenis tanah yang memiliki rongga antar partikel yang semakin besar maka daya serapnya akan semakin besar juga. Sebaliknya, jika rongga antar partikel semakin sempit maka tanah akan lebih sulit untuk menyerap air.
3. Profil tanah
Komponen yang ketiga adalah profil tanah berkaitan dengan lapisan tanah dalam penampang vertikal. Jika di bawah permukaan tanah terdapat lapisan batu yang tidak tembus air atau biasa disebut backdrop. Selain itu, semakin dalam keberadaan lapisan backdrop maka tanah akan mampu menyimpan air yang lebih banyak.
Lebih lanjut, untuk menghadapi musim hujan, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun selalu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir khususnya bagi masyarakat yang tinggal dan berada di daerah rawan bencana hidrometeorologi.
Untuk mengantisipasi, masyarakat dapat perlu memperhatikan penataan lingkungan dan resapan air di wilayah sekitar tempat tinggal.
"Penataan lingkungan sekitar tempat tinggal dan resapan air penting untuk memastikan resapan air tetap terjaga dengan baik terutama pada wilayah yang mengalami curah hujan tinggi," kata Idhar.
Selain itu, membersihkan dan merapikan wilayah bantaran sungai dari sampah, memperkuat tanggul sungai yang sudah mulai longgar serta melakukan penebangan ranting dan batang pohon yang sudah tua atau lapuk di taman kota dan di sepanjang jalan juga perlu dilakukan.