Studi Terbaru Sebut Dampak Omicron Lebih Ringan dari Delta

CNN Indonesia
Minggu, 02 Jan 2022 05:07 WIB
Covid-19 varian Omicron disebut sebagai varian dominan pertama yang menunjukkan penurunan tingkat keparahan Covid-19. Ilustrasi varian Covid-19 Omicron. (REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi baru tentang kasus Covid-19 di wilayah Ontario, Kanada baru-baru ini menunjukkan bahwa varian Omicron cenderung menyebabkan penyakit lebih ringan daripada varian Delta.

Studi ini menyebut Omicron menghasilkan kasus rawat inap atau kematian yang lebih sedikit daripada Delta.

Meski demikian Omicron dianggap masih dapat berdampak signifikan pada sistem perawatan kesehatan karena penularanannya yang tinggi.


Studi oleh Public Health Ontario ini muncul ketika negara bagian Kanada tersebut telah menetapkan beberapa catatan pada kasus infeksi Covid-19 harian di wilayahnya, dengan puncak terbaru 13.807 kasus.

Lembaga tersebut mencoba mengidentifikasi 6.314 kasus Omicron yang muncul di antara periode 22 November dan 17 Desember, dan mencocokkannya dengan kasus Delta berdasarkan usia, jenis kelamin, dan waktu mulai infeksi.

Kemudian dari penelitian tersebut ditemukan bahwa setelah penyesuaian status dan wilayah vaksinasi, risiko rawat inap atau kematian pada kasus Omicron adalah 54 persen lebih rendah daripada kasus Delta.

"Omicron tampaknya menjadi varian dominan pertama yang menunjukkan penurunan keparahan penyakit," kata studi tersebut, seperti dikutip dari Global News.

"Sementara tingkat keparahan dapat dikurangi, karena penularan Omicron, jumlah rawat inap dan dampak absolut pada sistem perawatan kesehatan kemungkinan akan signifikan," tambahnya.

Sebagai informasi, beberapa negara bagian di Kanada telah mengalami lonjakan jumlah kasus sebagai akibat dari varian Omicron, di antaranya Ontario dan Quebec.

Dua negara bagian tersebut sama-sama mencapai rekor infeksi baru pada Kamis (30/12) dengan Ontario melaporkan 13.807 kasus baru dan Quebec memiliki 14.188.

Dilansir dari The Globe and Mail, sebuah lembaga penelitian yang melapor kepada pemerintah Quebec mengatakan pemodelannya memprediksi akan ada pertumbuhan signifikan pada pasien rawat inap baru di sejumlah tempat perawatan reguler dan intensif selama tiga minggu ke depan.

Lebih lanjut, Menteri Kesehatan Kanada Christine Elliott mengatakan pada Kamis (30/12), 965 orang dirawat di rumah sakit karena Covid-19, termasuk 200 orang yang dalam perawatan intensif. Penghitungan rata-rata dalam periode tujuh harian mencatat 179 pasien terkait Covid-19 di ICU.

"Data sedang diperbarui untuk membedakan pasien di rumah sakit / ICU untuk COVID-19 dari mereka yang dirawat karena alasan lain tetapi dinyatakan positif," tambah Elliott.

(lnn/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER