Penjelasan BRIN soal Ancaman 115 Pulau Indonesia Tenggelam
CNN Indonesia
Senin, 29 Nov 2021 18:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Eddy Hermawan memberikan penjelasan soal ancaman tenggelam terhadap 115 pulau di Indonesia. (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Proses permukaan laut naik
Sebagai akibat dari kenaikan permukaan laut, gelombang yang lebih besar akan mendesain ulang garis pantai. Sedimen tanah juga bisa jatuh ke laut, menyebabkan erosi dan banjir di daerah lain yang cepat atau lambat akan menenggelamkan pulau-pulau kecil.
Studi menemukan Pulau Rondo, yang terletak di bagian barat Selat Malaka di provinsi Aceh, kehilangan 1.856 meter persegi tanah setiap tahun dari 1993 hingga 2009 karena kenaikan permukaan laut tahunan yang mencapai 1,30 mm per tahun.
Pulau Berhala yang terletak di bagian timur Selat Malaka di Provinsi Riau mencatat tren yang lebih tinggi (sekitar 3,46 mm/tahun). Begitu juga Pulau Nipah, yang dekat dengan Singapura, yang mengalami kenaikan tahunan 3,48 mm.
Kenaikan ini mengurangi luas kedua pulau masing-masing sebesar 3.178m persegi dan 3.409m persegi (sekitar setengah ukuran lapangan sepak bola profesional) per tahun, dari 1993 hingga 2009.
Hasil studi sementara yang belum diterbitkan oleh tim peneliti dari Departemen Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Jawa Barat menemukan luas lima pulau terpencil di Indonesia telah menyusut. Lebih dari satu dekade, pengurangan lahan ini berkisar dari 0,005km persegi hingga 0,09km persegi atau hampir sama dengan 13 lapangan sepak bola.
Perubahan diperkirakan dengan menggunakan analisis piksel dari beberapa foto satelit. Gambar ini diubah menjadi poligon titik terhubung yang kemudian dihitung dengan kalkulator lapangan.
Hasilnay ditemukan bahwa Pulau Miangas (3,2km persegi), yang terletak di dekat perbatasan Indonesia dan Filipina, telah kehilangan 0,02 persen luasnya (sekitar 0,00064km persegi/tahun) sejak tahun 2004.
Nasib yang sama dihadapi Pulau Sekatung (1,65km persegi) di Provinsi Kepulauan Riau, yang mengalami kerugian sebesar 0,66 persen dari luas (0,018989km persegi) per tahun. Sejak 2004, Pulau Berhala juga kehilangan luas 0,002km²/tahun.
Pulau-pulau di Indonesia bagian timur menghadapi risiko yang sama. Sebagai contoh, di kawasan utara Teluk Cenderawasih di Papua, Pulau Workbondi yang luasnya 1,62km persegi atau dua kali lebih besar dari Kota Terlarang China mengalami penurunan luas 0,004km persegi/tahun.
Pulau Candikian dan Pulau Gosong, keduanya di Laut Jawa bagian selatan, nyaris tenggelam, hanya tersisa beberapa meter persegi tanah, dengan ketinggian tidak lebih dari dua meter di atas permukaan laut.
Sementara itu, luas Pulau Biawak yang terletak di laut yang sama telah menyusut setengah ukuran Kota Vatikan (0,22km persegi) setiap tahunnya. Kami memprediksi pulau ini akan tenggelam saat kenaikan permukaan laut mencapai 0,5 meter.
Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Eddy Hermawan memberikan penjelasan soal ancaman tenggelam terhadap 115 pulau kecil di Indonesia.
Eddy mengatakan ancaman tenggelam terhadap 115 pulau itu disebabkan oleh kenaikan air laut akibat perubahan iklim dan penurunan muka tanah.
Ia menjelaskan skenario jika emisi gas naik yang akan menyebabkan peningkatan suhu pada permukaan bumi yang salah satu indikasinya adalah mencairnya kutub-kutub es.
"Dari situ muncul perkiraan bakal ada sekitar 115 pulau di Indonesia yang terancam tenggelam pada 2100. Kawasan yang akan kena ini pulau-pulau kecil, termasuk Bali," kata Eddy kepada CNNIndonesia.com.
"Kalau ini terjadi [pula-pulau kecil tenggelam], akan terjadi eksodus besar-besaran. Tapi, laju kenaikan ini sangat kecil yakni 3 mm per tahun dari tinggi muka laut," imbuhnya.
Di sisi lain, Eddy justru tidak terlalu khawatir dengan ancaman terhadap 115 pulau tersebut karena menganggap masih cukup banyak waktu untuk membuat mitigasi dan pencegahan.
Ia justru lebih khawatir pada ancaman tenggelamnya Jakarta dan Pesisir Pantura Jawa pada 2030 menurut Presiden Amerika Serikat, Joe Biden beberapa waktu lalu.
Menurut Eddy, apa yang disebutkan Biden itu hampir selaras dengan analisa dan perhitungan yang dibuatnya soal ancaman terhadap 115 pulau di Indonesia di tahun 2100.
"Kalau pemakaian air tanah di Jakarta tidak bisa disetop, itu akan lebih mempercepat tenggelamnya Jakarta. Kawasan yang menduduki ranking pertama penggunaan air tanah itu Pekalongan, Semarang dan Jakarta. Tapi ita fokus di Pantura," jelasnya.
Ancaman-ancaman seperti Jakarta tenggelam di 2030 maupun 115 pulau-pulalu kecil di Indonesia termasuk Bali dan Nias yang tenggelam itu disebut Eddy nyata adanya. Pasalnya, dunia termasuk Indonesia tidak mungkin menyetop penggunaan bahan bakar emisi penghasil CO2 atau batu bara sampai kebakaran hutan.
"Sebab itu kita harus upayakan dengan membuat mitigasi supaya kalau itu terjadi kita sudah siap. Bukan hanya tinggi muka laut dan emisi, tapi juga penggunaan air tanah yang amat sangat memprihatinkan terutama di Jakarta.
Sementara itu, dilansir Phys, permukaan laut secara global telah meningkat sekitar 21-24cm secara global sejak tingkat pra-industri sebagai akibat dari pencairan es di Kutub Utara dan Antartika.
Organisasi penelitian dan advokasi Climate Central menghitung bahwa kenaikan satu meter permukaan laut akan membanjiri pantai utara pulau Jawa, salah satu pulau terpadat di dunia. Hal ini karena kemiringan dataran pantai yang rendah, yakni antara 0 dan 20 derajat.
Ancaman ini semakin terlihat, di mana penelitian pada 2011 menunjukkan kenaikan permukaan laut telah menenggelamkan beberapa bagian pulau-pulau kecil.
Lanjut ke halaman berikutnya..
Proses Permukaan Laut Naik dan Pulau Tenggelam
Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Eddy Hermawan memberikan penjelasan soal ancaman tenggelam terhadap 115 pulau di Indonesia. (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Proses permukaan laut naik
Sebagai akibat dari kenaikan permukaan laut, gelombang yang lebih besar akan mendesain ulang garis pantai. Sedimen tanah juga bisa jatuh ke laut, menyebabkan erosi dan banjir di daerah lain yang cepat atau lambat akan menenggelamkan pulau-pulau kecil.
Studi menemukan Pulau Rondo, yang terletak di bagian barat Selat Malaka di provinsi Aceh, kehilangan 1.856 meter persegi tanah setiap tahun dari 1993 hingga 2009 karena kenaikan permukaan laut tahunan yang mencapai 1,30 mm per tahun.
Pulau Berhala yang terletak di bagian timur Selat Malaka di Provinsi Riau mencatat tren yang lebih tinggi (sekitar 3,46 mm/tahun). Begitu juga Pulau Nipah, yang dekat dengan Singapura, yang mengalami kenaikan tahunan 3,48 mm.
Kenaikan ini mengurangi luas kedua pulau masing-masing sebesar 3.178m persegi dan 3.409m persegi (sekitar setengah ukuran lapangan sepak bola profesional) per tahun, dari 1993 hingga 2009.
Hasil studi sementara yang belum diterbitkan oleh tim peneliti dari Departemen Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Jawa Barat menemukan luas lima pulau terpencil di Indonesia telah menyusut. Lebih dari satu dekade, pengurangan lahan ini berkisar dari 0,005km persegi hingga 0,09km persegi atau hampir sama dengan 13 lapangan sepak bola.
Perubahan diperkirakan dengan menggunakan analisis piksel dari beberapa foto satelit. Gambar ini diubah menjadi poligon titik terhubung yang kemudian dihitung dengan kalkulator lapangan.
Hasilnay ditemukan bahwa Pulau Miangas (3,2km persegi), yang terletak di dekat perbatasan Indonesia dan Filipina, telah kehilangan 0,02 persen luasnya (sekitar 0,00064km persegi/tahun) sejak tahun 2004.
Nasib yang sama dihadapi Pulau Sekatung (1,65km persegi) di Provinsi Kepulauan Riau, yang mengalami kerugian sebesar 0,66 persen dari luas (0,018989km persegi) per tahun. Sejak 2004, Pulau Berhala juga kehilangan luas 0,002km²/tahun.
Pulau-pulau di Indonesia bagian timur menghadapi risiko yang sama. Sebagai contoh, di kawasan utara Teluk Cenderawasih di Papua, Pulau Workbondi yang luasnya 1,62km persegi atau dua kali lebih besar dari Kota Terlarang China mengalami penurunan luas 0,004km persegi/tahun.
Pulau Candikian dan Pulau Gosong, keduanya di Laut Jawa bagian selatan, nyaris tenggelam, hanya tersisa beberapa meter persegi tanah, dengan ketinggian tidak lebih dari dua meter di atas permukaan laut.
Sementara itu, luas Pulau Biawak yang terletak di laut yang sama telah menyusut setengah ukuran Kota Vatikan (0,22km persegi) setiap tahunnya. Kami memprediksi pulau ini akan tenggelam saat kenaikan permukaan laut mencapai 0,5 meter.